I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 168


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Akmal memasuki halaman kediaman keluarga Smith. Tak ada yang mencurigakan karena memang rumah sedang di hias sedemikian rupa untuk menyambut pesta pernikahan Alisya keesokan harinya.


Namun ada kejutan lain di taman samping yang khusus di buat untuk menyambut calon ibu yang nampak sumringah ketika turun dari mobil. Wanita dengan dres biru muda tersebut menyambut uluran tangan sang suami dengan penuh semangat.


Sedikit bertanya ketik Akshan membawanya ke taman samping bukan langsung masuk ke dalam rumah. Dengan santai Akshan mengatakan jika di ruang tengah sedang ada kesibukan. Untuk itu lebih baik mereka melewati pintu samping yang berada di sisi taman.


Bergelanyut manja di lengan suami, wajah Cindi nampak berseri-seri. Tak ada lagi pucat di sana, dokter juga mengatakan jika kondisinya saat ini sangat baik. Meski begitu dokter tetap berpesan padanya untuk selalu menjaga pola makan dan mengurangi stress atau hal hal yang bisa memacu emosinya secara berlebih.


"Welcome to home mommy Cindy, we love you."


Cindi menutup mulutnya dengan mata berkaca kaca melihat balon yang tertata rapih di sisi taman. Tak hanya itu, nampak rangkaian bunga dan keluarga besarnya berkumpul disana.


Kedua matanya mengembun dan rasa haru menyeruak dalam dadanya. Apalagi ketika tiga bocah menggemaskan yang selalu dia bayangkan nampak berada di barisan paling depan dengan bunga di tangan masing-masing. Senyum Cindy semakin lebar dan dengan perlahan wanita hamil tersebut melangkah menuju ke arah mereka yang tengah menunggunya.


"Welcome tante cantik, putli Cameli siap menunggumu."


"Ecom ate tantik, love you."

__ADS_1


"Ecom, lo you. Ate."


Ketiga bocah membuat gelak tawa disana kembali terdengar. Cindy berjongkok dengan kedua tangan terentang menyambut ketiganya. Di ciuminya bergantian wajah menggemaskan ketiganya. Ada harapan yang terselip dalam hatinya, berharap sang anak yang masih berada di dalam rahimnya dapat tumbuh sehat seperti mereka.


Cindy melepaskan pelukannya dan membiarkan ketiga bocah berlarian dengan riang. Kini perhatiannya tertuju pada sang mama yang tersenyum di depan sana. Air mata wanita baya tersebut tak dapat terbendung lagi. Rasa haru menyeruak dalam hati kecilnya.


"Mama."


"Selamat sayang, akhirnya Tuhan mengabulkan segala doamu selama ini. Jaga dia dengan baik."


"Terimakasih, mama." Tangisnya pecah, keduanya saling berpelukan erat.


*


*


*

__ADS_1


Di kediaman Oma Feli.


Will nampak uring-uringan tak jelas, seharian ini dirinya dilarang keluar rumah. Bahkan Will pun tak diperbolehkan memegang ponselnya barang sebentar. Padahal dokter tampan tersebut sangat merindukan suara Alisya.


Edwin yang melihat saudaranya tersebut tersenyum geli. Entah dapat ide dari mana yang jelas mereka melakukan apa yang disarankan oleh Bram. Lelaki tampan tersebut dengan serius mengatakan jika itu merupakan ritual wajib. Dan bodohnya, Will percaya dan membiarkan kala Bram menyita ponselnya.


Sementara Bram malah pergi bersama keluarga kecilnya untuk memberi kejutan atas kepulangan Cindy dari rumah sakit.


Tak bisa mendengar suara Alisya ditambah tak adanya ke tiga bocah biang rusuh membuat hari seorang Williams terasa sangat panjang dan menyiksa. Berkali-kali dokter tampan tersebut menghela nafas berat dan mengumpat pelan karena kesal.


Oma Feli sendiri sampai tertawa melihat kelakuan cucu angkatnya tersebut yang nampak sangat frustasi.


*


*


*

__ADS_1


"Dulu dia terlihat sangat kaku dan dingin, siapa sangka jika kini telah tumbuh menjadi lelaki yang hangat dan juga penuh cinta. Oma bahagia untuk mu nak." Lirihnya dengan mata berkaca kaca.


__ADS_2