I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 159


__ADS_3

Keluarga Smith menyambut kedatangan Oma Feli beserta rombonhannya. Suasana suka cita benar-benar terasa di rumah yang masiih seperti dulu. Tak ada yang berubah meski puluhan tahun telah berlalu. Sosok wanita dalam foto yang ada di ruang tengah juga masih ada disana. Sosok ibu kandung bagi Akhsan, Akmal dan juga Alisya. Wanita kuat yang berjuang demi bisa melahirkan Alisya kedunia ini hingga harus mengorbankan nyawanya sendiri.


Dua jam sebelum kedatangan rombongan Oma Feli. Nampak Tuan Alisky berdiri disana. Menatap wajah mendiang sang istri yang sedang tersenyum manis disana.


Meski tak terucap, banyak makna dari tatapan mata yang di berikan oleh ayah 4 orang anak tersebut. Rasa cintanya tak pernah memudar untuk mendiang sang istri meski kini hatinya harus terbagi kepada istri keduanya yang tak kalah dicintainya.


Bukan tak sakit hati, namun Deandra sudah biasa dan mengikhlaskan semuanya. Dirinya menyadari bahwa hadir dirinya dulu hanya sebagai pengganti. Meski begitu dirinya tahu bahwa dihati suaminya juga ada namanya. Perlakuan lelaki tersebut tak pernah berubah meski di awal awal sempat melakukan penolakan.


"Ayah." Sapanya pelan, sedikit takut mengganggu keseriusan sang suami yang entah sedang memikirkan apa di hadapan foto mendiang istri pertamanya itu.


Tuan Alisky menoleh dengan senyum di ujung bibirnya. Tangannya terulur meminta Deandra untuk mendekat.


"Aku sedang berterimakasih pada nya, sayang. Aku juga sudah menuntaskan tugasku untuk ke dua kalinya. Hanya tinggal menunggu Akmal." Tuan Alisky mendekap erat Deandra dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku ingin merombak nya, apa boleh?" Lanjutnya dengan sedikit berbisik di samping telinga sang istri.


"Merombak apa?"


"Foto kita, aku ingin merubahnya. Ada kamu dan kita disini. Apa kamu keberatan untuk itu, sayang?"


Deandra menggelengkan kepalanya. Tak banyak memang yang dia minta. Sejak awal foto dirinya hanya berada bersama anak anaknya yang terpajang indah disana. Sementara foto mendiang istri pertama yang juga ibu kandung ke tiga putra putri Smith masih terpampang nyata diantara mereka.


Hanya sebuah foto, Deandra tak pernah mempermasalahkan semuanya. Baginya, kasih sayang yang di terimanya dari sang suami dan anak anaknya sudah lebih dari cukup daripada harus membuang waktu dengan cemburu pada orang yang telah tiada. Meski rasa itu pernah dan dia rasakan juga.


Dan benar saja, tak berapa lama semua telah berubah. Bukan hanya penataan ruang namun juga letak foto dan hiasan di rubah sedemikian rupa hingga menimbulkan kesan baru dalam ruangan tersebut.


Bibir Deandra semakin mengulas senyum. Entah kapan suaminya tersebut menyiapkan semuanya. Kini tak hanya ada foto mendiang istri pertamanya saja disana. Namun juga ada foto dirinya sendiri dan juga foto Deandra. Dengan foto ke empat anak mereka yang mendominasi hampir seluruh bagian sisi dinding ruang tengah.

__ADS_1


Sementara itu di sudut lain rumah berlantai dua tersebut. Tepatnya disalah satu kamar nampak seorang wanita cantik dengan wajah sedikit sembab meringkuk di salah satu sudut kamar.


Sejak kemarin, Cindi merasakan jika moodnya sedang tidak baik baik saja. Apa yang didengarnya secara tak sengaja dari bibir mertuanya membuat hatinya perih.


Dia yang merupakan menantu pertama dari anak tertua di rumah tersebut tentu merasa sedih mendengar keluhkesa mertuanya yang menginginkan kehadiran seorang cucu. Meski terkesan bercanda, namun ungkapan yang keluar dari bibir tuan Alisky mau tak mau mengusik hatinya.


"Astaga, sayang!! kamu kenapa?" Akshan yang baru keluar dari kamar mandi terperanjat kaget mendapati keadaan sang istri yang sedemikian rupa.


Sejak semalam Akshan telah berusaha memberi pengertian pada wanita kesayangannya tersebut. Namun nyatanya pagi ini sang istri kembali bersedih.


Akshan segera mengangkat tubuh Cindi dan membaringkannya kembali ke tempat tidur. Diciuminya wajah sembab tersebut penuh cinta. Tak ada yang bisa dirinya lakukan selain meyakinkan sang istri bahwa semua pasti ada waktunya.


"Setelah acara Alis selesai, kita konsultasi dengan dokter ahli ya." Rengeknya dalam dekapan sang suami.

__ADS_1


"Iya, apapun sayang. Apapun akan aku lakukan asal bisa mengembalikan senyummu. Aku sakit jika melihatmu begini. Aku mencintaimu dengan hatiku. mencintai segenap apa yang ada pada dirimu sampai nanti. Berjanjilah untuk tidak lagi begini!! bukankah ada aku yang akan selalu menggenggam tanganmu?" Akshan merangkum wajah Cindi dan di ci uminya seluruh bagiannya. Mencoba menyalurkan segala cinta yang dia punya untuk saling menguatkan diri.


__ADS_2