I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 87


__ADS_3

Kedatangan Oma Feli tentu saja disambut hangat oleh tuan Alisky beserta keluarganya. Apalagi wanita tua dengan wajah cantik dan senyum yang tersungging itu datang beserta anak bungsunya yang tak lain adalah ayah Edwin.


Rasa sungkan dan canggung tentu saja sangat terasa. Namun dengan pembawaan Oma Feli yang santai dan terbuka membuat keadaan menjadi menghangat.


Jalinan silahturahmi antara mereka terjalin dengan baik. Apalagi setelah kedua keluarga tersebut mengetahui dimana Alisya kini berada. Tentu saja semua itu masih menjadi rahasia yang tersimpan rapih. Baik Williams maupun Alisya sendiri tak mengetahui bahwa mereka saling berhubungan.


Terlebih Williams yang memang sejak awal tak mengetahui jika gadis yang menjadi calon tunangannya waktu itu adalah Alisya.


Kedatangan Oma Feli hanya untuk menjenguk tuan Alisky. Sejak saat terakhir kali mereka bertemu di rumah sakit waktu itu. Baru kali inilah Oma mempunyai kesempatan untuk berkunjung langsung ke kediaman mereka.


"Bagaimana keadaanmu sekarang Smith?"


"Seperti yang Oma lihat. Keadaan saya semakin membaik setiap harinya."


"Baguslah, setidaknya kamu punya semangat untuk sembuh."


Canda tawa dan juga obrolan hangat tercipta diantara mereka. Hingga malam tiba barulah Oma beserta papa Edwin pamit. Tersirat rasa bahagia dihati Oma Feli saat ini. Terlihat dari wajahnya yang cerah dan senyum yang terhias disana.

__ADS_1


"Mama, kelihatan bahagia banget? ada apa?"


"Tentu saja mama bahagia. Kau lihat kan keluarga itu, mereka saling menyayangi dan juga nampak sangat manis. Tak salah rasanya jika mama menjodohkan Will dengan anak mereka. Tapi dasar anak muda jaman sekarang. Di jodohkan dengan sengaja malah kabur, sekarang malah sudah tinggal bersama."


Papa Edwin tergelak pelan. Dia yang sangat paham dengan kasih sayang sang mama terhadap cucu angkatnya tersebut tak pernah mempermasalahkan sikap sang mama yang terkadang berlebihan terhadap Williams. Pemuda itu tak pernah sedikitpun membuat Oma kecewa secara langsung.


"Itu artinya, mereka tak mau dijodohkan Oma. Cinta mereka memilih jalan sendiri untuk bersatu. Kita hanya perlu menunggu waktu saat mereka sudah waktunya bersama."


"Kau benar. Mana merasa legah sekarang, setidaknya Will sudah menemukan gadis yang bisa menemaninya nanti."


"Dia gadis yang baik, juga rajin. Tapi yang terpenting adalah mereka berdua terlihat saling menyayangi." Wanita tua itu begitu semangatnya bercerita, hingga mobil yang membawa mereka berdua memasuki halaman rumah besar Oma Feli.


Sementara itu Alexa yang sedang bergelut dengan tugas kampusnya malam ini tak bisa memejamkan mata lebih awal seperti sebelumnya. Berulang kali dirinya mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi.


Berulang kali mengintip Williams yang kala itu sedang berada diruang kerjanya, menunggu waktu seandainya lelaki tersebut tak lagi sibuk dan bisa membantunya. Namun hingga beberapa kali Alexa berpura-pura lewat, Williams masih berada di tempatnya.


"Huuuft, ini kenapa susah sekali sih. Dan kenapa pula aku bisa lupa bagian ini." Alexa kembali mengacak rambutnya.

__ADS_1


"Kenapa?" Suara Williams mengagetkan Alexa.


Lengan kekar tersebut mengusap pelan kepala Alexa dan membenarkan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Alexa sendiri.


"Susah, Om." Rajuknya seraya mengerucutkan bibirnya.


Williams tersenyum, menarik kursi lain untuknya duduk di samping Alexa. Di perhatikan nya sebentar tugas tersebut sebelum tangannya mulai menulis sesuatu di lembar kertas lain kemudian disodorkan kepada Alexa.


Will memberi Alexa sebuah pertanyaan lain namun yang intinya sama dengan tugas yang sedang Alexa kerjakan.Namun pertanyaan tersebut lebih mudah dimengerti nantinya oleh gadis itu. Williams tak akan langsung memberi jawaban, dia ingin Alexa lebih bisa mengembangkan cara berpikir nya terlebih dahulu.


"Kalau sudah selesai, istirahat." Williams melirik jam yang melingkar di lengan kirinya.


"Sudah jam 10,jangan terlalu malam." Ucapnya namun tak beranjak dari duduknya.


Mengamati gadis itu lekat, tersenyum lembut ketika melihat ekpresi lucu dari gadis yang sedang duduk disampingnya dengan wajah serius.


"Apa benar aku sudah jatuh cinta." Gumamnya dalam hati

__ADS_1


__ADS_2