
"Om, jawab dulu." Sejak pagi tadi, Alexa terus saja bertanya prihal kedatangan Williams yang tiba-tiba disana.
Akan tetapi sebanyak apapun gadis itu bertanya. Will hanya akan menanggapinya dengan senyuman dan berakhir dengan mengacak-acak rambut Alexa hingga gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal.
"Orang bijak mengatakan, jangan terlalu banyak bertanya agar dirimu tak termakan oleh rasa keingintahuan yang lebih parah lagi."
"Ha, teori dari mana itu Om?. Yang ada nih ya, malu bertanya sesat dijalan. Yang artinya kita perlu bertanya kepada orang lain tentang apa yang tidak kita ketahui. Bukannya malah diam saja."
Williams kembali tersenyum, gadisnya memang beda.
"Akan tetapi mengetahui lebih banyak hal juga tidak baik untuk kesehatan hati dan jantung. Sudah, jangan bertanya terus. Kita bergabung sama yang lain, ok."
__ADS_1
Alexa menurut meski bibirnya masih mengerucut karena Will tak pernah memberi jawaban apapun sementara hatinya terus saja bertanya-tanya.
Hari telah menjelang siang ketika dua buah helikopter datang dan berhenti tak jauh dari tenda tempat Jeffry dan rekan rekannya sedang berada.
Will, Alexa dan Arya masuk ke dalam salah satu helikopter yang akan membawa mereka menuju bandara terdekat untuk pulang ke negaranya masing-masing. Sementara satu lagi membawa sebagian relawan yang semalam ikut serta dalam rombongan kembali ke camp 1 atau 2 yang mana semua tergantung dari keputusan mereka sendiri.
Sementara yang tinggal adalah relawan yang memilih untuk sementara ikut bersama kelompok Jeffry menetap di hutan dalam pulau tersebut. Jeffry tentu saja tak akan mempermasalahkan apapun keputusan mereka. Baginya, semua ini mengingatkannya kembali ke masa dimana dirinya dan Mark harus hidup dalam hutan dan masuk kedalam camp camp lawan sebagai penyusup.
"Em, dokter Jhon. Boleh saya bertanya?" Arya yang sedang duduk disebelah Williams berujar sedikit kencang karena suara bising yang dihasilkan oleh mesin helikopter tak memungkinkannya untuk berbisik. Namun rasa penasarannya tak bisa dibendung lagi.
Will menganggukan kepalanya. Menoleh kearah Alexa yang duduk merapat disampingnya. Kedua tangan mereka saling menggenggam erat.
__ADS_1
"Komandan Jeffry. Em, kalian saling mengenal?" Ucapnya ragu.
"Dia sahabatku. Lebih tepatnya, saudara dia adalah sahabat terbaikku."
"Wah, aku semakin kagum dengan kalian. Kalian terlalu keren, yang satu dokter ternama dan yang satu komandan tentara yang sangat disegani. Kalian nampak menakutkan pada awalnya, namun sungguh kalian ternyata kalian sangat baik dan ramah. Aku sungguh beruntung bisa bertemu dan mengenal kalian." Arya berseru heboh membuat beberapa orang tentara yang ikut mengawal mereka menggeleng pelan.
Dalam hati mereka berujar lirih tentang kerasnya pengajaran yang Jeffry lakukan selama ini. Pemuda yang mereka panggil dengan sebutan komandan tersebut sangat mengerikan jika sudah berada di medan perang. Namun demikian, mereka sangat salut dengan cara kerja yang diambil Jeffry. Dia tak akan serta merta melakukan tugasnya sebelum benar-benar mengecek kebenaran atas info yang diberikan.
Kelompoknya adalah kelompok pasukan khusus yang disegani oleh kelompok tentara lain. Mereka tak pernah menunjukkan jati diri mereka kecuali sedang bertugas. Bahkan tak akan ada yang menyangka jika diantara mereka berprofesi sebagai pemulung, tukang panggul di pasar atau bahkan tukang sapu jalanan. Akan tetapi kemampuan mereka tak dapat diremehkan.
Tampuk kepemimpinan terbesar masih di pegang oleh Mark. Calon adik ipar Bram tersebut punya kuasa menggerakkan pasukan tanpa menunggu perintah. Namun demikian, Mark adalah orang kesekian yang dikenal. Edward dan Bram adalah dua orang yang bersembunyi dibalik layar pergerakan pasukan tersebut.
__ADS_1
Bahkan, Williams sendiri pun tak mengetahui jati diri sahabat baiknya tersebut hingga saat ini. Yang dia tahu, Bram adalah pengusaha muda sukses bukan seorang yang berpengaruh dalam dunia mafia.