
Hingga sarapan selesai belum ada percakapan diantara keduanya. Williams yang merasa ada keanehan pada diri Alexa mencekal lengan gadis tersebut kala melangkah hendak keluar dari ruang makan.
"Ada apa denganmu? sejak tadi aku bertanya namun kau tak menjawabnya sama sekali. Apa aku ada salah?"
"Ti.. tidak ada, om."
"Kalau tidak ada kenapa kamu jadi begini? jika ada sesuatu yang mengganggumu atau mengganjal pikiranmu katakan saja. Atau mungkin kau merasa tak nyaman dengan pembicaraan kita semalam? aku minta maaf untuk itu. Aku hanya ingin menceritakan apa yang kualami selama ini. Jika itu yang menganggu pikiranmu maka lupakan saja. Anggap saja kau tak pernah mendengar apapun dan tak tahu apapun tentangku. Mulai sekarang aku juga tak akan lagi bertanya tentangmu. Kamu tenang saja, aku pasti akan menepati ucapanku." Williams berujar seraya berdiri dari duduknya.
"Oh ya, terimakasih untuk sarapan nya." Tambahnya seraya berlalu pergi, meninggalkan Alexa yang masih termangu dengan segala ucapan Williams.
Alexa menggelengkan kepalanya, bukan karena pembicaraan mereka semalam. Namun tiba-tiba mood Alexa sedikit hancur setelah kedatangan Dini tadi pagi. Dia sendiri tak tahu mengapa jadi begitu. Disaat dirinya tersadar, Will telah keluar rumah ditandai dengan bunyi deru mobil yang keluar dari halaman.
Huuft.
__ADS_1
Williams menghela nafasnya. Rencananya hari ini dia akan mengajak Alexa berkunjung bahkan menginap di kediaman Bram diurungkan sesaat yang lalu. Sepertinya dia akan berangkat dari rumahnya sendiri.
Mood nya juga perlahan berubah, Will memilih menghabiskan waktunya di panti. Bercanda bersama Albert dan juga Usman membuatnya sedikit tenang.
Usman yang harus pasrah beraktifitas menggunakan kursi roda nya nampak bersemangat ketika menyambut kedatangan Williams. Baginya, Will merupakan malaikat penyelamat bagi keluarganya.
"Hallo jagoan." Will mengangkat batita berumur 2 thn tersebut hingga membuatnya tertawa karena senang.
"Seperti yang kamu lihat, kami semua baik baik saja." Albert berujar dengan bahasa yang masih sedikit belepotan.
"Wow, kau sudah mahir bahasa rupanya. Kemajuan." Ejek Williams sambil manggut-manggut disambut gelak tawa yang lain.
Doni datang dengan beberapa kertas laporan di tangannya. Pembangunan panti sudah selesai dilaksanakan dan hanya menunggu waktu pembukaannya saja.
__ADS_1
Tim oprasional pun sudah dibentuk dengan menempatkan Albert sebagai pimpinan panti dengan Usman sebagai wakilnya. Tak lupa Doni pun akan berada disana sebagai kepala keamanan disana nanti. Tugasnya sebagai pengawal Tiara telah selesai karena Bram tak lagi mengijinkan sang istri untuk bekerja. Toko sepenuhnya menjadi tanggungjawab Sita dan Sherli yang pada akhirnya mau terjun membantu.
"Syukurlah semua berjalan lancar. Hanya tinggal menunggu waktu saja." Ucapnya setelah membaca ringkasan laporan yang Doni tunjukkan padanya.
"Jadi kapan semua oprasional bisa berjalan?"
"Kapanpun sebenarnya sudah bisa dijalankan. Lagipula peresmiannya kan sudah dilakukan. Hanya saja kita perlu melakukan sosialisasi lagi agar orang lebih mengenal panti ini."
"Oh ya hampir lupa. Kemarin ada 2 keluarga lagi yang datang mengantarkan dua orang untuk kita rawat. Keduanya masih sehat hanya saja tingkahnya sudah seperti anak kecil. Butuh kesabaran extra untuk menjaga nya. Kalau boleh, bagaimana jika kita membuka lowongan. Kita cari suster yang sudah berpengalaman merawat orang tua. Yang paling penting mereka harus sabar." Albert yang memang bersemangat mendukung penuh niat baik sang sahabat nampak sangat ber antusias.
"Biar saya nanti coba mencarinya bersama Sam. Karena kita benar-benar membutuhkan tenaga yang mengerti tentang cara merawat orang tua." Doni yang sedari tadi hanya mendengarkan pun akhirnya ikut angkat bicara.
Hingga petang menjelang barulah Williams beranjak meninggalkan panti dengan mood yang semakin membaik.
__ADS_1