I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 42


__ADS_3

Cidera.


Satu kata yang terus menerus menghantui hati dan pikiran kedua kakak beradik tersebut. Keduanya masih terdiam beberapa lama dengan pemikiran masing-masing. Dengan banyaknya kemungkinan membuat hati mereka kian ngilu.


Monica tak menjelaskan secara detail tentang apa yang terjadi pada Alexa. Dia yang tengah sibuk mempersiapkan diri mengikuti acara peragaan busana disuatu tempat berjanji akan menghubungi Akmal lain waktu.


Baik Akmal dan Akshan hanya mengetahui bahwa sang adik sedang melakukan masa pemulihan akibat cidera yang dialaminya. Di sebuah rumah sakit di Jakarta.


Dari pesan yang Monica tulis juga mengatakan jika sang adik terancam membayar denda kepada management nantinya. Meski kecelakaan terjadi pada waktu kerja, untuk kasus serius seperti Alexa yang tak kunjung hadir selama berbulan-bulan diangap mangkir apalagi jika sampai melebihi batas waktu yang telah disepakati.


Pihak management hanya memberikan waktu selama 6 bukan untuk Alexa menjalani masa pemulihan. Jika melebihi waktu tersebut Alexa diangap mengundurkan diri dan dikenakan denda sesuai dengan kesepakatan dalam perjanjian awal.

__ADS_1


Separah itulah cidera yang sedang dialami Alisya? Keduanya hanya bisa menunggu hingga Monica kembali menghubungi Akmal dan memberikan info selanjutnya.


*


*


*


Sementara itu di panti tepatnya di dalam kantor Williams. Alexa masih terisak dengan deraian air mata yang tak sanggup lagi ditahannya. Gadis cantik dengan mata bulat tersebut tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan nya dihadapan Williams.


Will hanya ingin membantu sebisa yang dia mampu. Sebagai seorang yang mempunyai kecerdasan diatas rata-rata tentu saja Williams sangat paham dengan apa yang tertera dalam surat perjanjian yang berada didalam map yang tadi dirinya serahkan kepada Alexa.

__ADS_1


" Qu'est-ce que je devrais faire maintenant?" ( Aku harus bagaimana sekarang?" Gumam Alexa pelan. Masih didalam dekapan Williams dirinya tak tahu harus melakukan apa setelah ini.


Kondisinya tak memungkinkan baginya untuk kembali bisa ber lenggang lenggok diatas Catwalk. Belum lagi cidera bahunya yang belum sembuh sempurna meski tak lagi ada rasa sakit disana.


" Calme-toi. Votre santé est plus importante à ce stade."( Tenangkan dirimu. Kesehatanmu lebih penting untuk saat ini) Will berbisik menenangkan Alexa hingga nafas teratur terdengar dari gadis yang masih memeluknya dengan erat.


Williams mengurai pelukannya perlahan. Ditatap nya wajah gadis yang tengah terlelap dalam dekapannya tersebut. Mata yang terpejam dengan bibir tipis, hidung yang mancung menjulang dan untaian rambut yang menempel di dahinya yang berkeringat membuat Williams terpaku sejenak.


Di sebuah kasur kecil yang rencananya akan digunakan sebagai kasur pemeriksaan pasien nanti jika panti sudah berfungsi normal kini telah terbaring seorang gadis yang tertidur dengan lelapnya. Bekas lelehan air mata di pipinya telah memudar karena Will telah membersihkan wajah itu dengan baik.


Terbungkus selimut berwarna putih nampak Alexa semakin nyaman dalam tidurnya. Sementara Williams, lelaki tersebut tengah sibuk dengan laptopnya dan terkadang berhenti sejenak guna melihat apakah ada pesan yang masuk dalam ponselnya atau tidak.

__ADS_1


Williams bahkan tak mengerti dengan perasaannya. Dirinya merasa nyaman ketika melihat Alexa tertidur dengan tenang. Berbeda dengan tadi ketika dirinya harus melihat bagaimana gadis itu menangis.


Williams tersenyum, senyum yang entah untuk mengartikan apa.


__ADS_2