I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 28


__ADS_3

Pembangunan panti benar-benar dimulai. Williams menyerahkan semuanya pada Doni yang ditunjuk secara langsung oleh Suta atas perintah Bram. Tak ada keraguan sedikitpun dalam hati Will. Justru hatinya sangat senang karena inilah salah satu impiannya. Merawat orang usia lanjut demi bisa merasakan baktinya kepada mendiang kedua orang tuanya.


Sementara itu di Paris. Alisya atau yang lebih di kenal dengan nama Alexa telah menjelma menjadi gadis yang anggun. Perubahan banyak dilakukan pada penampilannya. Bukan hanya warna rambut namun cara dirinya berdandan pun mengikuti tuntutan karirnya yang semakin baik meski tak menjadi model terkenal.


"Lexa, bulan depan ada peragaan busana untuk sebuah perusahaan yang sudah terkenal. Namun mereka meminta model baru agar lebih fresh katanya. Nah kebetulan disini hanya kamu dan Lucy yang sedang free di waktu itu. Bagaimana, apa kamu tertarik?"


"Boleh kak, lumayankan buat nambah pengalaman." Jawabnya penuh semangat.


"Acaranya dilakukan di Bali dan Australia. Kebetulan pemilik perusahaan memang berasal dari sana." Monica kembali berujar disambut dengan senyum dan anggukan kepala dari Alexa.


Alisya tak pernah memilih dalam pekerjaan yang diberikan padanya. Pergi kemanapun dia akan lakukan kecuali ke Belanda. Dirinya masih takut untuk kembali menginjak negara tempat dirinya berasal.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


Williams melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa memasuki pelataran rumah Bram. Sahabatnya tersebut memberitahu tepatnya meminta tolong untuk dirinya bisa menggantikan Bram pergi ke Bali dalam sebuah event yang di gelar oleh perusahaan Ayodya milik mendiang nyonya Ayodya, mama Bram.


"Kau gila!! mengapa aku? kau tahukan jika aku tak bisa seenaknya meninggalkan rumah sakit." Gerutunya seraya menyugar rambutnya ke belakang dengan jari jarinya.


"Ck, kau terlalu berlebihan Will. Aku tak memintamu untuk meninggalkan rumah sakit. Hanya 3 hari saja, karena aku tak bisa meninggalkan Tiara. Kau tahu sendiri kan keadaan Tiara akhir akhir ini kurang baik. Lagi pula masih awal bulan depan, kau masih punya waktu untuk menyiapkan semuanya." Jawab Bram santai.


"Suta ada tugas lain, dia akan pergi ke Australia. Kebetulan ada beberapa pekerjaan disana yang harus diselesaikan. Apa kau ingin pergi ke sana? mungkin waktunya akan sedikit lebih lama dari acara di Bali. Paling lambat 2 minggu lah, terserah kau mau pilih yang mana dan setelahnya putuskan segera sebelum waktunya semakin dekat."


"Jangan khawatirkan masalah pembangunan pantimu. Doni akan mengawasinya dan aku pastikan semua akan baik baik saja." Lanjut pria tampan yang sedang berbahagia menanti kabar kehamilan sang istri. Tiara masih enggan untuk memeriksakan dirinya, meski semua tanda tanda sudah terlihat jelas.

__ADS_1


"Ya, ya kau adalah bos nya." Williams menyerah, dia tak akan pernah menang melawan sahabat baiknya tersebut. Bram tergelak kemudian menyambar cangkir kopi dihadapannya, meneguk isinya hingga tandas sebelum kembali tenggelam dengan berkas berkas yang telah menggunung di mejanya.


Sementara itu Edwin tengah sibuk mengurus segala surat kepindahan Albert dan nyonya Carlotta. Keduanya bersedia pindah dan memilih mengikuti Williams. Kehidupan baru adalah tujuan mereka kali ini. Albert juga ingin lebih fokus menjaga sang mama. Seperti yang dijanjikan Williams padanya, kalau dirinya akan tetap bisa bekerja sambil merawat sang mama tanpa harus mengkhawatirkan apapun lagi.


"Bersiaplah!! kemungkinan dalam waktu 3 hari kalian sudah bisa berangkat." Edwin tersenyum.


Permintaan Williams tak berat untuknya. Dengan senang hati Edwin melakukannya. Diantara saudaranya yang lain, Williams lah yang sangat menghargainya. Karenanya Edwin sangat bahagia karena merasa dihargai keberadaannya.


"Aku akan menyuruh orang menjemput kalian nanti malam. Kalian akan tinggal di kediamanku sambil menunggu segala sesuatunya beres. Ini agar mempermuda semuanya."


Albert tersenyum, entah harus dengan cara apa dirinya membalas segala kebaikan Williams.

__ADS_1


__ADS_2