
"Kau melamun lagi." Bram menepuk pundak sahabatnya. Keduanya sedang berada di kantor Will di sebuah rumah sakit.
"Kau merindukan mereka? pulanglah!! aku yakin Oma Feli juga sangat merindukanmu. Ini sudah 7 tahun berlalu."
Bram, putra pemilik rumah sakit tempat Will bekerja kini. Namun pemuda tampan dengan hobi melukis tersebut tak pernah berminat untuk menjadi kepala rumah sakit. Oleh karenanya, dia meminta Will untuk menggantikannya mengelolah rumah sakit tersebut. Tentu semuanya atas ijin sang mama.
Bram seorang anak tunggal. Kedua orang tuanya memiliki banyak usaha terutama sang mama yang merupakan seorang desainer dan juga pelukis. Namun Bram lebih tertarik dengan dunia lukis, seperti mamanya. Karena itulah yang membuat dirinya meminta sang mama untuk membiarkan Will yang mengelolah rumah sakit peninggalan sang papa.
"Pasti ujungnya Oma memintaku untuk menikah." Desah Will sangat berat.
"Bukankah itu wajar? Lihat umurmu!! kau bukan lagi remaja Will. Kau lihat? bahkan aku saja sudah memiliki Camelia disisiku bahkan sebentar lagi adiknya pun akan lahir."
__ADS_1
"Ckk, kau pikir gampang mencari wanita yang cocok. Aku tak seperti mu, banyak hal yang harus aku pikirkan sebelum melakukannya."
"Terlalu banyak berpikir tak akan memberimu solusi berarti, Will."
Will yang tak pernah dekat dengan gadis manapun itu hanya mendesah. Di umur yang hampir menginjak 30 tahun itu bakan dirinya tak mempunyai bayangan tentang wanita yang akan dia nikahi. Baginya, bekerja dan bekerja merupakan hal yang menarik dalam hidupnya. Membantu orang-orang yang membutuhkan kemampuannya adalah hal paling indah dalam hidup Will.
Sesuai dengan tekatnya dulu. Will mengabdikan dirinya sebagai dokter untuk membantu orang lain. Dia tak ingin kejadian yang menimpa kedua orang tuanya dialami oleh orang lain. Meninggal dunia karena kurang cepatnya penanganan. Kekurangan tenaga medis juga menjadi penyebab banyaknya korban yang tak tertangani dengan segera.
"Saat Cameli dewasa kau sudah pantas menjadi kakeknya Will. Dan aku tak ingin mempunyai menantu yang bahkan lebih jelek dariku nantinya." Bram mendengus seraya bangkit dari duduknya. Keduanya melangkah keluar ruangan dengan senyum Will yang berhasil membuat Bram berhenti meledeknya.
*
__ADS_1
*
*
"Ed, kau sudah menghubungi Will. Ulang tahun Oma sudah semakin dekat. Usahakan tahun ini dia bisa datang, kasihan Oma. Sepertinya dia merindukan anak itu."
"Nanti Ed coba bicara dengannya, pa. Papa tahu sendiri bagaimana Will. Semenjak jadi kepala rumah sakit dia semakin sibuk disana."
"Tapi papa senang, dia terlihat bahagia dengan kehidupannya saat ini. Kau tahu, sejak pertama melihatnya papa sudah melihat bagaimana sikap dan kerja kerasnya. Karena itulah papa memintamu untuk selalu bersikap baik padanya. Will bukan anak seperti yang paman dan para sepupumu katakan. Dia bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Dan sekarang semuanya terbukti, meski semua itu bukan miliknya tapi papa juga merasa bangga padanya. Dia mampu membuktikan dirinya." Papa Edwin tersenyum.
Lelaki berumur 40 tahun tersebut menepuk pelan pundak putranya. Edwin yang pada awalnya selalu minder dan tertutup perlahan menjadi anak yang terbuka, periang dan penuh percaya diri semenjak kedatangan Will di rumah Oma. Setiap hari, papa Edwin selalu mengajak Ed berkunjung ke rumah Oma dengan alasan agar Ed semakin dekat dengan Will. Oma mengijinkannya bahkan ke dua anak tersebut di sekolah di tempat yang sama pula. Sejak saat itu Will dan Edwin semakin dekat hingga mereka dewasa.
__ADS_1