
Williams terbangun dari tidurnya yang terbilang cukup nyenyak dibandingkan dengan beberapa hari belakangan. Dalam tenda yang semalam ramai telah berubah menjadi sepi. Para tentara yang nampaknya kembali ke pos masing-masing. Meski tak ikut maju berperang, namun peran mereka juga tak bisa diremehkan.
Menjaga para warga adalah salah satu tugas berat yang harus mereka tanggung. Selesai dengan urusan pribadinya dan merapikan diri. Williams berjalan keluar dari tenda. Tempat yang ditujunya kali ini adalah balai pengobatan. Tak ingin hanya berpangku tangan dan terfokus pada pencarian Alexa, Williams pada akhirnya turun membantu. Meski tujuan utamanya datang ke tempat ini untuk gadis itu. Akan tetapi sebagai dokter Will tak dapat membohongi hatinya sendiri.
Nampak 2 orang warga sipil yang duduk di samping tenda. Williams bergegas mendekat dan bertanya keluhan keduanya.
Gangguan pernafasan dan juga dehidrasi adalah yang paling kentara terlihat pada 2 orang warga tersebut. Selesai dengan ke dua orang tersebut, Will kembali melangkah. Kini kakinya mulai masuk ke dalam tenda yang nampaknya sedikit lebih besar dari pada tenda yang lainnya.
Didalam tenda yang digunakan sebagai balai pengobatan tersebut nampak lumayan ramai. Ada 4 dokter yang sedang berjaga disini. Menurut mereka 3 rekan dokter yang lain sedang dalam perjalanan ke camp pengungsian ke 5. Disana sedang membutuhkan tenanga lebih untuk membantu. Tempatnya yang memang paling dekat dengan daerah berkonflik membuat camp tersebut selalu ramai.
__ADS_1
Banyaknya korban yang terluka di rujuk kesana karena memang hanya disanalah adanya balai kesehatan yang terdekat. Rumah sakit yang digunakan sebagai camp ke 5 tentu bisa menampung lebih banyak pasien.
Meski terdapat salah satu bagian dari rumah sakit tersebut yang hancur akibat terkena tembakan nyasar, tak membuat surut tekat para dokter disana untuk terus mengabdi.
"Selalu bergantian kesana kah atau memang ada jadwalnya?"
Selesai membalut luka dan memberikan obat pada pasien. Will mengambil tempat duduk disebelah seorang dokter jaga yang usianya jauh lebih tua dari Williams.
"Bisa dibilang, camp 5 sebagai poros ya. Semua akan berkumpul disana." Will kembali bertanya.
__ADS_1
"Benar. Karena korban disana akan ada setiap harinya, dibandingkan dengan di sini.
Apa aku pergi dan menunggunya disana?
Will bergumam dengan hatinya sendiri. Mengabdikan diri untuk membantu sesama adalah tujuan Williams sejak kecil. Sesuai dengan janjinya di depan pusara kedua orang tuanya dulu. Tanpa melihat siapa dan mengapa, Will akan tetap mengulurkan tangannya demi bisa melihat senyum orang lain.
Williams memejamkan matanya. Kenangan 20 tahun silam kembali hadir dalam benaknya. Andai saja, ya andai saja waktu itu ayahnya tak melemparkan Will kecil melalui jendela, dan andai saja sang ayah mendengarkan rengekannya untuk tetap tinggal bersamanya dan tak kembali masuk untuk mencari sang mama yang kala itu berada di tengah gedung tempat berlangsungnya pesta. Mungkin, tuan Jhon masih hidup dan bersamanya kini.
Namun Will juga tak pernah menyalahkan keputusan yang diambil oleh ayahnya tersebut. Cinta kedua orang tuanya membuat Will sadar jika saat itu adalah saat tersulit bagi sang ayah untuk memilih.
__ADS_1
Beberapa tahun setelah kepergian mereka, barulah Will menyadari semuanya. Sang ayah melakukan hal tersebut bukan karena tak mencintanya, namun keadaan tak memungkinkannya untuk menentukan pilihan. Terlebih, Tuhan mempunyai takdir sendiri untuk mereka jalani.