I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 155


__ADS_3

Pada akhirnya apa yang diucapkan Bram benar-benar terjadi. Keluarga kecil tersebut melakukan liburan dadakan dengan agenda yang benar-benar tak pernah direncanakan sebelumnya. Hanya karena sang princess yang tak mau lepas dari Williams mereka mengala.


"Lena, bantu aku mengemasi barang barang anak anak ya. Jangan terlalu banyak, cukup yang biasa mereka cari saat mau tidur saja itu yang paling penting sepertinya." Tiara berjalan menghampiri Lena yang telah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka semua.


Sedang Sita yang baru saja keluar dengan membawa semangkok sup yang masih mengepulkan aroma wangi ditanyanya hanya menjadi pendengar saja. Entah mengapa sejak seminggu yang lalu moodnya sangat tidak bisa dikondisikan.


Marah tiba-tiba dan terkadang ingin menangis tanpa sebab. Dan sekarang, dia ingin memasak sup padahal hari masih pagi dan biasanya mereka hanya sarapan salad sayur atau buah dengan segelas jus atau susu.


"Kau memasak sup?" Lena mengerutkan keningnya aneh.


"Iya, dan aku ingin kalian semua memakannya sampai habis." Senyum Sita merekah membuat Lena dan juga Tiara yang masih berada di meja makan saling pandang.


"Kamu sehat kan?" Lena menempelkan punggung tangannya di dahi Lena, memeriksa apakah rekannya tersebut demam atau apa.

__ADS_1


"Sembarangan!! kau pikir aku sakit?" Sita memberengut dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Ha, aku kan hanya ingin memastikan saja. Tak bermaksud lain." Lena salah tingkah melihat perubahan yang terjadi pada Sita.


"Ya sudah sebaiknya kita makan, aku sudah tak sabar untuk mencicipinya. Hemm, baunya membuatku lapar."


Tiara mengerlingkan matanya memberi kode pada Lena agar tak terus mendebat apa yang diinginkan Sita. Dan terbukti, istri Doni tersebut langsung tersenyum dengan mata berbinar penuh semangat.


Seakan mengerti arti tatapan masing-masing. Baik Tiara maupun Lena berbicara lewat sorot mata mereka. Ada hal yang berbeda dari Sita dan jika benar dugaan mereka. Bisa dipastikan jika akan ada suara bayi lagi di kediaman besar ini dalam beberapa bulan yang akan datang.


"Enak seperti biasanya. Apalagi kau menambahkan lebih banyak daging dan juga brokoli didalamnya." Tiara berujar sambil menyantap sup dalam mangkuknya.


Lagi Sita bersikap aneh dengan bertepuk tangan. Membuat keduanya semakin yakin dengan apa yang mereka pikirkan.

__ADS_1


"Ah, hanya tinggal aku yang sendiri disini." Lena menatap Sita dan juga Tiara bergantian.


Sementara itu di kediaman Williams. Camelia yang tak ingin ditinggal memaksa ikut dan memilih menginap di kediaman Williams. Bocah menggemaskan tersebut tertidur dalam dekapan Williams yang memang bukan pertama kali bagi keduanya untuk tidur bersama.


Alisya menggela nafas pelan. Sepertinya dirinya harus kembali bersabar. Setelah terbebas dari masalah Clara yang sedikit mengusik perasaan dan hatinya. Kali ini Alisya harus dihadapkan dengan gadis kecil yang sayangnya sangat menggemaskan dan disayang oleh semua orang termasuk calon suaminya dan juga dirinya sendiri.


Gadis itu menggeleng pelan, sambil tersenyum tipis. Mana mungkin dirinya cemburu pada bocah berumur 5 tahun itu. Sangat konyol rasanya.


Alisya masih berdiri ditempatnya. Menatap kedua orang yang terlelap saling memeluk itu penuh kehangatan. Membayangkan jika dirinya nanti memiliki anak. Pastinya pemandangan seperti ini akan dilihatnya setiap waktu. Pipi Alisya memerah, gadis itu menepuk keningnya pelan, menyadarkan diri dari mimpi yang memang sudah mulai mereka rajut berdua.


Dikecupnya kening Will dan juga Camelia bergantian sebelum dirinya berlalu menuju kamarnya sendiri yang berada disebelah kamar Williams.


"***Aku sayang kalian, mimpi yang indah ya!!" Ucapnya sebelum pintu tertutup perlahan.

__ADS_1


Sementara senyum tipis tersungging di bibir Williams yang sebenarnya belum terlelap***,


__ADS_2