
"Kamu mencintainya? jika iya maka kejarlah. Tak peduli seberapa jauh dan membutuhkan waktu berapa lama, jika memang kalian berjodoh maka semua akan menjadi lebih muda."
Kata kata yang Oma Feli ucapkan malam itu terus terngiang di benak Williams. Semangatnya kembali bangkit.
Setelah memberanikan diri untuk berkunjung ke kediaman keluarga Smith. Will yang kala itu memilih datang sendiri, perlahan menceritakan semuanya tanpa ada keraguan. Meski pada awalnya membuat keluarga Tuan Alisky merasa terkejut kecuali Akmal. Pada akhirnya Will bisa bernafas lega karena keluarga Alisya ternyata bisa memaklumi perubahan sikap Williams. Mereka juga mengatakan jika tak akan ada satu orangpun dari mereka yang akan ikut campur dengan permasalahan yang terjadi antara Will dan Alisya.
Baik Tuan Alisky maupun Deandra hanya berpesan kepada dokter tampan dengan mata biru berbingkai tersebut agar menghormati apapun keputusan yang akan Alisya ambil nantinya.
Tak ingin menunda waktu lebih lama lagi. Will segera memesan tiket untuk kepergiannya keesokan harinya.
Maka disinilah dia sekarang, di sebuah pesawat yang membawa tubuhnya terbang menuju tempat dimana pemilik hatinya kini berada. Dada Williams berdegup dengan kencang. Akan tetapi untuk kali ini dokter tampan tersebut lebih menikmatinya. Dia sudah sadar dan sepenuhnya sadar akan perasaan yang membuncah dalam dadanya. Will bahkan bisa tersenyum sendiri ketika bayangan wajah Alexa tiba-tiba melintas di pelupuk matanya.
Rasa tak sabar semakin kuat dia rasakan saat ini. Meski tak ia pungkiri ada sebersit khawatir yang menyelinap dalam hatinya.
Akan kah Alexa mau mendengarkan penjelasannya? atau gadis itu akan semakin marah dan membencinya nanti?
Will mengusap wajahnya pelan. Apapun hasilnya nanti dirinya akan pasrah dengan segala keputusan yang diambil Alexa. Bagaimanapun Will sadar, kesalahpahaman yang terjadi bermula dari dirinya yang tak mau terbuka dan langsung menuduh Alexa tanpa bertanya terlebih dahulu.
*
__ADS_1
*
*
Di sebuah desa kecil yang berada tak jauh dari kawasan konflik di daerah Rusia. Nampak Alexa sedang berkutat dengan kotak obatnya. Keseharian gadis tersebut memang tak bisa jauh dari obat dan alat medis lainnya. Sebagai dokter muda dengan pengalaman yang belum banyak tak membuat Alexa berkecil hati.
Apapun yang diketahuinya sewaktu masih mengenyam bangku kuliah benar-benar digunakannya sebaik mungkin. Alexa juga banyak mengingat apa yang diajarkan oleh suster Dini dan juga Williams padanya.
Ah, mengingat dokter tampan tersebut terkadang membuat rindu yang coba dia kubur, kembali hadir menyapa.
"Are you oke?" Adalah Aryan, seorang dokter muda dari Cina yang ikut serta seperti dirinya menjadi tenaga sukarelawan.
Alexa tersenyum manis, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dirinya hanya ingin fokus dengan misi yang dia jalani sekarang. Misi kemanusiaan seperti yang pernah dirinya janjikan dulu para Williams, ketika dirinya pertama kali menginjakkan kakinya kembali dikampus.
"Bersabarlah, nanti jika sudah saatnya kita akan kembali berkumpul dengan mereka."
Berkumpul!!! mungkinkah??
Pertanyaan itu tak seolah tak perlu ditanyakan lagi karena tentu jawabannya sudah pasti tak akan mungkin. Bahkan dalam benak Alexa kini Williams telah bahagia dengan kekasihnya. Atau barangkali mereka malah sudah menikah. Hanya dengan memikirkan hal itu saja sudah membuat hatinya sesakit ini. Alexa menggelengkan kepalanya pelan, mencoba kembali menguasai perasaannya.
__ADS_1
"Nanti sore aku akan pergi ke kota. Sudah 2 hari lamanya aku belum memberi kabar pada kekasihku. Aku merindukannya!!" Aryan tergelak, dia yang terbiasa bicara apa adanya selalu seperti itu.
"Kau tak ingin ikut? apa kau tak merindukan tunangan mu?"
Alexa nampak berpikir sebelum menjawab. Gadis itu memang mengaku telah bertunangan dan dengan sengaja memakai cincin yang dulu sempat dibelikan oleh William sebagai hadiah saat dirinya diterima kembali sebagai mahasiswa.
"Apa tak apa jika aku ikut?"
"Memang kenapa? bukannya cuma ikut dalam 2 mobil? sedang sampai disana tentu tujuan kita akan beda. Bukankah begitu?" Aryan yang sudah terbiasa kekota biasanya akan menghabiskan waktu seharian dengan menyewa kamar hotel untuk sekedar bisa melakukan panggilan vidio dengan sang kekasih.
Tinggal di pedalaman dengan minimnya fasilitas dan juga kurangnya sinyal yang disebabkan adanya konflik di negara tersebut membuat mereka harus pandai membagi waktu.
"Ok deh, aku ikut ya."
Aryan menganggukkan kepalanya. Semenjak menginjakkan kaki di cam para relawan, keduanya memang nampak dekat. Selain supel, keduanya tak pernah memilih milih teman.
*
*
__ADS_1
"Aku ingin menelponnya, tapi aku yakin jika bahkan namaku saja sudah dilupakannya."