I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 37


__ADS_3

Pagi menjelang barulah nampak Alexa mengernyapkan matanya. Rasa nyeri di kepala bahkan di sekujur tubuhnya membuatnya meringis menahan rasa sakit tersebut.


"Kau sudah sadar? Jangan dipaksakan bergerak. Lebih baik kamu lebih rileks sedikit karena mungkin pengaruh obat biusnya juga sudah hilang." Williams berjalan mendekat.


Semalaman dia tak tidur guna menjaga kemungkinan kemungkinan yang terjadi ke pada 3 orang timnya. Meski Alexa bukan termasuk timnya namun Will merasa perlu bertanggungjawab karena musiba ini terjadi masih diarea acara. Bahkan mereka belum meninggalkan tempat tersebut.


5 orang korban lainnya telah sadar beberapa jam yang lalu. Mereka masih dirawat dalam rumah sakit yang sama. Hal itu memudahkan Williams mengontrol keadaan mereka semua.


Dua orang pria yang juga merupakan korban dengan luka yang serius hanya satu yang sudah sadar dua jam lebih cepat dari pada Alexa. Tingal 1 orang lagi yang belum keluar dari masa kritisnya dan masih berada di ruang ICU karena dialah yang mengalami luka terparah.

__ADS_1


Williams baru saja kembali dari kamar lainnya ketika melihat tanda tanda Alexa tersadar. Lelaki tersebut secara mendekat dan tersenyum pada Alexa yang masih nampak bingung. Di pencet nya alat di samping tempat tidur guna memanggil dokter jaga agar segara datang ke ruangan tersebut. Walaupun dirinya adalah dokter bahkan semalam Williams masuk ke dalam tim yang melakukan tindakan oprasi, namun Will sadar akan tempatnya. Disini ada yang lebih bertanggungjawab dan berhak ketimbang dirinya.


Rasa lega dirasakannya, kini hanya tinggal satu orang lagi yang masih dalam keadaan kritis. Williams memperhatikan secara detail apa yang dilakukan oleh dokter.


Setelah kepergian sang dokter, Williams kembali mendekat. Ditatap nya Alexa yang menundukkan wajahnya. Mata itu nampak berembun dan siap menumpahkan air bah yang mungkin sudah tak tertampung lagi sebentar lagi.


Williams mendudukkan dirinya di bangku yang tersedia di samping brangkar.


"Om." Suara Alexa tercekat, gadis itu tak sanggup meneruskan kata katanya.

__ADS_1


"Monica ada di kamar sebelah. Berjarak 2 kamar dari sini."


Alexa mengangguk. Dia turut senang karena sabahat nya juga selamat. Pikiran Alexa melayang jauh memikirkan mimpi dan masa depannya. Tak pernah terbesit akan adanya musibah seperti ini terjadi.


Bahu kirinya masih kaku tak bisa digerakkan. Tubuhnya pun merasakan sakit meski tak begitu parah namun masih sangat menyiksa. Teringat bagaimana dirinya terjatuh di waktu kecil. Ayah nya terlihat sangat ketakutan dan memeluknya erat. Padahal waktu itu hanya terdapat sedikit luka lecet di lutut Alisya kecil. Semua keluarganya heboh namun membuat Alexa bahagia karena disayang.


Tiba-tiba air matanya menetes mengingat keluarganya yang entah bagaimana kabarnya kini. Mungkinkah mereka mencarinya dan merindukannya? Alexa tersenyum miris. Apa yang dia harapkan, padahal pergi adalah pilihannya sendiri.


"Istirahatlah, aku akan pergi melihat yang lain. Jangan terlalu banyak berpikir agar kamu segera pulih." Williams berjalan keluar menuju ICU guna melihat perkembangan Usman yang hingga saat ini belum keluar dari masa kritisnya.

__ADS_1


Usman belum menampakkan tanda tanda akan sadar atau keluar dari masa kritisnya. Luka dikepalanya adalah yang terparah. Dia yang paling terkena saat hantaman penyangga itu roboh. Williams tak bisa berbuat banyak, meski hatinya nyeri namun tak ada yang bisa dirinya perbuat kali ini.


__ADS_2