
Keberangkatan Williams ke Belanda harus dimulai dengan drama menangisnya sang princess. Bocah kecil tersebut bahkan tak mau lepas dari gendongan Om dokter tampan kesayangannya.
Hingga waktu keberangkatan pesawat telah diumumkan pun princess belum mau turun dan malah menenggelamkan wajahnya diceruk leher Williams.
Sementara sang adik hanya menatap bingung kakaknya. Bocah tampan tersebut tetap tenang dalam dekapan Tiara. Tak ada yang bisa merayu Cameli jika sudah begini. Terpaksa, Will dan Alisya harus menunda keberangkatan mereka saat ini.
Mereka berlalu keluar dari bandara dengan Camelia yang tek sedetikpun mau melepaskan Williams. Dokter tampan yang rupawan tersebut hanya tersenyum seraya menciumi pucuk kepala Camelia gemas.
"Sayang.." Di genggamnya jemari Alisya lembut, berharap sang gadis tak keberatan dengan keputusannya untuk menunda keberangkatan mereka.
Karena mau dipaksa pun akan percuma jika Camelia masih tak mau melepaskan.
"It's ok, hon. Aku tak apa." Alisya tentu sangat paham bagaimana Williams dengan keluarga Bram selama ini.
__ADS_1
Kedekatan mereka melebihi sebagai sahabat biasa bahkan lebih dari saudara. Jadi, Alisya tak punya hak untuk marah akan hal itu. Terlebih lagi dirinya juga menyayangi Camelia sama seperti Williams.
Tiara dan Bram yang merasa tak enak hati juga tak bisa berbuat banyak. Putrinya memang fans garis berat Williams. Gadis itu bahkan sudah meng hak paten Williams sebagai Om dokter miliknya seorang.
"Sayang, bagaimana kalau kita liburan? sekalian sambil mengantarkan Will kita bisa mengajak anak anak untuk berlibur. Bagaimana menurutmu?"
Bram yang sedang berjalan di belakang pasangan yang gagal berangkat tersebut berujar lirih. Tangan kirinya masih menggendong erat tubuh gembul sang putra. Sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari sang istri.
"Aku ikut bagaimana baiknya saja, mas. Mengingat bagaimana sifat putri kita, aku yakin bahkan sampai besok pun dia tak akan melepaskan dokter sedikitpun." Bram mengangguk membenarkan perkataan sang istri. Bahkan terkadang dirinya dibuat iri kala Camelia lebih memilih bersama dengan Williams dibanding bersamanya.
*
*
__ADS_1
*
"Sayang, kita makan dulu ya. Princess mau makan apa?" Dengan lembut Will bertanya sembari mengusap punggung Camelia yang masih setia mendekap lehernya erat.
"Chicken." Singkat padat dan jelas tanpa mau mengubah posisinya membuat semua yang berada disana tersenyum simpul.
"Duduk yang bener ya, Ok kan kagak jadi pergi. Kalau tidak percaya, coba deh tanya sama tante cantik." Will kembali merayu pelan.
"Ya, ate tantik?" Tanyanya pelan dengan hanya menggerakkan sedikit kepalanya agar bisa melihat ke arah Alisya berada.
"Iya, nih buktinya. Kita sudah keluar kan dari bandara? jadi anak cantik boleh duduk sendiri, makan yang baik. Ehm, bagaimana kalau duduknya ditengah sini? jadi princess sekalian bisa awasi Om ganteng dan tante cantik." Alisya sedikit tergelak ketika menyebutkan panggilan dirinya dan Will yang diberikan oleh gadis kecil yang menggemaskan tersebut.
"Ndak kabul kabul, sembunyi agih?"
__ADS_1
"Enggak dong. Ngapain kabur dan sembunyi? kan capek tahu. Yuk cantik yuk kita makan dulu." Alisya menyiapkan kursi tepat ditengah antara dirinya dan Williams. Gadis itu juga merentangkan tangannya meminta Camelia agar berpindah padanya. Bocah cantik kesayangan semua orang tersebut pada akhirnya menurut dan mau duduk diam diantara keduanya.
Sementara Bram dan Tiara yang duduk disebrang mereka hanya tersenyum melihat interaksi ke tiganya.