
Williams menutup pintu kamar Alexa pelan, tak ingin mengganggu tidur nyenyak gadis itu. Beberapa saat lalu dirinya memindahkan tubuh Alexa yang tertidur dalam dekapannya. Keduanya masih berada di dapur dan duduk di kursi meja makan tanpa saling melepaskan hingga Alexa tertidur.
Williams melangkahkan kakinya kembali kedapur dan segera membereskan kekacauan yang telah dibuat oleh gadisnya.
Gadisnya. Kata itu seolah menggelitik hatinya namun rasa bahagia sangat iya rasakan. Bahkan hatinya semakin bergejolak dan senyum selalu terukir di bibirnya. Setelah membereskan semua kekacauan yang terjadi, Will kembali melangkah ke arah kamar Alexa dengan segelas air putih dalam tangannya. Dirinya tak ingin gadis itu kembali turun hanya untuk mengambil air minum.
*
*
*
Akshan mengernyapkan matanya kala sinar matahari menyorotnya dari balik kaca. Lelaki dengan mata tajam tersebut merenggangkan otot ototnya dan mengusap wajahnya perlahan menyesuaikan dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya.
Pandangannya tertuju pada rumah dengan 2 lantai yang masih nampak sepi. Horden kamar yang menjadi fokusnya pun masih tertutup rapat yang menandakan bahwa penghuninya belum terjaga. Namun Akshan masih tak ingin bergeming dari tempatnya.
__ADS_1
Cindi menggeliatkan badannya sebelum membuka matanya secara perlahan. Sinar matahari susah terasa terik masuk disela sela horden yang menghalangi jendela kamarnya. Sekali lagi gadis itu menggeliat dan mengumpulkan kesadarannya.
Senyum kembali mengembang di wajahnya dengan semburat warna bersemu merah terlihat jelas dikedua pipi nya.
Melirik jam yang ada dinarkas sejenak sebelum bangun dan beranjak menuju kamar mandi. tiga puluh menit berselang Cindi keluar dengan hanya memakai kimono handuknya. Disibaknya horden yang menutup kamarnya dari cahaya matahari kiri dan kanan. Cindi juga membuka jendela lebar hingga membuat udara masuk menerpa wajah dan mengibarkan rambutnya yang dibiarkan tergerai.
Kedua tangan gadis itu telentang menikmati sapuan angin yang menempanya. Hingga dirinya dibuat terperanjat ketika tatapannya bertabrakan dengan sepasang mata yang juga sedang menatapnya di bawah sana.
Akshan berdiri di samping mobilnya dengan bersandar dan menikmati udara pagi yang sedikit terik karena matahari sudah perlahan meninggi. Dengan kopi hangat dalam cup menemaninya kala itu. Senyumnya tersungging jelas ketika melihat gadis pujaannya dari awal membuka horden hingga saat ini menatapnya dengan terkejut.
Cindi buru buru masuk ke dalam kamarnya ketika tersadar bahwa dirinya hanya menggunakan kimono handuk saja. Wajahnya kembali memerah namun gadis itu bergegas berganti pakaian, merapikan dirinya sejenak sebelum turun dan menemui Akshan yang masih berada ditempatnya semula.
"Kak." Sapanya pelan.
"Morning, honey." Akshan menyambut gadis itu dengan kecupan lembut dikeningnya. Pipi Cindi kembali merona, gadis itu bergerak salah tingkah membuat Akshan tergelak.
__ADS_1
"Ada kelas hari ini?"
"Nanti siang kak. Hanya satu mata kuliah saja."
"Ikut aku ya?"
Cindi mendongak menatap Akshan yang juga menatapnya insten.
"Temani aku bekerja, nanti ke kampusnya dari sana saja. Aku juga perlu membersihkan diriku."
"Ah, kakak sejak semalam disini?" Cindi membulatkan matanya menatap Akshan yang hanya tersenyum.
"Aku hanya tak ingin gadis kecilku kembali kabur dan menghilang." Ucapnya membuat Cindi mengembungkan pipinya malu.
Tanpa suara gadis itu berlari masuk ke dalam rumahnya. Hanya butuh waktu sebentar dirinya sudah kembali dan masuk kedalam mobil Akshan. Keduanya hanya terdiam selama perjalanan namun jemari keduanya saling bertaut erat hingga mobil memasuki halaman restoran.
__ADS_1
Akshan membawa Cindi untuk masuk ke dalam ruangannya, mendudukkan gadis itu di sofa sedang dirinya berlalu masuk ke dalam ruangan lain yang terdapat dalam ruang kerjanya.
Cindi mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan. Terdapat banyak hiasan dengan foto foto aneka makanan terpajang disana. Nampak juga foto keluarga disalah satu sudut ruangan. Disana nampak Alisya sedang memeluk lengan sang kakak dengan manja. Sementara Akmal dan Alina berada disisi lain keduanya.