
Jadwal keberangkatan Akmal telah ditentukan. Pemuda dengan sorot mata tajam tersebut sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Begitupula ketika nanti dirinya harus bertemu dan bertatap langsung dengan Williams. Semua harus nampak alami dan profesional.
Akmal tak ingin adiknya tahu bahwa mereka berdua sempat menjalin silahturahmi sebelum bertemu. Jelas saja Akmal tak ingin adik nakalnya tersebut kembali kabur.
"Semangat sekali kakak." Alina bergelanyut manja di lengannya. Adik bungsunya tersebut nampak nampak semakin cantik.
"Heem, kakak ingin membuktikan kalau apa yang kakak pelajari selama ini bisa berguna."
"Bertemu kak Alis juga tentunya."
"Itu bonus sayang. Entah nanti kami bisa bertemu atau tidak, yang jelas kakak akan berusaha membawa kakak mu pulang."
Alina mengangguk, senyum manis tersungging di bibirnya.
*
__ADS_1
*
*
"Jadi kak Akmal akan pergi ke tempat Alisya berada?" Cindi berjingkrak senang ketika Akshan menceritakan tentang keberadaan sang adik. Gadis tersebut tentu sangat bahagia dengan ditemukannya sang sahabat.
"Tapi semua ini masih rahasia, kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya dia, hon."
"Paling tidak, kita sudah selangkah lebih dekat dengannya, kak."
"Setelah semuanya selesai dan Alisya kembali ke rumah. Kita urus urusan kita ya, aku bersungguh-sungguh denganmu hon. Aku harap kamu bisa bersabar menunggu waktu itu tiba."
Akshan mengeratkan pelukannya. Keduanya kini tengah berada di ruang tengah rumah Cindi. Beberapa waktu lalu lalu Akshan telah menemui kedua orang tua Cindi dan menyampaikan niatnya untuk bersama dengan Cindi. Namun ke duanya masih harus menunggu hingga Alisya ditemukan dan berhasil kembali. Beruntung, kedua orang tua Cindi yang memang mengenal dekat Alisya memaklumi semuanya dan menerima Akshan dengan tangan terbuka.
Apalagi, lelaki dengan jambang di rahangnya tersebut nampak begitu menyayangi sang putri. Terlihat dari perlakuan terhadap Cindi.
__ADS_1
*
*
*
Alexa berjalan tergesa, dirinya kembali terlambat bangun. Pagi tadi Williams telah mengingatkan nya untuk tak tidur lagi ketika lelaki tersebut berangkat ke rumah sakit. Hari ini gadis tersebut tak mengikuti Williams seperti biasanya.
Tugas kampus yang menumpuk membuatnya harus rela untuk tinggal di rumah tanpa melakukan aktivitas rutinnya membantu di rumah sakit seperti hari hari sebelumnya.
Namun karena semalam susah tidur. Alexa pada akhirnya tertidur dengan lelap setelah menyantap sarapannya. Alih alih menyelesaikan tugas kuliahnya, gadis tersebut malah terbangun ketika jam masuk sudah tinggal satu jam lagi. Alhasil Alexa harus buru buru bagun dan membersihkan dirinya.
Alexa dapat bernafas lega ketika dirinya sudah sampai ke dalam kelasnya. Belum adanya dosen membuatnya bisa sedikit tenang sambil mulai mengatur nafasnya yang memburu.
Disela sela dirinya mengatur nafas terselip senyum tipis di bibirnya. Alexa mengingat semua momen yang beberapa hari terakhir ini terjadi antara dirinya dan juga Williams. Nampak manis sehingga bibirnya tak ingin melepaskan senyuman disana.
__ADS_1
Perlakuan serta perhatian yang diberikan Williams padanya membuat hatinya menghangat. Alexa yang selama ini merindukan ke dua kakaknya rasanya perlahan mulai terbiasa dengan Williams. Lelaki tersebut mampu menjadi sosok pengganti mereka. Meski begitu, Alexa tetap tak bisa membohongi hatinya. Dia merindukan keluarganya.
"Libur semester nanti, aku akan menemanimu mengunjungi keluargamu disana. Aku pastikan apa yang kamu takutkan tak akan pernah terjadi. Meski semua itu terjadi nantinya, kamu tak perlu takut karena aku akan selalu berada disisimu." Ucapan Williams seakan menjadi pemacu semangat untuknya hingga bibirnya semakin melengkungkan senyuman.