I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 167


__ADS_3

Dua hari sudah Cindi menjalani perawatan. Sebenarnya dokter pun telah mengijinkannya pulang hari itu juga setelah infus habis. Namun Akshan tak mengijinkannya, mengingat di kediaman orang tuanya sedang sibuk mengurus pernikahan Alisya. Tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan kembali mengingat sang istri yang sedikit keras kepala jika dilarang. Akshan terpaksa meminta dokter untuk mengatakan jika wanita yang nampak bahagia terlihat dari senyum dan tawanya yang selalu terukir di wajahnya itu harus menginap dan beristirahat.


"Kak, benarkan kita bisa pulang siang ini?" Tanyanya dengan mulut yang sedang mengunyah kue bolu yang di bawa oleh Monica semalam.


"Iya, setelah kamu sarapan dan minum obat serta vitamin tentunya." Akshan mendekat dengan semangkok bubur ditangannya.


Cindi mengangguk penuh antusias, dia benar-benar ingin bertemu dengan kedua bocah menggemaskan. Rasanya sungguh tak sabar meski dirinya tahu bahwa kedua anak itu tak akan langsung berada di kediaman keluarga Smith. Namun harapannya untuk bisa bertemu dengan mereka lebih besar dibanding masih berada di rumah sakit.


Hanya dalam waktu singkat, bubur di tangan sang suami habis tak tersisa membuat Akshan tersenyum bahagia. Lelaki tersebut juga mengusap lembut wajah sang istri penuh sayang.

__ADS_1


Dan tepat di jam 11 siang, pasangan calon orang tua baru tersebut benar-benar keluar dari rumah sakit. Akmal yang menjemput keduanya nampak mengukir senyum tipis di bibirnya melihat sang kakak yang nampak sangat bahagia itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, ada canda tawa disana. Beberapa kali mereka berhenti hanya sekedar menawarkan si ibu hamil kalau kalau ada yang diinginkannya. Akan tetapi Cindi tetap menggelengkan kepalanya. Dia hanya ingin bermain seperti waktu berada di kediaman Oma Feli waktu itu.


*


*


*

__ADS_1


Tak hanya mereka berdua, nyatanya ke tiga bocah kecil menggemaskan pun hadir diantara mereka semua. Princess Camelia dan juga pangeran nampak antusias. Dengan baju ala ala jaman kerajaan ketiga bocah berdiri dengan setangkai bunga mawar merah, putih dan kuning masing-masing di tangan mereka. Putra Edwin yang tumbuh sebagai bocah yang introvert seperti sang ayah secara perlahan telah menunjukkan perubahan besar. Kehadiran Camelia dan adiknya sungguh membawa pengaruh besar pada bocah 3 tahun itu.


Tak khayal, jika kini mereka nampak sangat menggemaskan. Camelia tampil cantik dengan gaun ala putri berwarna pink dengan bandana senada. Begitupun putra Edwin dan Pangeran yang memakai jas dengan dasi kupu kupu terpasang di sana.


"Papa, Camelia cantik kaya putli kan?"


"Tentu, putri papa kan memang cantik." Bram mencubit gemas pipi bulat sang putri. Rasa sayangnya pada Camelia tak pernah berkurang sedikitpun meski telah hadir pangeran yang nyata sebagai putra kandungnya. Tak ada perbedaan yang terjadi pada pria tampan tersebut.


"Kata mama, Camel cantik kaya putli yang baik hati. Telus adek kayak pangelan belkuda putih yang datang jemput putli." Celotehnya menggemaskan membuat semua orang yang ada disana tergelak.

__ADS_1


Tiara bahkan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya. Berbeda dengan pangeran yang cenderung bersikap tenang dan cuek. Balita tampan yang mewarisi semua ketampanan sang papa itu hanya menoleh sekilas sebelum kemudian kembali menatap lurus kedepan dengan setangkai mawar merah ditangannya.


__ADS_2