
Sebuah pemakaman umum yang terlihat sangat rapih dan terawat dengan baik. Williams melangkahkan kakinya dengan gontai. Di sini, tepatnya 19 tahun yang lalu dirinya meraung dalam tangisan pilu ketika menyaksikan jasat kedua orang tuanya dikebumikan.
Disini pula dirinya berjanji akan menjadi anak yang baik, anak yang bisa di banggakan. Di tempat ini juga, Williams kecil membulatkan tekatnya untuk menjadi dokter yang hebat dan bisa menyelamatkan hidup orang banyak. Setidaknya, di masa hidupnya dia ingin mempunyai pencapaian dan membuktikan kepada ayahnya bahwa dia memang anak yang hebat.
Flashback.
Williams kecil yang sedang bermain sepeda bersama teman-teman sebayanya tak sengaja terjatuh dan terluka di lututnya. Will yang saat itu masih berumur 10 tahun menangis. Bukan karena luka yang dialaminya, namun karena sepeda kecil yang dipakainya telah rusak. Dan parahnya, sepeda tersebut dia pinjam dari seorang tetangga.
Will yang ketakutan semakin merasa bersalah ketika sang tetangga datang dan memaki-maki ibunya. Keluarga Will bukanlah keluarga terpandang. Mereka adalah keluarga sederhana yang baru mencoba bangkit dari jurang kemiskinan.
Dengan semangat sang ayah yang kala itu mendapat tawaran menjadi pelayan sebuah pesta pulang dengan senyum yang mengembang. Namun senyum tersebut surut seketika tatkala melihat sang istri sedang menangis. Will kecil bahkan tengah bersembunyi di balik pintu ketika sang ayah masuk dan bertanya kepada sang istri.
__ADS_1
Tanpa marah, ayah datang dan memeluk Will penuh sayang. Bahkan ayah berkata jika semua berjalan lancar, maka mereka sekeluarga akan berjalan jalan setelahnya.
Dua minggu sebelum pesta adalah masa masa dimana keluarga kecil tersebut sangat bahagia dan bersemangat. Bersemangat merangkai segala hal indah dan bahagia karena mereka akan pindah ke kota seperti yang memang telah rencanakan demi bisa merubah kehidupan mereka.
Flasback off.
Williams menghapus air mata yang menetes di pipinya. Kenangan indah selama 2 minggu terakhir adalah kenangan yang selalu Will ingat. Bukan berarti sebelumnya tak ada kenangan, ada. Namun hanya di saat itulah dirinya melihat senyum bahagia dan semangat yang sebenarnya dalam diri ke dua orang tuanya.
Dua gundukan dengan batu nisan berwarna hitam itu nampak tenang. Tak ada daun kering berserakan yang mengotorinya. Rerumputan hijau yang sengaja di tata sedemikian rupa di sana membuat susana benar-benar tenang. Williams bahkan menghabiskan 2 jam waktunya berada di pusara kedua orang tuanya.
Williams telah mengikuti ikhlas kan semuanya. Dia mengikuti segala skenario yang telah tertulis di jalan takdirnya. Will paham jika tak ada seorangpun yang bisa mengubah hal itu. Namun hingga saat ini Will masih selalu bermimpi untuk bisa mengubah semua jalan hidupnya. Takdir boleh saja berjalan sesuai yang seharusnya, namun untuk menuju ke sana Will ingin melakukan perubahan menurut keinginannya.
__ADS_1
Namun semua terasa sulit ketika dirinya harus dihadapkan dengan permintaan, Oma. Sosok pahlawan yang hadir dalam hidupnya, orang yang menyayanginya meski jelas jelas tak ada hubungan apapun diantara mereka.
Oma menyayangi Williams sama seperti dirinya menyayangi cucu cucunya. Tak ada perbedaan dan itu membuat Will tak kuasa untuk menolak keinginan Oma. Will tak ingin menjadi sosok manusia yang tak tahu balas budi, tidak. Dirinya menyayangi Oma dengan segenap hati. Wanita tua itulah yang membangkitkan semangatnya yang pernah hilang. Andai saja, waktu itu dirinya tak bertemu dengan Oma Feli, entah nasib apa yang harus Williams jalani saat ini.
*
*
*
To be continue
__ADS_1