
Sungguh mimpi yang terasa sangat nyata bagi Alexa yang masih tak mempercayai semua ini. Bahkan ketika Williams menangkup wajahnya dan menyatukan kening mereka pun gadis tersebut seolah masih tak berpijak pada bumi.
Entah harus bahagia atau malah bersedih dengan apa yang terjadi padanya. Namun yang jelas, air mata bahagia mengalir membasahi pipinya dengan deras. Kedua ibu jari Will bergerak pelan menghapus air mata tersebut.
Terpaan hembusan nafas Will jelas terasa di pipinya membuat pipi yang kini nampak tirus tersebut bersemu merah. Will menatap dalam netra bulat dihadapannya tersebut dengan lekat.
Banyak kata yang ingin dia ungkapan namun bibirnya ternyata tak mampu bahkan untuk sekedar membuka suara.
"Om." Kembali suara Alexa terdengar pelan, membuat Williams tersenyum.
"Om disini. Ini Om Lexa, om rindu." Bibir Williams bergetar, sungguh rasa yang membuncah dalam dadanya terasa sangat dasyat hingga membuat semua sistem sarafnya seolah berhenti.
"Kamu terlihat kurus sekarang, sedikit jelek tapi aku suka."
Will berujar pelan, senyuman jahil jelas terlihat disana membuat suasana hati Alexa yang awalnya melow menjadi sebal. Gadis itu mencebikan bibirnya namun malah terlihat menggemaskan dimata Williams yang kembali merengkuh Alexa dalam dekapannya.
"Maafkan, om. Kamu mau kan memaafkan Om?"
__ADS_1
"Om sangat jahat tau nggak. Lexa bahkan tidak tahu, kesalahan apa yang Lexa lakukan hingga membuat Om marah besar dan mengacuhkan Lexa."
"Om tahu, maaf."
Lama mereka saling memeluk tanpa suara. Hanya detak jantung keduanya yang nampak saling bersahutan mengalunkan irama yang sama. Hingga suara perut Alexa membuat suasana romantis yang tercipta buyar seketika, dengan gelak tawa Williams yang membuat Alexa tertunduk malu.
Will menarik lembut jemari Alexa dan membawa gadis tersebut untuk duduk diantara meja dengan makanan yang sudah tersedia diatas meja tersebut.
"Hanya ada mie goreng dan telur dadar saja. Ini juga aku mengambil jatah para tentara itu tadi." Will menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Keduanya makan dengan tenang sambil sesekali saling menatap.
Arya yang reflek hendak keluar kala mendengar suara teriakan Alexa tadi terpaksa harus diseret masuk kembali ke dalam tenda.
"Aku harus menolongnya, pasti ada sesuatu yang salah hingga Alexa berteriak begitu." Kekehnya hingga membuat Jeff memijit pelipisnya pelan.
"Percayalah, tak akan terjadi apapun yang membahayakannya saat ini. Will sedang memberinya kejutan."
__ADS_1
"Tapi kenapa Alexa berteriak?"
"Tentu saja karena dia tidak tahu kehadiran Will disini. Bukankah itu kejutan untuknya? ayolah, jangan berpikir macam macam lagi. Jika kau kesana, kehadiranmu tak hanya mengejutkan nya tapi membuat rencana Will menjadi kacau. Kau bisa merusak semuanya."
Arya mengangguk pada akhirnya. Pemuda tersebut kembali ke tempat duduknya semula. Sementara Jeffry mengumpat dalam hati atas kelakuan Williams.
"Will, kau berhutang padaku. Kau harus membayarnya nanti." Gumamnya dalam hati.
Akan tetapi, pria yang tengah diumpatnya itu malah tengah asyik menikmati makan malamnya yang tertunda dengan penuh nikmat.
Hufft. Andai aku bisa lebih bersabar. Dia tak perlu mengalami hal ini. Gumamnya sambil terus menikmati mie nya dengan mata yang tak henti memandang ke arah Alexa yang berada di hadapannya.
*
*
*
__ADS_1
Tak ada yang lebih baik dari pada rasa sabar dan saling memahami dalam cinta. Meski nampak sederhana namun tentu semuanya sangatlah sulit dalam pencapaiannya.