
Matahari terlah meninggi rasanya ketika Alisya mulai mengernyapkan matanya karena cahaya matahari yang masuk melalui cela tirai dengan jendela yang sedikit terbuka.
Angin berhembus lembut mengantarkan uap panas yang terasa hingga kerongkongan Alisya terasa kering. Berulang kali gadis cantik tersebut mengernyapkan matanya menyesuaikan pandangan sebelum matanya terbelalak menatap jam diatas narkas.
"Jam setengah 12." Pekiknya pelan seraya beringsut bangun.
Ditatapnya sekeliling. Kamar ini belum pernah ditempatinya. Itu artinya, dirinya tak berada didalam kamar yang biasa dia tempati dulu di kediaman Williams. Lalu dimana dirinya sekarang?"
Alisya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum mencari tahu hal lainnya.
Hanya butuh waktu 20 menit baginya untuk menyelesaikan ritual pribadi tersebut. Alisya melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Mengedarkan pandangan kesegala arah, mencari keberadaan Williams yang tak terlihat.
"Jadi dia membawaku pulang ke apartemen nya. Tapi dimana Om Will?"
Alisya meneruskan langkahnya menyusuri setiap sisi apartemen. Hanya ada 2 buah kamar dengan sebuah dapur minimalis serta ruang bersantai yang langsung menyambung dengan ruang tamu yang hanya bersekat sebuah lemari dengan banyaknya hiasan di dalamnya.
Alisya menghentikan langkahnya di dapur dan menuang air dalam gelas serta meneguknya perlahan. Matanya tak sengaja melihat sebuah kertas yang tertempel di pintu kulkas. Senyumnya mengembang membaca pesan dari lelaki yang membuatnya tak lagi waras ketika berpikir tersebut.
"Maafkan aku karena harus meninggalkan mu sendiri. Ada pasien yang harus kutangani pagi ini. Aku sudah memesan makanan untukmu, sayang. Semua ku simpan dalam lemari, kamu bisa menghangatkannya nanti. I Love You."
*
*
__ADS_1
*
Williams keluar dari ruang oprasi dengan perasaan legah. Satu lagi orang yang mampu ditolongnya hari ini. Perasaan itu tak pernah berubah sejak awal dirinya menekuni profesinya sebagai dokter. Rasa bahagia dan syukur membalut senyumnya yang manis.
Dilepaskannya masker dan kacamatanya ketika telah memasuki ruang pribadinya. Diambilnya tisu yang ada diatas meja untuk mengelap keringat di dahinya. Selama 2 jam lamanya dia berbergelut dengan alat-alat guna menunjang kinerjanya.
Pintu terbuka dengan menampilkan suster Dini yang masuk dengan membawa air mineral dan juga secangkir teh hangat yang dia pesan. Asisten dan juga merupakan orang yang dianggapnya teman dekat selama di rumah sakit tersebut mengangguk sebelum meletakkan apa yang di pesan Williams.
"Selamat dok, operasinya berhasil." Ucapnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Terimakasih, sus. Semua karena kerja sama kita seluruh tim hingga kita berhasil melakukannya. Tapi kita harus ingat, untuk melakukan pemantauan sampai pasien benar-benar dinyatakan sembuh." Williams berujar di jawab anggukan kepala suster Dini.
Will sangat bersyukur dirinya bisa fokus. Sejatinya, Will melupakan jadwal oprasi hari ini karena semalam pikirannya benar-benar kacau. Beruntung nya, tadi pagi setelah berhasil membopong tubuh Alisya masuk ke dalam kamar di apartemen miliknya. Will menyempatkan diri untuk memejamkan matanya sejenak.
Mengingat Alisya, senyum di bibir Williams semakin mengembang membuat suster Dini yang masih bertahan diruangan tersebut mengernyitkan dahi.
"Dokter baik baik saja?" Tegurnya pelan membuyarkan lamunan Williams yang beberapa saat lalu telah kembali ke apartemen di mana Alisya berada.
Sedikit salah tingkah Will mengangguk kan kepalanya.
"Sus, setelah ini apa masih ada agenda lain?" Tanyanya karena dirinya benar-benar ingin pulang secepatnya. Bukan hanya ingin beristirahat namun lebih dari itu. Will khawatir Alisya marah ketika mendapati dirinya ditinggal sendirian di apartemen yang belum pernah dikunjunginya.
"Sepertinya untuk hari ini tidak ada lagi dok. Apa dokter ada kepentingan lain?"
__ADS_1
"Iya, aku ingin pulang lebih awal sus. Terus terang aku baru bisa memejamkan mata tadi pagi sebelum kamu menghubungiku. Semalaman aku tak bisa tidur." Will mendudukkan dirinya dan kembali kemasang kacamata yang sempat di lapnya hinga tak ada lagi keringat yang menempel disana.
"Kok tumben, dokter sedang sakit atau sedang ada masalah?"
Sebagai orang yang setiap hari mengurus segala kegiatan Williams tentu Dini sangat paham dengan rutinitas sang dokter.
"Alexa menghilang sejak kemarin membuat ku jadi berpikir tak karuan. Beruntung dirinya tak lagi nekat seperti dulu."
"Ha, Alexa kabur lagi? apa sudah ketemu dok?"
"Saat aku berangkat tadi dia masih tertidur."
"Tidur? maksud dokter Alexa datang ke sini?" Anggukan kepala Will disertai rona bahagia terlihat jelas di wajahnya yang tampan. Membuat suster Dini yang sempat dekat dengan Alexa ikutan mengulas senyum.
"Syukurlah, akhirnya kalian akan bersatu." Serunya heboh.
*
*
*
"Semoga, dan aku harap kedatangannya kali ini membawa jawaban atas apa yang aku tunggu."
__ADS_1