
Belanda.
Sore itu, setelah kepergian Alisya tentunya. Akmal segera bergegas pulang, pemuda dengan tatapan tegasnya tersebut menemui sang ayah yang telah menunggunya diruang keluarga bersama sang mama. Keduanya nampak tersenyum lebar ketika melihat putra keduanya tersebut masuk ke dalam.
"Kita jahat tidak sih melakukan hal ini?"
Akmal menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang berada tepat dihadapan kedua orang tuanya hanya terhalang sebuah meja dengan beberapa camilan dalam toples di atasnya.
"Demi kebaikan adikmu, kak. Kamu tahu sendiri bagaimana dia kan? ayah dan mama cuma nggak mau adikmu kembali berkeliaran seperti kemarin. Dengan menikah, kemungkinan buat Alisya melakukan hal hal yang membahayakan dirinya sendiri tentu akan semakin kecil. Ayah percaya, dokter Will mampu membimbing adikmu dengan baik."
Yang Akmal lakukan tadi pagi bukan murni karena pemikirannya sendiri. Dua hari sebelumnya, sang ayah, Tuan Alisky memintanya untuk bertemu dan berbicara. Beliau menyampaikan semua rasa takut yang selama ini mengganggu pikirannya. Keputusan Alisya yang sering kali tak bisa ditebak membuat lelaki paruh baya tersebut selalu dicekam rasa takut dan was was.
Bagaimanapun, Alisya adalah seorang anak gadis. Meski dirinya percaya sang anak bisa menjaga dirinya dengan baik namun sebagai seorang ayah rasa takut itu pasti di rasakan.
"Semoga saja, apa yang kita lakukan ini adalah yang terbaik untuk Alisya."
"Semoga ayah. Mengingat berapa besar cinta dokter Jhon untuknya. Dia yang memiliki kesibukan yang luar biasa sampai nekat mengabaikannya hanya demi bisa menemukan Alisya dan membawanya kembali."
__ADS_1
"Kita hanya membantu memberi jalan kak. Bagaimanapun, cinta itu sudah ada dalam hati mereka. Mama hanya berharap kalian semua bahagia bersama pasangan kalian masing-masing." Deandra turut menyela.
Bagaimanapun kebahagiaan anak anaknya adalah yang utama baginya saat ini.
*
*
*
Gadis yang telah membuat hatinya tak karuan sepanjang siang hingga saat ini. Tak peduli dengan nyeri dikepala dan rasa kantuk yang terasa enggan menyapanya sepanjang malam. Williams melangkah pelan dengan hati yang sedikit tenang.
Ketakutan yang tadi menghinggapinya perlahan lenyap berganti rasa bahagia yang membuncah.
"Sayang." Lirihnya
Alisya yang berjengkit segera menoleh dan menampilkan senyum manisnya menatap ke arah Williams yang berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Dengan perlahan gadis cantik tersebut menghambur kedalam dekapan hangat Williams yang memeluknya erat.
Keduanya berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam. Alisya bahkan sudah bergelanyut manja di lengan Williams. Senyum lelaki tersebut semakin mengembang sempurna setelah hampir dibuat gila beberapa jam yang lalu.
Will mengemudikan mobilnya perlahan meninggalkan bandara. Ditolehnya Alisya yang telah menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan mata yang sedikit terpejam.
"Tidurlah!! nanti ku bangunkan jika sudah sampai." Ucapnya lirih setelah membenarkan posisi kepala Alisya agar lebih nyaman. Di curinya sebuah kecupan di kening gadis tersebut sebelum kembali melajukan mobilnya.
Hatinya kembali menghangat meski semalaman matanya tak lagi terpejam. Pagi ini ditemani dengan semburat matahari yang menyingsing diufuk timur, Williams kembali tersenyum dengan rasa cinta yang semakin dalam terasa dalam debaran dadanya. Berulang kali ditolehnya Alisya yang tengah terlelap dijok sampingnya, menyakinkan diri bahwa semua ini nyata dan bukan lagi khayalannya. Gadisnya telah kembali, itu artinya tak lama lagi semua mimpinya akan terwujud.
*
*
*
"Mengarungi indahnya hidup bersamamu adalah mimpi yang ingin ku wujudkan kali ini. Memberikan cinta dengan segenap rasa yang mungkin tak akan pernah mampu aku ucapkan. Namun percayalah, aku mencintaimu dengan kesungguhan hati dan jiwaku, Alisya Smith."
__ADS_1