
Seminggu lamanya Oma Feli dan Edwin berada di rumah Williams. Selama itu pula Oma lebih banyak menghabiskan waktunya di panti. Dia yang selalu nampak bahagia merasa kurang semangat hari ini. Kemarin adalah hari terakhir baginya berkunjung ke sana. Kesedihan nampak jelas dimatanya yang keriput. Namun baik Williams maupun Edwin tak dapat berbuat banyak. Mereka mengerti tentang apa yang dirasakan oleh Oma namun jujur saja semua sangat sulit mereka kabulkan.
"Oma bisa datang berkunjung lain waktu. Kapanpun Oma mau pasti Ed akan menemani." Edwin berjongkok didepan Oma dan menggenggam jemari keriput tersebut. Oma tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Diantara semua cucunya memang Edwin lah yang selalu ada untuk Oma. Dulu Ed bersama Will selalu ber rebut agar bisa berdekatan dengan Oma. Hingga sekarang pun jika bersama mereka akan berdebat dan merebutkan Oma. Berbeda dengan Jack dan Jonathan yang nampak acuh dengan apa yang mereka lakukan.
Keduanya menoleh saat Williams masuk kedalam kamar dengan tergesa-gesa. Lelaki tampan tersebut menatap bingung ke arah Oma dan Edwin.
"Ada apa?" Ed berdiri dan menghampiri Williams.
Huuuft.
"Aku bingung, Oma bisakah membantuku saat ini?"
Will mendekat pada Oma dan duduk didepan kedua kaki oma guna bisa meletakkan kepalanya di paha wanita baya tersebut.
"Kau kenapa?" Edwin mendekat dan bertanya kembali kepada Williams yang malah menyerahkan ponselnya.
__ADS_1
Edwin mengernyit namun dia menerima ponsel tersebut dan mengutak-atik isinya. Tak lama matanya terbelalak dan menatap Williams penuh tanya.
"Ini?"
"Tuan Alisky. Benar?" Will menatap Edwin yang perlahan menganggukkan kepalanya.
"Ayah Alexa?" Tanya Williams, dan lagi lagi Edwin mengangguk.
"Bagaimana aku harus mengatakannya para Lexa? ayahnya sedang kritis dan sekarang sedang menjalani perawatan. Dan sayangnya beliau tak mau menyentuh obatnya sama sekali. Bahkan dokter harus mengikat tangannya saat memberikan suntikan atau infus. Jika tidak, maka tuan Alisky akan mencabut infus itu dan membuangnya."
Wanita baya tersebut menatap lekat wajah cucunya. Dia tersenyum dan menepuk pundak Will pelan.
"Ed, kita bersiap berangkat. Dan kamu Will tetaplah disini dulu dan tunggu kabar dari Oma. Jaga dia baik baik dan jangan sampai dirinya kabur lagi karena jika itu terjadi semua akan semakin repot."
"Oma punya rencana?"
"Ya, tapi setidaknya biarkan Oma pulang dulu. Percayakan semuanya pada Oma. Tuan Alisky akan baik baik saja."
__ADS_1
Williams mengangguk, dia memang lemah dengan hal begini. Kehilangan kedua orang tua di waktu yang bersamaan membuatnya melemah. Will akan merasa senang jika dirinya berhasil menyelamatkan orang tua dari setiap pasiennya. Namun dirinya akan bersedih ketika melihat seorang anak menangis. Takdir memang tak bisa dicegah namun setidaknya dirinya telah berusaha sebisanya.
Mereka bertiga keluar dari kamar dengan Williams yang menggandeng Oma. Di depan meja makan nampak Alexa yang sudah duduk menunggu dengan beberapa piring berisi makanan di depannya.
Mereka menikmati sarapan seperti biasanya. Hanya ada canda dan obrolan singkat hingga makanan tandas. Oma melangkah ke arah wastafel dimana Alexa sedang berkutat dengan tumpukan piring kotor bekas mereka tadi. Sementara Will dan Ed memilih berlalu ke ruang. Mereka mengobrol santai sambil menunggu waktu hingga Oma dan Edwin berangkat ke bandara.
Williams mengendarai mobilnya, lelaki itu memilih mengantarkan sendiri sang Oma. Sebelum ke bandara mereka mampir sebentar ke panti. Oma sampai menitikkan air matanya ketika berpamitan dengan sahabat sahabat barunya disana. Nyonya Carlotta pun nampak bersedih, keduanya berpelukan erat. Will melirik Edwin yang juga sedang meliriknya.
"Oma." Istri Usman datang bersama putrinya dan memeluk Oma dengan erat. Waktu seminggu memang sangat singkat mereka rasakan tapi semua itu tak pernah merubah rasa sayang yang sudah hadir diantara para penghuni panti.
Albert adalah orang terakhir yang memeluk Oma. Lelaki itu sangat bersyukur sahabatnya bertemu dengan wanita itu. Albert tahu betul betapa sayangnya Oma Feli pada Williams. Mereka sempat ngobrol lama dan Oma selalu bangga dan berbinar ketika menceritakan bagaimana Williams selama ini dimatanya.
"Kami akan merindukan, Oma. Sehat terus ya oma." Ucapnya seraya mengurai pelukan.
"Oma, sudah waktunya." Ed berbisik pelan sambil merangkul pundak wanita itu.
Oma mengangguk kemudian melambaikan tangannya. Tak berapa lama mobil melaju meninggalkan panti.
__ADS_1