I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 157


__ADS_3

Kebahagiaan ternyata bukan hanya di kediaman Oma Feli dan juga keluarga Smith. Pada kenyataannya mereka yang berada dalam pesawat pun sedang bersorak sarai penuh canda tawa.


Beruntung sekali Bram memilih untuk menggunakan pesawat pribadi. Jika tidak, maka bisa dibayangkan bagaimana hebohnya para penumpang pesawat melihat tingkah menggemaskan kedua bocah kakak beradik yang tak pernah bisa diam. Keduanya seolah memiliki tenanga ekstra untuk berjalan dari sudut satu ke sudut lainnya.


Tak ada yang melarang bahkan seolah mereka membiarkan kedua bocah tersebut menjalankan aktifitas mereka sepuasnya.


Alisya yang sejak tadi berada tak jauh dari ke dua bocah nampak kini telah kecapekan sendiri. Dia memilih duduk dan menyandarkan kepalanya pada lengan Williams yang disambut dengan genggaman mesra pada jarinya.


Tak jauh dari sana, nampak Tiara telah melakukan hal tersebut lebih dulu. Bahkan ibu dari dua bocah super aktif tersebut nampak telah memejamkan matanya.


"Tidurlah!! mumpung mereka sedang tenang dengan mainnannya." Bram mengecup lembut kening sang istri sambil matanya tak lepas mengawasi ke dua buah hatinya yang nampak sedang bercanda dengan beberapa kru pesawat.

__ADS_1


Sang princess nampak sangat antusias berceloteh dan melenggang lenggokkan tubuhnya mengundang gelak tawa yang lain. Sementara sang adik sedang asyik dengan mobil mobilan yang baru tadi di dapatnya dari acara ngambek di depan sebuah toko ketika perjalanan menuju bandara.


Rombongan yang berhenti sejenak karena sang princess yang mendadak ingin buang air kecil membuat mereka berhenti di sebuah SPBU, namun ternyata si bungsu malah tertarik dengan toko mainan yang berada tak jauh dari sana.


"Kamu sudah memberi kabar pada ayah dan yang lainnya, sayang?" Will berujar pelan sambil membelai rambut Alisya.


"Heem, mereka kelihatan senang sekali pas aku bilang akan pulang hari ini. Aku dapat melihat binar bahagia dikata ayah dan mama."


"Mereka pasti merindukanmu."


"Karena mereka sangat menyayangimu, rasa rindu itu tak akan pernah hilang atau berkurang, bahkan akan semakin bertambah setiap detiknya"

__ADS_1


"Bagaimana denganmu? apa kamu juga akan merindukanku seperti mereka?"


"Tentu sayang. Bahkan bisa dibilang lebih parah dari mereka. Karena aku akan melampiaskan rinduku itu dengan menghubungi mu setiap waktu." Will menarik lembut jemari Alisya, manaruhnya di depan dada setelah mengecup nya sesaat.


"Disini, selalu tersimpan namamu. Dan wajahmu terlukis juga disini. Setiap aku merindukanmu, maka aku akan membayangkan dirimu berada dalam dekapanku seperti saat ini." Lanjutnya sambil menatap lekat wajah Alisya.


"Aku rasa setelah ini kamu harus beralih profesi, hon. Rasanya tidak pas saja kamu menyandang sebutan dokter."


Will mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Alisya. Sedikit bingung namun dirinya menahan untuk tak langsung bertanya. Menunggu hingga sang kekasih meneruskan ucapannya.


"Seharusnya kamu melamar jadi raja gombal setelah ini, Hon. Kayaknya lebih cocok sekarang ini." Alisya mengerlingkan matanya.

__ADS_1


Will tergelak pelan seraya menarik ujung hidung Alisya hingga gadis itu memekik dan memukul dadanya pelan tanda protes. Interaksi keduanya tak luput dari lirikan Bram dari tempatnya berada. Lelaki tersebut menyunggingkan senyumnya melihat bagaimana sahabat nya nampak bahagia dengan wajahnya yang selalu berseri-seri.


"Kau pantas bahagia, Will. Dan mungkin, kinilah saatnya untuk kau menuai segala kebaikan yang kau tanam selama ini. Aku turut bahagia untukmu, selalu." Gumam Bram dalam hatinya.


__ADS_2