
Malam telah menyapa ketika mobil yang membawa Arya dan Alexa kembali masuk ke kawasan camp yang mereka tinggali selama beberapa waktu belakangan ini.
Belum adanya rolingan kembali diantara para tenanga medis dan relawan membuat mereka semua bisa saling kenal dan bercengkrama lebih hangat layaknya keluarga.
Seperti saat ini, kedatangan keduanya tentu sudah ditunggu oleh rekan yang lain. Mereka yang menitipkan beberapa barang dan juga makanan ringan tentu tak sabar untuk menikmatinya.
Apa yang mereka bawa tak selalu hasil mereka beli. Tak jarang, ada beberapa orang yang sengaja menitipkan makanan atau perlengkapan buat para pengungsi.
Alexa melangkahkan kakinya menuju tenda yang ditempatinya bersama 1 orang dokter lainnya. Hanya ada beberapa dokter wanita yang ikut serta dalam misi kemanusiaan kali ini. Selebihnya, para lelaki yang mengambil bagian.
"Sudah kembali?" Seorang wanita yang biasa dipanggil dokter An itu menoleh ketika Alexa membuka tirai yang membatasi tenda degan dunia luar.
"Iya, dok. Rasanya lelah sekali, padahal aku hanya menghabiskan waktu dengan duduk santai. Bagaimana dengan Arya yang sibuk menyetir ya." kekeh Alexa yang mendaratkan bokongnya ke arah kasur lantai yang berada di tengah tenda tersebut.
__ADS_1
Dokter An ikut terkekeh. Wanita yang mengaku telah berkeluarga tersebut mendekat dan ikut duduk disebelah Alexa yang menyelonjorkan kakinya karena pegal.
"Arya sudah terbiasa, dia kan yang sering sekali ke kota. Selain karena sudah biasa, dia juga sudah mendapatkan vitaminnya. Jadi wajar saja kalau dia tetap terlihat bersemangat."
Dokter An tergelak dengan kalimatnya sendiri. Dia yang umurnya jauh lebih dewasa dari keduanya sangat mengerti dengan apa yang mereka rasakan. Keduanya terus berbincang hingga tiba saatnya kantuk datang menyerang. Alexa masih belum bisa terlelap, dalam benaknya masih penuh dengan berbagai macam dugaan. Banyak tanya yang tentunya membuatnya pusing sendiri karena penasaran dengan tujuan Will menghubunginya, namun juga takut ketika jawaban lelaki tersebut tak sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
*
*
*
"Dokter, ini adalah camp ke dua. Tapi sepertinya sebagian penghuninya sudah beristirahat. Sebaiknya kita juga mengambil waktu yang ada untuk mengistirahatkan tubuh. Besok barulah dokter bisa melanjutkan pencarian."
__ADS_1
"Baik.Terimakasih atas semuanya."
Williams benar-benar harus bersyukur dengan kemudahan yang dia dapatkan. Selain diberi tumpangan hingga ke camp ke dua, dirinya juga bisa beristirahat dalam tenda para tentara tersebut. Berbagai orang berkumpul menjadi satu tanpa adanya ikatan namun rasa kekeluargaan begitu kental terasa disini. Williams tiba-tiba mengingat panti yang ditinggalkannya.
Dokter tampan itu berharap kelak panti yang dia bangun dapat dijadikan tempat berkumpulnya keluarga baru, seperti apa yang dia rasakan dan lihat secara langsung di camp ini.
Ditengah ancaman dan cekaman rasa takut mereka masih bisa tertawa lepas seolah tanpa beban apapun yang mereka pikirkan. Meski pada kenyataannya mereka meninggalkan keluarga mereka yang sesungguhnya di lain tempat.
*
*
*
__ADS_1
"***Dulu, aku merasa hancur sendiri kala dunia begitu kejam padaku. Mengambil kedua orang tuaku dalam waktu bersamaan meninggalkan aku sendirian tanpa pegangan. Aku bahkan menyalahkan takdir yang begitu kejamnya padaku. Bahkan saudara yang kuanggap sebagai keluargaku yang tersisa pun tak ingin lagi mengakui adanya aku. Hingga aku harus merasakan kasih sayang orang lain. Saat ini aku menyadari satu hal. Bahagia itu tak harus mewah cukup dengan berkumpul dan saling bercanda sudah membuat jiwa kita tenang meski keadaan sebenarnya tak sedang baik baik saja."
Will bergumam, sambil menatap kearah para tentara yang sedang bercanda tersebut. Tak ada kesedihan yang tergambar dalam wajah mereka padahal saat ini pun mereka tak yakin aman***.