I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 141


__ADS_3

Dahi Alexa berkerut, gadis tersebut hanya memperhatikan ponsel Williams yang bergetar diatas meja. Sedangkan yang empunya ponsel sedang terlelap begitu nyenyaknya sejak tiga puluh menit yang lalu.


Entah karena memang dirinya yang terlalu capek dan mengantuk. Atau karena pengaruh dari tempat yang dipakainya untuk tidur. Keduanya sedang berada di ruang tengah dengan Alisya yang duduk bersandar di sofa panjang dengan Williams yang tertidur diatas pangkuannya.


Perlahan-lahan Alisya mengelus rambut lelaki tampan tersebut hingga membuatnya semakin terlelap.


Alisya menyunggingkan senyumnya kala mengingat bagaimana tingkah mereka berdua beberapa saat yang lalu. Namun pipinya kembali merona mengingat pikiran pikiran yang hinggap diotaknya yang ternyata berbanding terbalik dengan apa yang Williams pikirkan.


mengingat kesungguhan dan ungkapan rasa tak ingin kehilangan yang Will utarakan. Hati Alisya menghangat dan tekatnya untuk datang ke negara ini menjadi lebih kuat. Apa yang Will utarakan sama persis dengan apa yang dirinya juga rasakan.


Ponsel Will kembali bergetar membuat fokus Alisya kembali teralihkan. Nama Albert nampak disana. Alisya kembali bergeming, dia bingung ingin melakukan apa. Membangunkan Williams rasanya dirinya tak tega mengingat ungkapan lelaki tersebut yang tak tidur semalaman karenanya. Namun jika Albert yang menghubungi nya, Alisya takut itu merupakan hal penting mengingat Albert lah yang Will percaya untuk memegang kendali di panti.


Pada akhirnya Alisya memberanikan diri mengangkat panggilan tersebut setelah beberapa kali mencoba membangunkan Williams namun lelaki tersebut seolah enggan untuk membuka matanya.

__ADS_1


"Hallo, Om Al. Ini Lexa." Sapanya pelan


Terasa pergerakan dari Williams yang mengubah posisinya yang semula terentang kini menghadap kesamping. Wajah tampannya tepat berada di depan perut Alisya membuat gadis tersebut sedikit tersentak kala merasakan pelukan Williams disana.


Sementara disebrang sana, Albert yang mendengar suara Alisya terbengong beberapa detik sebelum dirinya bisa menguasai diri kembali. Dahinya berkerut beberapa kali dengan pemikiran yang entahlah.


"Lexa, Will sedang bersamamu?"


Pertanyaan yang wajar sebenarnya, karena setahu Albert. Alisya masih berada di Belanda dan dia bingung sendiri ketika mendapati Alisya lah yang mengangkat panggilan darinya.


"Ah sedang tidur ya?" Dahi Albert semakin berkerut dalam. Senyum tersungging di bibir lelaki tersebut ketika pikiran kotor mulai hinggap di otaknya tentang sang sahabat.


"Sebenarnya tidak ada hal yang mendesak, hanya saja jika dirinya terbangun nanti tolong sampaikan jika aku mencarinya. Untuk sekarang biarkan saja dia beristirahat." Senyum tengil Albert kian kentara membuat Doni yang memang sedang bersamanya kini memicing curiga.

__ADS_1


"Baiklah, aku tutup telponnya. Sekali lagi terimakasih Lexa." Ucapnya tulus meski dengan senyum yang tersungging diujung bibirnya meski gadis disebrang tak mampu melihatnya.


"Baiklah, nanti saya sampaikan Om. Terimakasih."


Alisya kembali meletakkan ponsel Williams diatas meja. Ditatapnya wajah lelaki yang membuat hatinya selalu bergetar tersebut lekat. Meski hanya sebagian saja yang terlihat karena posisi Williams yang semakin membenamkan wajahnya ke perutnya yang lelaki tersebut peluk erat.


Alisya meringis pelan kala menyadari kedua kakinya sedang mengalami mati rasa. Terlalu lama menjadi tumpuan Williams membuatnya kesemutan. Alisya hanya bergerak pelan untuk mengubah posisi duduknya meski semua tak berpengaruh apa apa. Kakinya tetap sakit.


Sementara dokter tampan yang sedang menikmati waktunya tersebut hanya tersenyum tipis. Will sudah terbangun beberapa menit lalu ketika Alisya menepuk pipinya dan mengatakan jika Albert menghubungi nya. Namun Will enggan melewatkan momen yang belum tentu dapat dia rasakan lain kali ketika dalam keadaan sadar. Karena itu, Will tetap berpura-pura terlelap meski dirinya mendengar pembicaraan yang dilakukan Alisya dan Albert tadi.


*


*

__ADS_1


*


"Maafkan aku sayang. Aku tak ingin memaksamu untuk segera menerima pinanganku, meski aku sangat ingin. Aku hanya ingin kamu mendapatkan kenyamanan yang kamu cari. Meski aku harus berbuat curang begini. Aku sungguh sungguh mencintaimu Alisya." Gumamnya dalam hati.


__ADS_2