I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 65


__ADS_3

Tak ada pembicaraan serius diantara mereka bahkan setelah acara sarapan bersama selesai. Tak ada yang menyinggung kejadian yang terjadi semalam. Oma dan Edwin bahkan telah pergi penuju panti beberapa menit lalu. Keduanya diantar oleh sopir yang khusus didatangkan oleh Williams. Dia yang memang tak pernah memakai jasa sopir tentu akan meminta bantuan langsung kepada Bram. Tak perlu waktu lama karena nyatanya sang sopir sudah tiba sesaat setelah sang sahabat mengatakan "iya."


Kini tinggal Alexa dan Williams yang masih bertahan di rumah karena ada beberapa hal yang perlu mereka bicarakan. Tentunya hal itu berkaitan dengan apa yang mereka bahas tadi malam secara singkat.


"Apa keputusanmu sekarang?" Will membuka percakapan ketika mereka sudah terdiam sedikit lama.


"Aku bingung, om?"


"Kenapa?, kamu tak lagi bermasalah dengan keluargamu kan?"


"Sejujurnya aku telah kabur dari rumah waktu itu, om." Jelasnya pelan.


Tentu saja hal itu mengagetkan Will, namun lelaki tersebut tetap diam. Menunggu dengan sabar hingga Alexa bersedia menceritakan sendiri masalahnya. Sesuai dugaannya dan juga Edwin tadi pagi, bahwa gadis itu memang sedang tertimpa masalah dengan keluarganya.


"Aku kurang sependapat dengan keinginan ayah. Selama ini aku selalu berusaha untuk menuruti semuanya. Aku bahkan masuk fakultas kedokteran hanya demi menyenangkan ayah. Meski Aku harus berlatih modeling secara sembunyi sembunyi."


"Trauma mendalam dimasa lalu yang merenggut nyawa mamaku membuat ayah memaksakan kehendaknya kepada kami. Bukan hanya aku, akan tetapi kakak ke duaku juga mengalami hal yang sama. Namun kakak tak merasa keberatan melakukan hal itu karena menurutnya menjadi dokter sangatlah bagus karena bisa membantu semua orang."

__ADS_1


"Aku ingin mengikuti jejaknya itu, menerima semuanya dengan ikhlas. Namun ada hal lain yang membuat aku nekat untuk memberontak. Hingga aku pergi ke Paris mengejar semua mimpiku tentu saja setelah aku merubah semua tentangku."


"Jadi? nama Alexa bukan nama kamu sebenarnya?"


"Iya, om. Namaku yang sebenarnya adalah Alisya Smith. Putri ke 3 dari tuan Alisky."


Berusaha tegar namun tetap airmata kembali mengalir di kedua sudut matanya. Will menghela nafas berat. Dia tak tahu harus melakukan apa sekarang. Yang dia kerjakan hanya mendekat mencoba memberi kenyamanan pada Alexa yang semakin terisak.


Setelah beberapa waktu menunggu gadis itu kembali tenang. Will memulai lagi ucapannya.


Alexa hanya diam namun anggukan pelan kemudian terlihat. Sepertinya gadis itu memang membutuhkan sedikit waktu lagi untuk bisa lebih menata hatinya. Dan Williams akan memberikan kebebasan tersebut agar Alexa tak merasa terkekang. Jujur saja dirinya juga takut setelah mengetahui fakta bahwa gadis belia yang berada disampingnya tersebut bisa melakukan hal nekat.


Setelah mengantarkan Alexa kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Williams melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya yang masih berada di lantai 2.


Ponselnya berbunyi beberapa detik kemudian dengan nama Monica tertera disana. Will meraihnya dengan cepat, dia benar-benar sudah tak sabar ingin mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi antara Alexa dan keluarganya. Untuk bertanya langsung pada Alexa tentu saja hal itu tak akan mungkin dilakukannya.


"Hai, dokter. Bagaimana kabar dokter?" Gadis disebrang sana mulai menyapa dengan riang. Sesuai dengan gaya Monica yang ceria.

__ADS_1


"Baik, bagaimana apa ada kabar?"


Monica tersenyum simpul. Baginya sudah biasa Will bersikap begitu, akhir akhir ini dokter tampan baik hati tersebut selalu nampak tak sabaran ketika menanyakan hal yang berhubungan dengan Alexa.


Sesaat sebelum dirinya berbicara berdua dengan Alexa tadi, Will sempat mengirim pesan pada Monica. Lelaki itu menanyakan tentang kakak Alexa yang pernah Monica sebut beberapa waktu lalu.


"Aku sudah berbicara dengan Akmal. Dan dia juga bersedia saat Aku meminta ijin untuk memberikan nomernya pada dokter. Tapi aku juga sudah memberikan nomer dokter padanya. Aku rasa dokter tak akan keberatan akan hal itu. Aku rasa tak lama lagi dia akan menghubungimu."


"Tentu, bahkan lebih cepat akan lebih baik. Oh ya kamu sudah selesai?"


"Sudah dok, tadi malam aku sampai di apartemen. Tapi aku butuh istirahat terlebih dahulu baru bisa menghubungi dokter dan juga Akmal."


"Makasih banyak atas bantuanmu."


"Sama sama, dok. Aku hutang nyawa pada Alexa jadi apa yang kulakukan saat ini belum apa apa dibanding dengan apa yang dia lakukan padaku." Monica kembali tersenyum.


Obrolan mereka terhenti ketika ada panggilan masuk ke ponsel Williams. Lelaki tersebut sekali lagi mengucapkan terimakasih pada Monica karena telah membantunya selama ini. Meski semua itu dilakukannya tanpa sepengetahuan Alexa.

__ADS_1


__ADS_2