
Pikiran Williams kian berkecamuk, bukan hanya gelisah namun hatinya mendadak kacau tak menentu. Sejak percakapan terakhir yang mereka lakukan, ponsel Alisya tak lagi bisa dihubungi. Terlebih, Akmal dan Monica yang sengaja Williams hubungi mengatakan jika mereka tak tahu menahu soal Alisya karena keduanya belum pulang ke rumah dan mendadak lembur di tempat kerja masing-masing. Dan parahnya, Will belum sempat menyimpan nomer ponsel atau nomer rumah kedua orang tua Alisya.
Ingin kembali menghubungi Akmal tentu itu tak mungkin. Dokter muda tersebut tadi mengatakan jika dirinya ada oprasi mendadak yang harus dihadirinya di sebuah rumah sakit.
"Astaga Lexa, aku mohon mengertilah. Aku hanya ingin berkata jujur padamu tentang segala hal. Andai aku tahu tanggapanmu begini aku tak akan menceritakannya. Tapi aku hanya ingin adanya kejujuran diantara kita." Will bergumam frustasi.
Sementara itu di sebuah pesawat dengan tujuan Indonesia, seorang gadis nampak merenung dengan pikiran yang juga kacau.
Setelah memutuskan panggilan vidio dengan Williams pagi tadi. Alexa segera memesan tiket dengan penerbangan tercepat pada hari itu juga. Dia tak ingin kembali menyesal dengan keputusannya.
Tuan Alisky yang awalnya bingung dengan keputusan mendadak sang putri pada akhirnya mengerti. Sebagai seseorang yang pernah merasakan bagaimana dasyatnya jatuh cinta dan rindu tentu dirinya memaklumi perasaan sang putri.
Tak ada lagi larangan yang keluar dari bibir lelaki paruh baya tersebut kepada semua yang diinginkan anak anaknya asal mereka bahagia dan aman menurut versi mereka. Tuan Alisky tak ingin lagi merasakan kehilangan dan diacuhkan oleh mereka. Cukup kasus Alisya memberi banyak pelajaran baginya.
"Ada apa kak? tumben ngajak Alis ke taman?"
"*Kakak hanya ingin bicara berdua denganmu. Namun kakak harap, setelah ini kamu berpikir semakin terbuka. Boleh kakak nanya sesuatu yang lebih privasi padamu?"
__ADS_1
Alisya mengangguk. Sebelum kembali berbicara, Akmal menarik nafasnya perlahan dan menghembuskan nya dengan cepat.
"Bagaimana hubunganmu dengan dokter Jhon sejauh ini?"
"Kami baik kak."
"Kamu mencintainya?"
"Kenapa kakak bertanya begitu?"
"Jawab saja."
Akmal kembali menarik nafas dalam. Ditatapnya sang adik yang juga menatapnya penuh tanya.
"Jika kau mencintainya, kejarlah!!."
"Maksud kakak apa? Alis nggak ngerti."
__ADS_1
"Dek, dengarkan kakak. Dokter Jhon bukan orang sembarangan, dia adalah seorang dokter yang terkenal bahkan hingga keluar kenegara lain. Tentu kamu mengetahuinya bukan?" Alisya menganggukkan kepalanya.
Tentu dirinya tahu dan bangga akan keberhasilan lelaki yang selalu nampak tampan dimatanya tersebut.
"Diumurnya yang sekarang, dokter Jhon tentu sudah tak ingin main main dengan hidupnya. Sudah saatnya dia mengarungi biduk rumah tangga. Jika memang kamu mencintai dan serius dengannya, maka segeralah memberi keputusan akan pinangannya waktu itu. Jangan terus kau gantung dia seperti ini, dek. Mungkin untuk saat ini segalanya akan aman aman saja. Namun kita tak akan pernah tahu kedepannya bagaimana. Jangan kamu anggap semua sepele. Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi tanpa kita sadari. Pesona dokter Jhon tak hanya indah dimatamu saja, meski hatinya mungkin menjadi milikmu sesuai dengan yang dikatakannya. Namun ada banyak orang yang juga menginginkannya tak peduli meski hatinya tak tergapai." Akmal menjedah ucapannya, kembali menatap sang adik yang tertunduk disampingnya.
"Jika memang dirimu tak berkeinginan untuk bersamanya, maka bicarakan padanya secara gamblang. Biarkan dia bahagia dengan hidupnya tanpa harus menunggumu yang belum pasti."
"Kakak bicara begini hanya untuk kebaikan kalian berdua. Kakak tahu dan paham, Alis masih ingin bebas bermain tanpa ikatan. Tapi alis juga nggak boleh egois. Kasihan dokter Jhon yang menunggu keputusanmu dek*."
Kata kata Akmal pagi tadi, kembali menjadi hal yang menari dalam pikiran Alisya kali ini. Seolah alam membenarkan apa yang diucapkan sang kakak hingga tak perlu menunggu waktu yang lama sang kekasih memberi kabar yang membuat hatinya semakin kacau.
Alisya tentu tak ingin kehilangan, dia tak bodoh hingga bisa menerima begitu saja alasan yang di ceritakan oleh Williams tentang kehadiran Clara kembali dalam hidup lelaki tersebut. Meski tak secara langsung, namun naluri Alisya mengatakan jika wanita itu juga menyukai Williams.
*
*
__ADS_1
*
"Om, tunggu Alis datang. Aku mohon, jaga hati Om untukku." Gumamnya lirih