I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 63


__ADS_3

Alexa merebahkan tubuhnya, letih ditubuhnya tak begitu dirasakannya karena rasa letih dihatinya seakan semakin hari semakin meningkat. Tak terasa air matanya kembali mengalir dari ke dua sudut matanya. Tak bisa dipungkiri bahwa rasa rindunya sangat mendalam pada keluarganya. Rasanya ada yang berdesir kala ada yang menyebut salah satu nama keluarganya seperti tadi.


"Ayah, mama, kakak Aks, kakak Akmal dan Alin. Apakah kalian juga merindukanku?


Ucapnya seraya menghapus air matanya kasar.


Bayangan sang ayah berkelebat diujung matanya. Lelaki paruh baya yang sangat keras kepala namun sangat dirindukan nya kini. Ayahnya adalah orang yang paling menyayanginya selain Akshan. Bukan berarti yang lain tidak, namun ayah dan Akshan adalah tempat ternyaman bagi Alisya untuk mengaduh.


Will yang berniat kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan beberapa laporan yang dikirim Dini masuk ke dalam emailnya, menghentikan langkanya tepat di depan pintu kamar Alexa ketika isakan gadis tersebut terdengar lirih.


Perlahan didekatkan telinganya ke daun pintu kamar Alexa dan benar saja dirinya mendengar gadis itu menangis. Lagi dan lagi jantungnya berdetak kencang. Rasa cemas itu kembali hadir dan membuatnya harus menarik nafas panjang beberapa kali sebelum memberanikan diri mengetuk pintu.


Tak ada respon dari Alexa membuat Will semakin panik. Lelaki tampan tersebut langsung mendorong pintu dengan tak sabaran. Pintu yang memang tak terkunci terdorong dengan kuatnya bersama tubuh Williams yang menerjang masuk. Lantai 2 yang hanya dihuni oleh mereka berdua perlahan mulai gaduh. Setelah suara dentuman pintu yang terbuka dengan kuat menatap tembok terdengar kembali teriakan Will yang memanggil Alexa dengan suara keras penuh dengan kekhawatiran.


Oma Feli dan juga Edwin yang tidur dikamar tamu yang berada di lantai bawah sampai terlonjak kaget dan berusaha segera keluar untuk memastikan apa yang terjadi.


"Lexa."


Will meraih tubuh Alexa yang sesaat tadi terlonjak kaget dengan suara pintu dan juga teriakan Will. Gadis itu nampak terbengong dan kebingungan. Otaknya berusaha berpikir cepat namun tetap saja tak sampai. Dibiarkan nya Williams yang memeluknya erat hingga lelaki tersebut kemudian melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


"Lexa, kau tak apa apa? ada apa, apa ada yang mengganggumu? kenapa menangis?"


Alexa yang terbengong pun akhirnya tersadar. Matanya mengernyap beberapa kali dan menatap Will bingung.


"Katakan padaku jika ada masalah, kau tak sendiri ada aku, ok." Will mengusap jejak kebasahan di pipi Alexa. Jantungnya masih berdetak dengan kencang.


Di ruang kerjanya tadi, Williams sempat menghubungi dokter Irwan yang merupakan ahli jantung. Will menceritakan apa yang sering dialaminya akhir akhir ini. Keduanya melakukan janji temu esok pagi. Dan malam ini Will kembali mengalami sesuatu yang memicu detakan jantungnya kembali menggila.


"Aku, aku rindu keluarga ku." Lirih Alexa sambil menundukkan wajahnya dalam.


Hembusan nafas lega terdengar dari bibir Williams. Di rengkuh nya kembali tubuh Alexa dengan pelan.


"Aku takut."


"Takut? apa keluarga mu memperlakukanmu dengan buruk selama ini?" Alexa menggeleng cepat, bukan mereka yang melakukan hal buruk namun dirinyalah yang membuat situasi buruk untuk keluarganya.


"Lalu kenapa harus takut? kalau kau mau, aku bisa mengantarmu untuk menemui mereka." Alexa mendongak menatap manik biru itu lekat. Tatapan mata itu terlihat tulus dan membuat Alexa terhanyut hingga hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.


Apa yang terjadi di lantai 2 sudah berangsur tenang dan terkendali. Namun berbeda dengan apa yang terjadi di lantai 1.

__ADS_1


Dimana Edwin yang berusaha untuk menopang tubuh Oma Feli yang tetap memaksa untuk naik ke lantai 2 guna melihat apa yang tengah terjadi meski fisiknya tak memungkinkan untuknya naik turun tangga.


Berulang kali Edwin meminta Oma untuk menghentikan langkahnya yang tertatih itu namun selalu ditolaknya. Ingin meninggalkan namun Ed tentu saja tak akan setega itu. Tapi jika menunggu Oma dirinya juga khawatir terjadi sesuatu pada Williams atau Alexa di lantai atas sana.


"Ya ampun kepalaku berat sekali." Keluhnya pelan.


Hanya tinggal 7 unggakan lagi akhirnya Ed memilih melangkah cepat didepan Oma dan langsung menuju kamar Williams. Namun sebelum dirinya melangkah semakin jauh terdengar sayup-sayup suara orang sedang berbicara. Ed membuka pelan pintu kamar Alexa yang sedikit terbuka dan matanya terbuka lebar dengan mulut yang mengaga.


Sedikit kesal datang menghinggapi nya namun kemudian teredam ketika melihat Alexa yang terisak. Huff, pada akhirnya Ed pun hanya bisa mengelus dadanya sendiri. Bertepatan dengan Oma yang tiba di sampingnya. Wajah tengang dan panik yang terlihat pada wanita baya tersebut perlahan sirna diganti dengan sebuah senyuman kala melihat bagaimana sang cucu mendekap erat tubuh Alexa dan berusaha menenangkan nya.


"Kalian kenapa?" Suara Edwin membuat pelukan keduanya terlepas.


Sontak Will dan Alexa menoleh kearah pintu secara bersamaan. Alexa kembali menunduk dan Will yang menyadari itu segera kembali memeluk pundaknya menenangkan.


"Tak apa. Biar aku yang menjelaskan pada mereka nanti. Sekarang tidurlah dulu, besok kita bicarakan lagi semaunya." Alexa menurut.


Segera merebahkan tubuhnya dan menarik selimut setinggi mungkin untuk menutupi seluruh tubuh dari kaki hingga kepalanya. Malu rasanya membuat keributan di hampir tengah malam begini.


Will segera keluar setelah memastikan bahwa Alexa telah berbaring nyaman. Diajaknya Edwin untuk masuk ke kamarnya bersama dengan Oma yang digandeng nya dengan lembut.

__ADS_1


"Huuft, menyebalkan." Gumam Ed yang merasakan kantuknya sudah sepenuhnya menghilang padahal dirinya tadi baru saja akan mengarungi mimpi setelah selesai menghubungi sang istri.


__ADS_2