I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 94


__ADS_3

Williams mematuk dirinya di depan cermin. Matanya tajam menatap pantulan wajahnya sendiri disana. Ucapan Bram benar-benar mempengaruhi pikirannya.


Sejak pulang dari galeri tadi dirinya tak lagi berniat ke rumah sakit. Williams memilih untuk pulang dan merenung. Entah mengapa kata kata Bram sangat memperngaruhi mood nya kali ini.


"Itu kan masih dugaanku saja. Benar atau tidaknya, ada baiknya kau tanyakan langsung pada Oma." Lanjut Bram sebelum dirinya keluar dari ruang pribadi sahabatnya tersebut.


"Jika yang dikatakan Bram itu benar. Bukankah itu sama saja jika lelaki yang dijuluki Om om tua oleh Alexa itu adalah aku. Apa aku memang setua itu?" Monolog nya pada diri sendiri.


Wajah Williams nampak muram kali ini. Moodnya benar-benar sedang buruk. Tak ada kegiatan yang dilakukannya, hanya berdiam dalam kamar dan merenung. Kata tua yang acap kali didengar dari mulut Bram selama ini tak pernah dia gubris dan selalu dianggapnya angin lalu. Namun ketika semua itu berhubungan dengan Alexa hatinya merasa sangat kalut. Sungguh Williams benar-benar tak mengerti dengan hatinya kini.

__ADS_1


*


*


*


Tepat jam 7 malam waktu setempat pesawat yang ditumpangi Akmal lepas landas. Pemuda itu berangkat dengan diantar oleh seluruh anggota keluarganya. Tuan Alisky bahkan banyak menitipkan pesan kepada putra keduanya tersebut. Pertama kali bagi mereka untuk tinggal berjauhan. Selama ini tak ada seorangpun dari keluarga mereka yang tinggal jauh sebelum kejadian kaburnya Alisya yang membuat syok semua orang.


Akmal mengulas senyum tipis. Membayangkan dirinya akan bertemu dengan sang adik yang selama setahun lebih tak dapat dia rengkuh membuat hatinya berbunga. Sejak kecil, selain Akshan, Akmal berjanji di pusara mendiang mamanya untuk selalu menjaga adik cantiknya tersebut.

__ADS_1


Dengan kepergian Alisya sebenarnya bukan hanya Tuan Alisky yang menderita dan merasa bersalah. Namun jauh di relung hati Akmal pun menyesali Ke-tidakpekaan dirinya sebagai seorang kakak. Membiarkan adiknya menanggung beban pikiran sendiri tanpa dia tahu.


Alisya yang selalu bermanja padanya dan juga Akshan mendadak menjadi sosok yang dewasa selama beberapa waktu sebelum kepergiannya. Sedangkan dia menganggap perubahan yang terjadi terhadap sang adik adalah wajar. Tanpa dirinya dan keluarganya ketahui jika itu adalah usaha Alisya melatih dirinya untuk lebih mandiri.


Akmal menghela nafas panjang. Antara Alisya dan juga Alina dirinya tak bisa memilih. Keduanya sama-sama adiknya. Namun mengingat janji yang pernah diucapkannya Akmal harus tega memilih. Berharap adik bungsunya tersebut paham.


Teringat kembali pembicaraan sehari sebelum keberangkatannya. Alina masuk ke dalam kamarnya dan memeluknya erat. Awalnya Akmal hanya mengira sang adik merasa tak rela dirinya tinggal.


"Kakak, Alin tahu. Alin berbeda dengan kalian, tapi Alin juga ingin merasakan disayang sama seperti kak Alis. Hanya kalian saudara yang Alin punya meski Alin berbeda."

__ADS_1


"Kamu bicara apa dek? kita semua saudara tak ada yang membedakan antara kamu dan juga Alisya. Kakak akan membawanya kembali, kita akan kembali berkumpul nanti."


Alina mengangguk dan kembali memeluk Akmal. Isak tangisnya lirih terdengar. Hingga gadis itu terlelap barulah Akmal melepaskan pelukannya. Membiarkan Alina tertidur di ranjangnya sementara dirinya beralih tidur di sofa. Semalaman Akmal tak bisa memejamkan matanya, kata kata Alina membuatnya berpikir keras tentang adik bungsunya tersebut. Hingga pagi menjelang barulah Akmal menyadari jika sang adik telah menemukan fakta bahwa mereka berbeda ibu.


__ADS_2