I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 45


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu semenjak Alexa membaca kembali surat perjanjian yang jatuh ke tangan Williams. Selama itu juga dirinya dibuat galau karena tak tahu harus berbuat apa. Semuanya nampak rumit sekarang, dan dia belum menemukan cara yang tepat untuk mengatasinya.


Sore ini dirinya yang sedang melamun dikejutkan oleh kedatangan Albert yang memberitahunya untuk bersiap entah untuk apa. Tak banyak yang dia tahu karena nyatanya Albert pun sama tak taunya dengannya. Alexa hanya bisa mengangguk dan bergegas menyiapkan apa yang kiranya dibutuhkannya nanti sesuai dengan instruksi dari Albert.


Gadis itu pasrah hendak dibawah kemana karena pikirannya memang sudah buntu. Dengan perlahan di langkahkan kakinya yang sedikit tak seimbang tersebut sambil membawa tas jinjing di tangan kirinya. Hanya membawa beberapa baju seperti yang di katakan Albert.


" Already?" Albert yang melihat Alexa mendekat segera bertanya yang dibalas oleh anggukan gadis cantik tersebut.


Sama sama asing di tempat ini membuat mereka saling dekat. Baru beberapa bulan berada di kediaman yang Williams sediakan membuat pemahaman mereka tentang bahasa Indonesia maupun lokal sedikit terkendala. Beruntung, banyak sekali orang-orang yang bekerja untuk Bram memahami bahasa asing karena keluarga tersebut juga bukanlah orang pribumi termasuk Williams.


Albert mengantarkan Alexa menggunakan mobil yang tersedia di panti. Mobil oprasional yang memang tersedia guna meringankan keperluan mereka. Panti yang memang belum sepenuhnya beroprasi bukan berarti tak membutuhkan sesuatu karena biarpun begitu sudah ada 2 orang lansia menghuni disana. Keduanya adalah orang yang ditemukan tersesat oleh Doni sebulan yang lalu.

__ADS_1


" Where are we going?" Setelah beberapa menit mobil bergerak semakin jauh barulah Alexa berani bertanya. Dia yang sejak datang waktu itu belum sempat untuk sekedar berjalan jalan tentu tak mengetahui apapun di sini. Matanya hanya menatap keluar kaca mobil yang tertutup.


"Rumah, Will. Dia memintaku untuk mengantarkan mu kesana."


Alexa menoleh dan menatap Albert sejenak. Jantungnya berdetak sedikit kencang, jika benar dirinya akan dibawah kerumah Williams itu artinya dia akan bertemu dengan istri lelaki tampan tersebut. Alexa segera menggelengkan kepalanya, dia berpikir terlalu jauh. Bukankah wajar jika disana lelaki tersebut hidup bersama istrinya?


*


*


Rumah yang nampak sederhana dengan hanya memiliki 2 lantai tersebut adalah pemberian mendiang papa Bram. Sebelum meninggal, dokter lelaki yang terkenal sebagai seorang dokter ahli beda jantung tersebut memberikan rumah itu untuk Williams tinggali.

__ADS_1


Williams memasuki mobilnya dan melaju perlahan membela jalan untuk segera sampai kerumah pribadinya. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari apartemen kerumah yang jarang sekali dia tempati itu.


CRV warna putih tersebut masuk ke dalam halaman setelah seorang security membukakan pintu gerbang. Williams tersenyum menyapa lelaki baya yang dipercaya untuk menjaga rumahnya itu.


Melangkah masuk kedalam rumah. Baru beberapa menit dirinya berada disana terdengar suara mobil yang memasuki halaman. Albert nampak keluar bersama dengan Alexa membuat senyuman di bibir Williams mengembang.


Seorang wanita paru baya nampak membuka pintu dan mempersilahkan keduanya masuk. Setelahnya dirinya menuju lantai atas untuk memanggil Williams.


Alexa meremas tangannya yang mulai dingin. Dilayangkan nya tatapan ke penjuru ruang tamu tempatnya dan Albert saat ini berada. Hanya ada dua buah lukisan besar disana yang menjadi pemanis ruangan yang berwarna putih di semua dindingnya.


Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga semakin membuat jantungnya berdegup kencang. Alexa bingung dengan apa yang dialaminya kini. Ditundukkan kepalanya dalam saat menyadari langkah tersebut makin mendekat.

__ADS_1


__ADS_2