I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 78


__ADS_3

Setelah sedikit berdebat akhirnya Akshan pun memilih mengalah. Dia tak ingin gadis kecilnya kembali dengan mood yang tak baik baik saja. Baru beberapa waktu lalu dirinya berusaha keras meyakinkan gadis itu dan mau pulang bersamanya meski hanya beberapa meter lagi jarak yang tempuh untuk bisa sampai ke rumah keluarga Cindi.


Berulang kali mencoba membujuknya namun gadis kecilnya itu memiliki kekeras kepalahan yang sama seperti Alisya. Cindi bahkan menyakinkan Akshan jika dirinya akan baik baik saja dan tak akan takut meski di rumah besar tersebut nanti dirinya sendiri.


"Kamu yakin? sebaiknya menurut saja seperti yang mama kamu pesankan. Bukankah beliau sudah mengijinkan?" Mencoba sekali lagi ketika mereka sudah berada di depan pagar rumah Cindi.


"Nggak papa kak. Aku bisa kok, lagipula ini bukan pertama kalinya aku sendiri."


Hembusan nafas kasar terdengar. Akshan tak lagi membujuk dan membiarkan gadis kecilnya turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumahnya. Namun sebelum itu tentu saja Akshan memeluk dan mencium keningnya lembut. Ingin mengulang kembali apa yang tadi sempat dilakukannya di taman namun dirinya masih takut gadis itu marah kepadanya.

__ADS_1


Senyum tersungging di bibir manisnya kala mengingat hal itu. Rasanya tak percaya namun semua masih terasa manis hingga sekarang.


Tak berbeda jauh dengan keadaan Cindi yang baru saja masuk dan menutup pintunya. Setelah memastikan semuanya terkunci rapat dirinya segera berlari menuju kamarnya di lantai atas. Di telungkupkannya wajah ke dalam bantal. Jantungnya berdetak begitu cepat. Wajahnya memerah dan hatinya berdebar tak karuan. Rasanya bagai mimpi namun wajahnya kembali merona kala mengingat semua itu.


"Ahhh." Pekiknya pelan seraya menggigit bibir bawahnya.


Disentuhnnya bibir dengan jemarinya, masih terasa disana. Bagaimana tadi Akshan menciumnya lembut. Lelaki itu tak melepaskan sedetikpun hingga rasanya Cindi kesusahan bernafas.


Wajah imut itu kembali merona, Cindi berulang kali tersenyum dan merasa sangat bahagia. Akshan memeluknya erat, mencium seluruh bagian wajahnya dengan lembut dan menggenggam jemarinya hingga melepaskan kala dirinya sudah berada di depan pagar rumahnya.

__ADS_1


Akshan masih berada di tempatnya. Menatap lantai dua rumah Cindi yang lampunya masih menyala terang. Tepatnya di sebuah ruangan yang diyakininya sebagai kamar Cindi. Lelaki itu belum ingin beranjak dari sana. Samar terlihat bayangan gadis kecilnya sedang berjalan dalam kamar itu. Entah apa yang dilakukannya namun Akshan masih betah menatapnya disana,


Senyum kecil tersungging dibibir Akshan. Lelaki tersebut bahkan tak tahu apa sebenarnya yang terjadi padanya hingga cinta itu datang mengetuk hatinya. Apalagi gadis itu merupakan gadis kecil teman sang adik yang sudah lama dikenalnya dan bahkan selalu dipanggilnya gadis kecil. Tapi sekarang gadis kecil itu telah memenuhi relung hatinya.


Pemberontakan saat ditaman tadi tak hanya membuat Akshan takut kembali kehilangan namun dirinya juga merasakan lucu dan senang secara bersamaan.


Akshan takut, Cindi meninggalkannya dengan segala prasangka yang ada di benak gadis itu. Namun dirinya juga senang karena ternyata perasaannya tak bertepuk sebelah tangan. Namun lucu ketika melihat wajah imut itu memerah karena marah dengan bibir yang mengerucut dan mata yang membulat sempurna, hingga membuat Akshan tak lagi bisa menahan dirinya untuk meraup bibir yang menggemaskan di hadapannya.


Mata bulat tersebut menatapnya dengan terkejut namun sejurus kemudian rontahan kecil dilakukan. Akan terapi Akshan tak lagi mampu untuk menyudahinya.

__ADS_1


Senyum kembali terbit di bibir itu. Mendongak kembali menatap kamar yang ternyata lampunya sudah meredup. Tapi kali ini Akshan tak lagi mau mengambil resiko, dia memilih tetap disana mengawasi gadis kecilnya dalam mobil dan heningnya malam.


__ADS_2