
Mendapat persetujuan dari ayahnya membuat Akmal bertindak cepat. Bersama sang kakak dirinya mulai mengurus surat kepindahannya. Pemuda tampan dengan sorot tegas tersebut sangat bersemangat. Dia yang sudah sangat merindukan sang adik rasanya tak ingin menunda waktu terlalu lama.
Tak hanya mencari pengalaman, namun misi utamanya adalah membawa sang adik kembali. Andai kata Alisya tak ingin kembali menetap bersama keluarganya, setidaknya gadis itu masih mau kembali untuk menjenguk ke dua orang tuanya.
Akmal sangat paham bagaimana keluarganya kini. Terlihat tegar namun sebenarnya mereka masih sangat rapuh dan selalu mengharapkan Alisya kembali. Mendapati semangat sang ayah untuk sembuh setelah mengetahui keberadaan dan juga keadaan sang adik cukup membuat Akmal mengerti.
"Aku juga ingin pergi. Tapi aku yakin ayah tak akan mengijinkannya. Terlebih lagi keadaan ayah yang sudah tak setangguh dulu." Akshan mendesah pelan.
Siang tadi semua surat surat Akmal telah selesai diurus. Hanya tinggal menunggu waktu, pemuda itu untuk berangkat menyusul Alisya. Tentu saja semua skenario sudah tersusun rapi. Kedatangannya hanyalah sebagai calon dokter yang sedang mencari pengalaman.
Rencana itu sudah disusun matang matang meski nanti Akmal akan menempati apartemen milik Williams. Mereka akan bermain secara profesional.
__ADS_1
Bukan bermaksud membohongi Alexa namun lebih menjaga agar gadis tersebut tak lagi kabur saat mengetahui bahwa Williams telah berhubungan dengan salah satu kakaknya. Mereka hanya ingin membuat pertemuan yang murni tanpa kesengajaan nantinya.
"Kakak tetap disini saja. Jaga ayah dan juga keluarga kita. Aku akan membawa Alis kembali cepat atau lambat. Doakan juga aku bisa meraih mimpiku nantinya, kak."
Kedua kakak beradik itu tak pernah berpisah. Dari kecil keduanya selalu saling menggenggam tangan untuk menguatkan. Kehilangan sosok mama diusia yang masih kecil membuat mereka tangguh sebelum waktunya. Kehadiran Deandra membuat mereka sangat senang, selain ada yang kembali merawat mereka juga Alisya yang kala itu masih berusia satu tahun. Deandra juga sangat memperhatikan tuan Alisky, ayah mereka.
"Bersemangat lah. Tunjukan padaku, pada ayah dan pada dunia jika kamu mampu dan berikan rasa bangga kepada mama kita di surga. Juga penghargaan kepada mama Dea yang sudah bersabar terhadap segala tingkah kita selama ini."
Akshan menepuk pundak Akmal pelan. Dia benar-benar menaruh harapan besar kepada adik adiknya. Mereka ber tiga harus lebih sukses lagi dari pada dirinya. Untuk itu, Akshan lebih memilih untuk langsung bekerja membantu sang ayah.
Cindi mondar-mandir dalam kamarnya. Gadis itu menggerutu kesal. Sejak tiga puluh menit yang lalu dirinya menghubungi sang kekasih namun hingga detik ini pun tak sekalipun Akshan membalas pesannya.
__ADS_1
"Menurut Susan dan Mandi, dia sudah pulang sejak sejam yang lalu." Sungut nya semakin kesal.
Akshan memang menyakinkan dirinya bahwa tak ada lagi wanita lain selain dirinya. Namun Cindi tak lantas merasa tenang karena pada kenyataannya sang kekasih memiliki penggemar yang tak diketahuinya.
Akshan begitu sempurna. Gagah, rupawan serta telah memiliki penghasilan dan usaha yang tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri untuk lawan jenis mendekatinya.
"Ihhh, dia kemana sih." Kesalnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Tak ingin terlalu larut dalam pikiran jelek. Cindi memilih mendengarkan musik dan memejamkan matanya.
Sementara Akshan masih saling berbicara menghabiskan waktu bersama Akmal. Rasanya sudah lama keduanya tidak begini. Akshan yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dan Akmal yang selalu menghabiskan waktu dengan semua kegiatan kampusnya membuat waktu mereka berdua tersita.
__ADS_1