I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 127


__ADS_3

Makan dengan tak semangat begitupun sesudahnya. Alexa yang memilih untuk segera kembali kedalam kamarnya terpaksa harus mengurungkan niatnya. Lagi lagi Williams mencegahnya untuk kembali naik.


"Aku ingin istirahat, Om." Sentaknya berusaha melepaskan genggaman tangan Williams.


"Tidak untuk sekarang. Ayo ikut!!"


Alexa menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya dia tak akan pernah bisa menolak keinginan Williams yang selalu bisa memaksanya untuk menurut.


Keduanya berjalan menuju lantai atas. Dimana terdapat taman kecil dengan beberapa hiasan lampu di sudut nya. Tempat ini adalah tempat favorit Williams dan Edwin menghabiskan waktu mereka saat remaja dulu.


Tak banyak yang berubah dari tempat tersebut. Hanya saja, orang-orang yang dulu sering menempatinya tak lagi berkunjung setiap waktu.


Alexa mendongakkan wajahnya menatap langit yang nampak cerah malam ini. Berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang sedang tak menentu. Ada sedikit sakit yang terus menghujam disana. Alexa menghela nafasnya dalam dalam mencoba mengusir sesak yang dirasakannya meski hanya sedikit.


Kabar kehamilan Clara membuatnya semakin buruk. Dia yang pernah menaruh harapan kemarin ternyata harus kembali dikuburnya dalam dalam. Will bukan lagi hal yang bisa dijangkaunya. Lelaki itu telah memiliki kehidupannya sendiri dan Alexa harus tahu diri untuk tidak lagi menjadi pengganggu diantara mereka.


*


*


*

__ADS_1


"Jadi, Om. Benar Clara sedang hamil?"


Alexa tak lagi dapat menahan segalanya. Dirinya harus tegas demi kenyamanan hatinya dan juga demi kebaikan Will dan Clara tentunya. Dan anggukan kepala Williams membuatnya kian menarik nafas panjang.


"Lalu, kenapa Om malah berada disini?"


Williams mengernyitkan dahi. "Kenapa emangnya? ada yang salah?"


"Bu.. bukan begitu Om. Kalau Om disini lalu bagaimana dengan Clara disana. Apalagi keadaannya yang sedang mengandung."


Will menarik pinggang Alexa agar gadis tersebut mendekat kearahnya. Dipeluknya dari belakang tubuh semampai yang membuatnya selalu merasakan senam jantung beberapa waktu terakhir ini.


"Clara memang sedang hamil saat ini. Mungkin sebentar lagi dirinya akan melahirkan." Will menjedah sebentar ucapannya untuk menarik nafas.


"Dia sudah mengandung saat masuk menjadi tenanga magang di rumah sakit. Jadi enyahkan pikiran burukmu tentangku, aku mungkin seorang bajingan menurutmu. Namun aku tak sepicik itu."


"Aku sempat berpikir untuk menjalani hubungan yang serius dengannya setelah kepergianmu waktu itu. Namun aku masih beruntung, karena kebenarannya segera terungkap."


"Mak.. maksud Om?" Alexa memutar badannya dan menghadap kearah Williams. Sorot mata keduanya beradu pada garis lurus.


Tangan Will yang semula masih melingkari pinggang Alexa perlahan bergerak menyelipkan rambut gadis cantiknya ke belakang telinga kemudian menangkup wajah itu dengan ke dua tangannya.

__ADS_1


"Dia ingin aku mengakui anak yang dikandungnya adalah anakku." Will kembali menghela nafasnya.


"Aku tak menerimanya bukan karena bayi itu. Namun karena Ketidakjujurannya, bahkan mereka masih tinggal bersama kala itu. Kamu pikir aku akan mau menerimanya?"


"Bukankah Om mencintainya?"


Williams menggeleng cepat. Tak sedetikpun dia melepaskan tatapannya pada mata Alexa yang menuntut kejujuran darinya. Mungkin bibir gadis tersebut tak ingin berucap namun Will menyadari makna dari sorot mata tajam yang dapat menembus jantungnya tersebut.


"Cintaku sudah mati disaat aku mengetahui jika gadis yang aku cintai adalah orang yang sama, yang menolak perjodohan denganku. Aku marah dan kecewa saat mengetahui semuanya. Sampai akhirnya Aku membuatnya pergi dari sisiku. Namun kepergiannya juga membawa semua isi hatiku hingga aku sendiri tak tahu apa yang aku mau setelah kepergiannya."


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan pada gadis nakal itu untuk mengobati rasa sakitku?"


"Aku bahkan tak mengenali diriku sendiri untuk beberapa waktu lamanya. Hingga membuat segala fokusku berantakan. Semua berantakan hingga pihak rumah sakitpun memberiku peringatan."


*


*


*


"Lexa, aku mencintaimu. Entah kamu mau percaya atau tidak. Aku tak lagi mampu untuk menyembunyikan semua rasa ini, Aku tak sanggup. Kehilanganmu waktu itu membuatku seperti orang hidup namun mati. Kembalilah padaku, Lexa. Aku mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2