
Setelah beberapa hari menentap di camp 2,Williams pada memilih meneruskan tujuannya. Kali ini dirinya tengah berada disebuah mobil logistic yang mengangkut bahan pangan dan obat untuk dibawa ke camp 5. Pengawalan sedikit ketat diberlakukan kali ini. Mengingat musuh bisa saja menyerang melalui bahan pangan yang mereka bawa.
Beruntung nya, apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Mereka bernafas lega ketika iringan mobil telah memasuki gerbang kota. Itu artinya mereka telah aman.
Williams mencoba menghidupkan ponselnya yang telah mati beberapa hari lamanya. Tak adanya sinyal yang masuk membuat benda pipih yang sangat dibutuhkan banyak orang tersebut layaknya benda tak berguna.
Ponsel menyalah dengan menampilkan foto bagian depan rumah sakit yang dipercayakan oleh mendiang ayah Bram padanya. Foto yang dijadikan wallpaper ponselnya tersebut tak pernah dia ganti semenjak dirinya menginjakkan kakinya dirumah sakit itu.
__ADS_1
Will tersenyum ketika membaca pesan yang masuk di ponselnya. Banyak pesan dari oma Feli dan juga Edwin. Namun matanya mendelik ketika membaca pesan yang dikirim Bram untuknya, lelaki tersebut mengatakan akan memotong semua gajinya sebagai kepala rumah sakit karena telah mangkir terlalu lama dan lalai terhadap tugasnya.
"Ckck, bukannya dia yang menyuruhku untuk mengambil cuti dan berlibur? dasar plin-plan." Gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.
Williams melewati pesan sistem yang berada di bawa pesan Bram. Dirinya beralih pada pesan yang Akmal kirim. Pemuda tersebut mengatakan jika oma Feli sempat berkunjung ke kediaman keluarganya beberapa hari lalu. Dan keluarganya pun telah mengetahui apa yang telah terjadi antara dirinya dan Alisya.
Will mengusap wajahnya kasar, dia hanya bisa berharap bisa segera menemukan gadis itu dan membawanya kembali. Baru setelahnya dia akan mencoba menjelaskan semuanya termasuk pada keluarga Smith.
__ADS_1
Will mengernyapkan mata beberapa kali ketika pesan tersebut memberitahukan nya jika nomer Alexa telah aktif kembali 2 hari yang lalu. Ingin berteriak namun Williams segera tersadar di mana dirinya kini tengah berada.
"Dokter, kita telah sampai." Seorang sipil yang ikut dalam pengawalan bahan logistic tersebut menginstrupsi Will, membuat lelaki tersebut mendongak dan menatap keluar dimana sebuah rumah sakit terpampang jelas dihadapannya.
Benar apa yang dikatakan dokter di camp 3 waktu itu. Tempat ini berbeda dengan camp camp yang lainnya. Hiruk pikuk orang berlalu lalang nampak jelas terlihat. Wajah panik, tangisan serta teriakan sering kali terdengar. Belum lagi suara gemuruh tembakan dan bom yang entah di arah mana. Pesawat tempur yang terbang rendah pun seolah sudah menjadi hal biasa di sini.
Will segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit. Setelah menuju bagian informasi, dirinya segera bergabung dengan para dokter yang lain.
__ADS_1
Sementara di camp 3 tempat dimana Alexa sedang bertugas kini nampak masih sepi. Setelah ke pindahan dokter An, Alexa benar-benar sendirian. Hanya Arya lah yang dekat dengannya sementara yang lain hanya sekedar kenal. Namun gadis cantik tersebut selalu punya banyak akal untuk menghilangkan rasa bosannya.
Seperti sore ini, dirinya berada ditengah-tengah anak anak kecil yang tinggal di pengungsian. Diajaknya mereka bernyanyi dan bermain untuk sedikit menutup trauma yang pastinya mereka alami nantinya. Disaat seperti ini, Alexa kembali teringat akan keluarganya. Saat saat berkumpul dan bercengkrama dengan mereka adalah saat yang paling membahagiakan baginya.