
Alexa mendongak ketika namanya disebut entah sudah berapa kalinya. Dia yang larut dalam lamunannya sampai tak mendengar kala Williams memanggilnya. Pun ketika Albert pergi meninggalkannya di rumah Williams. Alexa hanya menengok kiri dan kanan mencari keberadaan laki-laki itu.
"Al sudah pulang lima belas menit yang lalu. Kau sedang melamun apa hingga tak konsen begitu." Will berujar pelan sambil kedua tangannya bersidekap di depan dadanya. Alexa menggelengkan kepalanya membuat Williams mendesah pelan.
"Ayo ikut denganku, akan ku tunjukkkan kamarmu." Williams beranjak diikuti oleh Alexa yang berjalan dibelakangnya dengan tas jinjing yang masih melekat di genggamannya.
Will berhenti sejenak ketika sampai dianak tangga pertama. Dia mengulurkan tangannya membuat Alexa yang berdiri di belakangnya terdiam bingung.
"Come over your bag!!" Will meraih tas ditangan Alexa dan mempersilahkan gadis tersebut untuk berjalan lebih dulu didepannya.
"Kamar nomer 2." Lanjutnya saat langkah mereka sudah berada di tengah tangga.
Will membuka pintu bercat coklat tersebut dan menyuruh Alexa segara masuk ke dalam.
__ADS_1
"Istirahatlah, ini adalah kamarmu. Kalau butuh apa apa kamu bisa langsung kebawah atau bisa bangunkan aku. Kamarku ada disebelah." Will meletakkan tas Alexa di dekat meja disudut kamar.
"Dan berhati-hatilah saat naik turun tangga. Kakimu belum terlalu kuat, sebaiknya berhenti sejenak saat merasakan sakit." Will memegang knop pintu dan mulai melangkah keluar.
"Om."
"Kita bicara besok pagi. Sekarang beristirahatlah, jangan lupa minum obatmu nanti. Aku sudah memesan makan malam untuk mu" Will menatap jam di pergelangan tangannya sesaat. " mungkin sebentar lagi sampai." Lanjutnya seraya keluar dan menutup pintu perlahan.
Alexa meremat jemarinya. Dia tak mengerti dengan apa yang diinginkannya kini. Cita cita yang dulu melambung tinggi dan ingin digapainya kini seakan hilang di depan matanya sendiri. Ditatap nya kaki kirinya dengan helaan nafas beratnya.
"What should I do?" Pertanyaan itu yang selalu menghantui pikirannya saat ini.
Bram tersenyum kecil. Suami kesayangan Tiara tersebut sedang berada di kantornya di perusahaan Ayodya. Semua laporan tentu saja sudah sampai ke tangannya.
__ADS_1
Masalah yang terjadi di Bali juga tak luput dari pantauan nya. Bram bergerak cepat dengan mengerahkan orang orangnya. Dirinya bahkan bertanggungjawab penuh dengan apa yang terjadi disana.
Namun langkahnya terhenti kala itu ketika sang sahabat malah mengambil alih semuanya. Alih-alih marah namun Bram malah nampak tersenyum dan menikmati semuanya. Bukan dirinya senang atas penderitaan tim dan kru yang menjadi korban tentu bukan itu alasan dibalik senyuman Bram.
Namun perubahan yang terjadi pada Williams lah yang menjadi fokusnya saat ini. Bahkan ketika laporan kembali datang dengan menyebutkan bagaimana Will memfokuskan diri pada 1 korban. Senyum itu semakin melebar kala mengetahui bahwa sang dokter tak main main kali ini.
Bukan hanya masalah donor darah dan biaya perawatan untuk Alexa yang ditanggung secara pribadi oleh Williams. Lelaki tersebut juga membawa Alexa tinggal di panti. Tempat yang menjadi salah satu dari mimpi Will selama ini.
"Suta, sepertinya sebentar lagi kita akan semakin sibuk. Bukan hanya mengurus masalah pernikahan Mark dan Nara. Will juga akan menuju kesana sebentar lagi, semoga saja tebakanku tak meleset kali ini." Bram berucap dengan senyum yang tak pudar dibibirnya.
"Menurut Doni, gadis itu sangat manis meski masih terlihat seperti gadis kecil. Bahkan dia memanggil dokter dengan sebutan Om."
Tawa Bram semakin menggema setelah mendengarkan penuturan Suta. Meski tampang wajah sang asisten yang tetap datar dan kaku tersebut terlihat jelas. Namun Bram tahu bahwa asistennya tersebut saat ini sedang tersenyum dalam hatinya.
__ADS_1
"Dokter membawa nya kerumah pribadinya." Lanjut Suta yang membuat Bram segera menghentikan tawanya.
"Wah kemajuan." Serunya heboh sendiri.