
Williams terhenyak sesaat setelah dirinya dan Alexa keluar dari taxi yang mereka tumpangi dari bandara. Matanya menatap berbinar wanita baya yang berdiri dengan sebelah tangan menggenggam tongkatnya. Senyum wanita tua yang masih cantik tersebut menular pada Will yang segera melangkahkan kakinya cepat dan memeluk tubuh itu erat.
Sapuan lembut tangan Oma Feli dirasakannya dibalik punggung. Will sangat menyukai itu, pelukan yang dia rasakan sejak 20 tahun lalu, pelukan yang menggantikan hangatnya dekapan sang mama.
"Oma, kenapa nggak kasih tahu Will jika mau datang?" Ucapnya setelah melepas pelukan.
"Emang kalau oma datang perlu surat ijin dulu."
"Bukan begitu oma, kalau tahu oma akan datang kan Will bisa menjemput oma."
"Sudahlah, buktinya oma sudah berada disini kan?"
Williams menoleh kearah Alexa yang masih berdiri di tempatnya. Gadis itu masih terpaku dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.
__ADS_1
Apa ada orang kembar? atau memang dia orangnya? Gumamnya pelan sambil terus menatap oma Feli yang juga sedang menatapnya.
Ingatannya kembali pada kejadian beberapa bulan lalu, tepatnya di acara makan malam yang dia dan keluarganya hadiri. Disanalah dia melihat wanita baya yang saat ini sedang berdiri dan berbincang dengan Williams. Keduanya nampak sangat bahagia.
Alexa menggelengkan kepalanya. Ingin menolak namun semua terpampang nyata dihadapannya kini. Bingung hendak melakukan apa karena seingatnya dia telah lari dari acara pertunangan yang sudah direncanakan waktu itu.
Alexa menatap nanar ke arah Williams, hatinya bergejolak dan rasa cemas itu semakin datang. Bagaimana jika Will tahu kalau dirinya sempat menolak dijodohkan dengan salah satu pamannya dan menjadi awalmula dirinya kabur.
Setelah melihat keberadaan Oma Feli, Alexa berpikir jika yang dijodohkan dengannya waktu itu adalah salah satu anak dari oma Feli yang artinya adalah paman dari Williams sendiri.
Dengan satu tangan menarik koper kecil mereka, Satu tangan lagi menggenggam jemari Alexa dan membimbing gadis itu melangkah perlahan. Oma Feli nampak tersenyum dengan perlakuan manis yang Will perlihatkan didepannya.
"Oma, kenalkan ini Alexa. Dia sedang menjalani perawatan, dan saat ini sedang masuk waktu pemulihannya saja." Will menjelaskan sebelum dirinya masuk ke dalam rumah membawa koper dan meninggalkan kedua wanita tersebut.
__ADS_1
Meski tampak canggung namun Alexa merasa nyaman karena Oma Feli yang selalu terbuka. Wanita baya tersebut malah menggandeng lengan Alexa ketika mereka berjalan bersama memasuki rumah Williams.
"Eits, hampir saja." Teriak Edwin yang hampir bertabrakan dengan Will ketika hendak masuk ke dapur. Edwin yang baru selesai dengan secangkir kopi ditangannya menggerutu tak jelas ketika menatap Will yang hanya tersenyum padanya.
"Ku kira kau akan lebih lama disana?" Ed yang sudah keluar dari arah dapur tiba-tiba memutar langkah dan kembali masuk ke dalam dapur mengekori Will.
Dokter tampan dengan kaos hitam dan kacamata yang tak pernah lepas membingkai mata indahnya itu melangkah menuju kulkas dan mengeluarkan jus dalam kemasan kemudian menuangkannya ke dalam 2 gelas.
"Urusannya sudah selesai terus mau berlama-lama disana untuk apa?" Sahutnya sambil melempar kotak jus yang sudah kosong masuk ke tempat sampah.
Edwin mendengus dan kembali mengekori langkah Williams yang keluar menuju ruang tengah. Mulutnya dibiarkan terbuka ketika melihat disana tak hanya ada Oma yang sedang duduk dan berbincang.
Will menaruh gelas jus di hadapan Alexa dan menyuruh gadis itu untuk meminumnya. Kembali Edwin membuka dan menutup mulutnya yang seolah susah untuk mengeluarkan ucapannya.
__ADS_1
Alexa yang juga melihat keberadaan Edwin disana semakin salah tingka. Gadis itu hanya menunduk dalam dengan hati yang cemas dan jantung yang berdebar kencang.
"Tuhan, aku harus bagaimana sekarang?" pekiknya dalam hati.