
Seperti janjinya, Williams mengantar Alexa ke kampus. Setelah dari ruang administrasi gadis itu kembali menemui Will yang masih berada disana. Di salah satu bangku taman dan sedang menekuni ponselnya.
Lexa dengan senyum cerianya mendekat, meski sudah tak lagi memakai tongkat. Gadis itu masih terlihat sedikit timpang karena menang pergelangan kakinya yang geser memerlukan waktu lama untuk pulih.
Latikan rutin selalu dilakukannya, dokter mengatakan pergeserannya sudah tak separah diawal. Terapi terakhir nanti barulah dokter akan melepas pen kecil yang ditanam di kakinya tersebut untuk melihat apakah kaki Alexa dapat kembali seperti semula.
Dengan menggunakan spatu yang berhak rendah dan celana panjang hitam yang panjangnya diatas mata kaki. Tentu orang lain bisa melihat lilitan perban yang terkadang masih di pasang untuk menjaga pen dari pergeseran karena banyaknya pergerakan. Alexa yang memang di batasi ruang gerak terutama kakinya diingatkan agar selalu berhati-hati karena memang tulang kakinya belumlah sembuh sempurna.
"Sudah?" Will bertanya setelah menaruh ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Sudah, Om. Lexa mengambil kuliah siang, dari jam satu sampai jam 6. Jadi paginya, Lexa masih bisa ikut ke rumah sakit." Gadis itu sangat antusias dengan rencananya.
"Fokus saja dengan kuliahmu. Masalah dirumah sakit sudah ada Dini yang menangani."
"Om nggak suka aku membantu dirumah sakit?"
Cetak
Williams melayangkan jitakan kecil di kening Lexa yang suka bicara asal. Siapa yang menyuruhnya berpikir bahwa Will tak suka jika dirinya merusuh di rumah sakit. Lelaki itu bahkan merasa ada yang kurang jika gadis cantik tersebut tak terlihat oleh matanya walau sebentar.
__ADS_1
"Jangan suka berspekulasi sendiri. Kau ini selalu saja." Omel dokter tampan tersebut seraya meraih jemari Alexa untuk digenggam.
Hampir setahun bersama membuat mereka merasa semakin dekat. Tak pernah ada jarak diantara keduanya. Bahkan untuk beberapa bulan ini dimana ada Williams maka disitu akan ada Alexa yang berada di sisinya.
Tak jarang orang beranggapan bahwa keduanya sepasang kekasih. Begitu pula dengan Bram yang selalu mendesak sahabatnya untuk mengikat Alexa. Namun Will hanya tersenyum menanggapi semuanya.
Panggilan Om yang disematkan gadis tersebut membuatnya selalu teringat dengan gadis calon tunangan yang dipersiapkan Oma Feli kala itu. Dengan mengatakan bahwa dia tua dan tak mau bersanding dengan om-om. Williams ingat betul kala Oma mengatakan bahwa gadis tersebut berumur 19 tahun yang artinya seumuran dengan Alexa. Bahkan panggilan mereka terhadapnya pun sama membuat Williams harus berpikir lagi dan lagi.
Melihat gadis itu tersenyum dan tertawa bahagia saja sudah cukup baginya. Selama gadis itu aman penyakitnya pun tak lagi pernah terasa. Rasa sakit dan berdebar kencang itu seolah hilang dengan melihat gadis yang sedang bergelanyut manja dilengannya tersebut tersenyum.
"Om, boleh mampir ke kedai es krim?" Cicitnya pelan setelah mobil keluar dari parkiran kampus dengan diiringi oleh tatapan iri para mahasiswi yang menatap Williams tanpa kedip.
"Coba saja ada aquarium wajah, pasti wajah om sudah ku sembunyikan disana ketika keluar rumah dan ku ganti dengan wajah doraemon. Mereka menatapnya seolah menatap cake strawberry yang lumer. Menyebalkan!!" Gumamnya kesal sendiri.
"Kamu bicara apa?" Will menoleh karena gumaman Alexa tak begitu jelas didengarnya.
"Cake strawberry."
Will mengernyitkan dahinya, gadis itu tadi memintanya untuk mampir ke kedai es krim namun sekarang malah menyebutkan cake strawberry ketika mobil telah merapat dengan sempurna di depan kedai.
__ADS_1
"Lalu? es krim nya tak jadikah?" Tanyanya menatap Alexa yang belum sepenuhnya tersadar.
"Es krim, Om."
"Turunlah!!"
Alexa mendelik ke arah Williams, lelaki tersebut kembali mengernyit.
"Apa?"
"Om, Lexa kan bilang ingin es krim. Kalau nggak mau anterin bilang kek dari tadi. Kan aku bisa naik taksi ke sana."
Williams menghela nafasnya sebelum menangkup wajah gadis itu.
"Kita sudah sampai, turunlah!! karena es krimnya tak akan datang kesini menemuimu."
Alexa mengernyapkan matanya berulang kali, kemudian perlahan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kemudian menoleh ke arah Williams. Lelaki tersebut telah membuka pintu mobil dan turun. Dengan segera Alexa mengikuti turun. Wajah ceria itu kembali terlihat.
Alexa mendekat ke arah Will dan mencium pipinya sebelum berlari kecil masuk ke dalam kedai. Will yang biasanya akan marah ketika melihat Alexa berjalan tergesa apalagi hingga berlari demikian kali ini hanya terdiam. Ciuman Alexa memberi sesuatu yang lain dalam hatinya hingga senyum itu menular dan terbit di bibir dokter tampan bermata biru tersebut.
__ADS_1