
Hingga menjelang pagi, Williams tak dapat memejamkan matanya meski hanya sebentar. Pikirannya benar-benar kacau ditambah lagi ponsel Alexa yang belum juga bisa dihubunginya hingga saat ini.
"Ya Tuhan. Aku harus bagaimana sekarang?" Gumamnya lirih seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Dokter tampan tersebut benar-benar merasa frustasi hingga otaknya tak mampu lagi diajak untuk berpikir jernih.
Ponselnya berdenting beberapa kali membuat Williams berjengkit seraya meraih benda pipih tersebut secepat kilat. Nafasnya memburu kala membaca notifikasi yang memberitahukan padanya jika ponsel Alexa telah aktif. Bagai ikan yang mendapatkan air, senyum Will terbit meski sangat tipis. Setipis harapannya agar sang kekasih tak lagi merajuk padanya.
.
.
Pesawat yang Alisya tumpangi baru saja mendarat sempurna. Gadis cantik tersebut nampak menguap beberapa kali. Wajar saja, selama perjalanan dirinya tak dapat memejamkan mata meski sebentar. Pikirannya berkelana kemanapun tak tentu arah.
Bergegas, Alisya merogoh ponselnya yang sejak tadi mati dan kini saatnya untuk kembali dihidupkan mengingat dirinya memerlukan benda tersebut untuk. Jam telah menunjukkan dini hari tepatnya menjelang subuh. Alisya menghembuskan nafasnya pelan, ada rasa bahagia hinggap di relung hatinya ketika kembali menginjak negara ini lagi.
Banyak kenangan yang dulunya ingin ia kubur dalam dalam namun hingga kini pun semua seolah terpatri indah dalam benaknya.
"Hufft, semoga ada taxi di depan nanti. Kalau tidak, terpaksa aku harus memesan melalui aplikasi online. Padahal semua sudah ku hapus waktu itu." Gumamnya sambil menyeret koper kecil di tangannya.
Baru beberapa langkah dirinya berjalan, Alisya kembali menghentikan langkahnya ketika ponselnya berdering.
__ADS_1
"Haa, Om Will mengapa menghubungi ku jam segini?"
Alisya menatap layar ponselnya yang menampilkan nama Williams disana. Ada rindu yang menyeruak dalam hati Alisya membuat senyum itu kembali mengembang.
"Ha.. hallo." Sahutnya ketika mengangkat panggilan tersebut.
Williams mengernyit mendengar suara berisik disebrang sana. Tanpa menjawab lelaki tersebut langsung mengalihkan panggilan ke vidio. Matanya membelalak ketika menatap layar dimana, sang kekasih nampak tak berada dalam kamarnya.
"Sayang, kamu mau dimana?" Ucapnya dengan lidah yang sudah keluh.
Pikiran buruk hinggap di dada dokter tampan tersebut. Dia tahu dan sangat hafal latar yang terlihat di layar dimana sang kekasih berdiri saat ini. Terminal kedatangan yang masih ramai dengan banyaknya orang yang berhilir mudik menyeret kopernya.
"Belum. Sayang jawab aku, kamu dimana?" Williams tak lagi sabar saat ini. Dirinya tak lagi mau kehilangan gadis itu lagi. Susah paya dirinya mencari ketenangan hatinya dan hanya Alisya yang mampu memberikan itu semua. Hanya tinggal menunggu sebentar lagi ketika gadis itu mengatakan siap maka Will akan segera mengikatnya dengan pernikahan.
Namun hatinya terkesiap frustasi ketika melihat Alisya berada di sebuah bandara yang entah dimana dengan sebuah koper disebelahnya.
"Di bandara." Jawab Alisya singkat. Gadis itu bingung sendiri melihat wajah Williams disebrang sana.
"Om kenapa?" Tanyanya pelan, takut kembali menyergapnya kini. Dia takut kedatangannya tak lagi diinginkan atau mungkin Will saat ini sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1
"Ban.. bandara mana? sayang jawab aku."
"Halim.."
"Tunggu aku disana, jangan kemana-mana sampai aku datang. Jangan matikan telponnya aku segera datang."
Williams segera menyambar kunci mobilnya di narkas dan berlari dengan tergesa keluar dari apartemen. Alisya yang masih terhubung dengan lelaki tersebut hanya membulatkan matanya ketika melihat tingkah Williams yang sedikit berlebihan menurutnya.
Selama perjalanan, Will sengaja mengajak Alisya berbicara meski dirinya harus fokus mengemudikan mobilnya. Beruntung, di waktu menjelang pagi tersebut keadaan jalanan sedikit lengang. Tak terbayang jika semua itu terjadi di jam sibuk dengan macet yang menghalangi.
Empat puluh lima menit berlalu, barulah mobil yang Williams kendarai masuk kearea bandara. Dengan tergesa Will segera memarkirkan mobilnya dan berlari menuju terminat kedatangan dimana Alisya menunggunya sesuai yang dikatakan gadis tersebut beberapa menit lalu sebelum panggilan mereka terputus.
*
*
*
"Aku harap ini bukanlah mimpi." Will bergumam dalam langkahnya.
__ADS_1