
Alexa terbangun ketika merasakan lapar di perutnya. Dia yang memang belum mengisi perut sedari pagi berusaha untuk bangun dari baringnya yang terasa nyaman. Tak biasanya Alexa tidur siang dalam waktu yang lama, apalagi senyeyak ini.
Sedikit linglung karena dirinya terbangun di tempat yang asing menurutnya. Sebuah kamar yang tak begitu besar, bahkan lebarnya saja hanya seukuran dua ranjang kecil. Tunggu dulu!! mengingat kata ranjang Alexa segera menatap tempat tidur yang sedang iya tempati. Dan dirinya segera melonjak dan berusaha turun dengan cepat.
Matanya berputar melihat sekeliling dan tersadar dengan benar bahwa ini bukanlah kamarnya. Tapi dimana?. Alexa buru buru memeriksa pakaian yang melekat di tubuhnya dan menarik nafas lega ketika semuanya masih rapih seperti semula.
Namun dahinya kembali berkerut dan berpikir kenapa dirinya sampai berada di kamar entah siapa dia pun tak tahu. Alexa kemudian terdiam dan berusaha untuk berkonsentrasi, mengingat ingat kembali kejadian sebelum dirinya terbangun di ruangan ini. Mata bulatnya kembali membulat semakin sempurna kala kembali mengingat apa yang telah dirinya lakukan sebelumnya.
"Astaga, apa yang telah aku lakukan? memalukan!!! bagaimana aku bisa bertemu dengannya nanti?" Lirihnya sambil menggigit ujung kukunya.
__ADS_1
"Bertemu siapa?" Suara Williams mengagetkan Alexa yang masih berdiri tak jauh dari ranjang.
"Ku kira kamu belum bangun. Makanlah dan minum obatmu." Williams meletakkan nampan kecil berisi makanan dan obat serta segelas air putih diatas meja kecil yang juga berada di dalam ruang yang bisa disebut kamar tersebut.
"Duduklah dan mulai makan. Kamu bahkan tak memakan sarapanmu dan juga obatnya tak kamu minum." Lanjutnya pelan namun tatapannya terasa menghujam hati Alexa yang kemudian buru buru mendekat kearah meja dengan wajah yang menunduk.
Hening menyapa ketika semuanya telah usai. Williams masih dengan diamnya dan Alexa dengan rasa bingungnya karena tak tahu harus berbuat apa. Hingga suara notifikasi terdengar dari ponsel Williams.
Melihat Will yang kembali sibuk dengan benda pintarnya. Alexa mengambil inisiatif untuk segera keluar dari ruangan pribadi yang berada di dalam ruang kerja Will ini. Sementara Will hanya melirik pergerakan yang dilakukan Alexa tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya.
__ADS_1
Sambil memeriksa beberapa email yang masuk kedalam ponselnya.
tiga puluh menit kemudian dirinya keluar dari ruangan dan pergi menuju ke bangunan yang diperuntukkan bagi keluarga Albert dan juga keluarga Usman. Seorang anak kecil berumur 2 tahun berlarian kesana kemari sambil tertawa ruang. Dia adalah anak dari Usman, seumuran dengan Abizar putra Dion.
Melihat kedatangan Will baik Usman maupun istrinya segera menyambut lelaki baik hati yang membantu mereka tersebut. Apa jadinya mereka jika seandainya Williams tak mengulurkan tangannya.
"Sudah mandi?" Will berjongkok didepan balita menggemaskan dengan pita kuning di atas kepalanya. Anggukkan kepala menjadi jawaban karena balita tersebut belum selancar Abi maupun Camelia dalam berbicara.
Tak jauh dari tempat itu nampak sepasang mata memperhatikan gerak gerik Williams sejak awal.
__ADS_1