
Pernikahan yang sejatinya akan dilakukan di sebuah gedung yang berada di pusat kota telah mencapai 90 persen. Segala sesuatunya telah siap bahkan undangan yang entah sejak kapan dicetak sudah tersebar dikalangan rekan bisnis tuan Alisky maupun Oma Feli.
Williams berdiri di balkon kamarnya, ditatapnya sekeliling rumah besar Oma Feli. Terbayang segala kenangan masa kecilnya. Banyak hal yang telah dilewatinya dan semua tertanam rapih dalam ingatannya. Senyum terukir diujung bibirnya, teringat kenakalan kenakalan yang di lakukannya dulu bersama dengan Edwin, Jack dan Jonathan.
"Kau sedang tersenyum apa? jangan bilang jika dirimu sedang terkena virus bucin ya?" Edwin menepuk pundaknya pelan.
"Bucin? apa itu?" Will mengernyitkan dahinya.
"Budak Cinta. Aih makanya kamu tuh jangan obat saja yang di tekuni jadinya beginikan, ketinggalan jauh tentang cinta."
"Ish kamu ini, ingat umur. Kita sudah tak pantas lagi membicarakan soal ini."
__ADS_1
Will berusaha mengelak, sejak dulu pembicaraan tentang cinta adalah hal yang dihindarinya. Bukan hanya dirinya yang tak tahu tenang semua itu, bahkan untuk jatuh cinta pun baru merasakannya ketika bertemu dengan Alexa.
Edwin mencibir ke arah saudara angkatnya tersebut. Matanya menatap tajam ke arah lelaki sebayanya itu. Rasa haru menyeruak dalam hatinya. Will bukan hanya menjadi sumber kebahagiaan bagi Oma Feli namun juga bagi dirinya dan keluarga Om Fer.
Edwin mengingat betul kejadian dulu ketika dirinya masih kecil. Disaat Jonathan dan Jack malah mengolok-olok dirinya yang tak begitu lancar berbicara, minder dan suka menyendiri karena memang tak banyak yang mau berteman dengannya, Will datang menjadi satu-satunya teman baginya.
Will mengajarkan banyak hal hingga Ed kecil berhasil bangkit dan menemukan kepercayaan dirinya kembali. Will juga yang dengan telaten membantu Ed dalam bidang akademisnya hingga mereka berhasil lulus.
"Untuk?" Dahi dokter tampan tersebut berkerut.
"Semuanya, kamu telah memberi warna baru pada hidup Oma, aku dan juga banyak orang yang merasakan bagaimana melembutkan tangan dan hatimu. Kamu yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan ketika semuanya menjauh. Kehadiran mu membuat kami semakin sadar artinya memiliki dan menyayangi meski tanpa adanya ikatan. Will, aku berharap semua ikatan diantara kita tetap terjalin seperti ini. Jangan pernah berubah!! tetap jadilah Will kami yang rendah hati dan penuh kasih sayang. Jangan lupakan kami andai dirimu sudah bahagia nanti."
__ADS_1
"Hei!! kamu bicara apa sih. Aku tetaplah aku, memang harus berubah jadi apa?" Will menepuk pundak Edwin yang duduk disebelahnya.
"Yang berubah hanya statusku tapi aku pastikan tidak dengan diriku dan apapun yang aku lakukan. Kalian adalah keluarga ku setelah ayah dan ibu pergi, kalian lah yang aku punya."
Ed merangkul Will haru, lelaki 1 anak tersebut bahkan menitikan air matanya. Bersama Jack dan Jonathan yang nyata nyata mempunyai ikatan darah dengannya tak membuat Edwin merasakan hal ini.
"Haish, jangan menangis!! tidak lucu kalau sampai terlihat oleh orang lain." Ledek Will yang sebenarnya dirinya pun tengah diliputi rasa haru yang mendalam.
Disayangi sedemikian rupa oleh orang-orang yang jelas tak pernah ada dalam silsilah keluarganya membuatnya merasakan cinta dan kehangatan keluarga. Dimana rasa itu tak pernah dia dapatkan dari keluarga mendiang ayah dan ibunya. Mereka seolah enggan mengakui keberadaan Will sebagai bagian mereka kala itu.
Namun Will tak pernah membenci mereka. Terbukti ketika dirinya mendapat kabar bahwa sang paman sakit keras. Will datang bahkan dengan tangannya sendiri dia menangani sang paman hingga dinyatakan sembuh. Dengan tanpa menyimpan dendam, dia berharap semuanya akan berjalan baik.
__ADS_1