I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 12


__ADS_3

Dua bulan terasa sangat cepat bagi Williams yang sebenarnya tak menginginkan hari ini datang. Namun mau bagaimana pun dirinya menolak, semua tak bisa ditunda lagi.


"Kau yakin akan pergi?"


Sekali lagi Bram bertanya, dia sangat berharap keputusan Williams adalah keputusan yang benar-benar dirinya ambil secara sadar dan tanpa adanya paksaan. Bram benar-benar menginginkan sahabat baiknya tersebut bahagia. Terlepas dengan siapapun nantinya pria tersebut menghabiskan sisa hidupnya.


"Ya.Aku sudah siap, jangan khawatir."


Williams tersenyum sambil menepuk pelan pundak Bram yang masih menatapnya dengan tajam. huuft,Bram menghembuskan nafasnya. Tak ada yang bisa dia perbuat, karena keputusan memang berada di tangan Williams sepenuhnya.


"Baiklah. Aku harap semua yang terbaik untukmu. You should be happy, Will."


" Of course!!"


Keduanya kembali berbincang tentang berbagai hal. Terutama tentang rumah sakit yang akan Will tinggalkan beberapa waktu demi menghadiri acara ulang tahun Oma Feli.


Bram yang memang tak begitu mengurusi segala usahanya. Mau tak mau berjanji akan meng-handle urusan rumah sakit yang memang seharusnya menjadi tanggungjawab nya selama ini. Sama seperti perusahaan mendiang sang mama yang Bram percayakan kepada asisten Suta untuk menjalankannya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


"Kak."


Alisya menampilkan senyumnya ketika melihat Akshan masuk ke dalam kamarnya. Kakak tertuanya tersebut duduk di tepi ranjang menyaksikan adik cantiknya belajar.


"Ada apa kak?" Alisya menutup laptopnya dan berpindah duduk di samping sang kakak.


"Tak ada. Hanya ingin melihatmu, dek."


Alisya kembali tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak yang mengelus kepalanya penuh sayang.


"Ah iya kak. Alis mengambil sejumlah uang untuk membeli buku dan beberapa kebutuhan."


"Kakak." Teriak si bungsu yang langsung masuk ke dalam kamar sambil mengerucutkan bibirnya. Sontak membuat Alisya dan Akshan tertawa lebar.


"Kemarilah!!"


Sebagai yang tertua tentu saja Akshan sangat pengertian. Direntangkan sebelah tangannya yang bebas untuk memeluk adik bungsunya tersebut.


"Jangan cemberut begitu Alin. Lihat bibirmu seperti mulut bebek." Alisya tertawa mengejek sang adik yang menyembunyikan wajahnya di dada Akshan.

__ADS_1


"Lihatlah, kak. Kak Alis selalu mengejekku." Aduhnya.


Akshan hanya tergelak. Sudah biasa baginya melihat ke dua adik cantiknya merajuk seperti itu. Namun tak ada pertengkaran yang berarti diantara keduanya.


"Hem, tak adakah yang sayang sama aku? kenapa hanya kak Akshan yang dapat pelukan." Akmal yang mendengar keributan di kamar Alisya yang terbuka langsung saja menuju ke sana. Bersandar di pintu dengan ke dua tangan bersidekap di dada.


Hahahhaa.


Tawa Akshan kembali menggema. Namun tak lama Alisya dan Alina beralih memeluk abang nya yang lain. Akmal merentangkan kedua tangannya menyambut kedua adiknya.


Mereka berempat tertawa dan saling bercerita. Nampak kebahagiaan di wajah ke empatnya. Namun jauh di lubuk hati Alisya menangis pilu. Entah kapan lagi suasana seperti ini akan dia dapatkan lagi nantinya. Rencana pertunangan nya telah semakin dekat. Dan dirinya tentu tak bisa sebebas ini lagi nantinya.


"Kalian tak ingin turun? mama sudah siapkan makan malam kesukaan kalian lo." Deandra melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Hatinya sangat bahagia melihat kerukunan terjalin diantara ke empat anaknya tersebut.


"Ye. Akhirnya makan." Alina menghambur dan memeluk lengan sang mama. Mereka beriringan keluar dari kamar menuju ruang makan diikuti yang lainnya.


Terlihat Tuan Alisky telah duduk di kursi meja makan. Terlihat berbagai makanan kesukaan masing-masing anaknya terhidang dengan lezat. Suasana makan malam di weekend adalah makan malam yang selalu dinantikan oleh mereka. Tak seperti malam malam lainnya. Karena di weekend, baik tuan Alisky maupun Akshan selalu berada di rumah walau hanya sekedar makan malam.


Canda tawa dan ledekan mengiringi acara makan tersebut. Hingga semua makanan tandas tak tersisa.

__ADS_1


__ADS_2