
Jatuh Cinta!!!
Kata itu terus saja terngiang dibenak Williams. Lelaki tersebut bahkan terbengong lama ketika Bram menjelaskan bagaimana silsila dan juga rasa yang biasanya dirasa ketika semua itu datang menyapa.
Rasa sedih, gundah, gelisah, takut dan bahagia akan datang mengintip pada saat bersamaan. Dan semua itu akan bercampur aduk dalam hati. Tak hanya hati yang akan tak karuan merasakannya namun jantungpun akan berpacu lebih cepat dan cepat lagi saat rasa khawatir tentang orang yang hadir membawa semua rasa tersebut turut menyambangi.
Williams masih tak percaya akan semuanya. Dia yang memang tak pernah mengenal cinta merasa pusing dikepalanya. Ingin menolak namun apa yang dikatakan Bram benar adanya. Tapi bagaimana mungkin dirinya bisa merasakan rasanya jatuh cinta pada gadis belia seperti Alexa.
Bagaimana jika gadis itu menolak rasanya seperti gadis yang pernah di jodohkan oleh oma untuknya?
Segala pertanyaan yang tak mampu di jawabnya sendiri pun semakin membuat Williams frustasi. Sudah satu jam lamanya dirinya berada disini. Di balkon kamarnya, merenungkan segala hal terutama tentang cinta yang katanya sudah menyentuh hatinya.
"Jangan dipaksa!!. Biarkan semua berjalan sebagaimana kehendaknya. Ikuti saja alurnya, jika memang kalian berjodoh dia akan menjadi milikmu. Namun jika tidakpun, kamu bisa menikmati waktu ini bersamanya. Menyelami arti cinta dan menikmati kebersamaan kalian."
Ucapan Bram sedikit melegakan hatinya.
__ADS_1
Ditengah lamunannya terdengar suara dari arah dapur membuat Williams segera berdiri dan melangkah cepat keluar dari kamarnya.
Matanya melotot tajam ketika melihat Alexa sedang meringis dengan jari yang penuh darah sementara di sekitar kaki gadis tersebut berserakan kaca pecah.
"Lexa!!" Teriak Will yang langsung berhambur ke arah Alexa yang berjengkit kaget.
"Om, maaf." Cicitnya pelan sambil menunduk.
Will tak menanggapinya dan langsung mengangkat tubuh Alexa dan mendudukkan nya di kursi meja makan.
Jantung Williams kembali ber reaksi. Untuk beberapa detik Williams terdiam merasakan bagaimana dirinya. Lelaki tersebut segera bergerak ke arah kotak p3k meninggalkan Alexa yang terbengong dengan tingkah lelaki tampan tersebut.
Williams kembali dan segera membersihkan luka Alexa tanpa banyak bicara. Lelaki tersebut nampak serius dan tak sekalipun menatap kearah Alexa hanya fokus pada luka dan membalutnya dengan kain kasar yang selalu tersedia disana.
"Om."
__ADS_1
"Kenapa kamu ceroboh sekali, Lexa. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? bisa tidak kamu menjaga dirimu agar tak terluka." Intonasi suara Williams berubah sedikit tinggi membuat Alexa berjengkit kaget.
Lelaki itu tak pernah membentaknya. Alexa menunduk, dia menyadari kesalahannya karena telah memecahkan gelas milik Williams. Will menatap tajam kearah gadis yang sudah membuat perasaannya selalu bergejolak tak menentu tersebut dalam.
Direngkuhnya tubuh Alexa ke dalam pelukannya. Rasa takut dan khawatir itu sangat kentara. Will menyadari semuanya. Apa yang Bram katakan padanya dapat dia cerna dengan baik saat ini. Sahabatnya tersebut mengatakan hal yang benar dan pada akhirnya Williams menyadari perasaannya sendiri.
Pelukannya semakin mengerat kala dia menyadari bahwa gadis yang berada dalam dekapannya kini tengah terisak. Ditangkupnya wajah yang Alexa dan ditatapnya dalam. Wajah sembab dengan lelehan air mata tersebut membuat Williams gemas. Dikecupnya seluruh wajah Alexa lembut.
Entah siapa yang memulai namun pagutan mesra terjadi diantara keduanya hingga terlepas kala oksigen dalam ruangan dirasa sudah menipis. Wajah Alexa berubah merona, gadis itu menunduk dalam.
Jantung Williams kembali berdetak kencang namun lelaki tersebut berusaha untuk tetap tenang. Dibelainya wajah Alexa lembut.
"Jangan ceroboh lagi ya!! berjanjilah kamu akan menjaga dirimu sendiri sekecil apapun itu."
Alexa mengangguk, lengannya bergerak membalas pelukan erat Williams ketika lelaki tersebut kembali membawanya ke dalam pelukan.
__ADS_1
"***Hatiku tenang ketika bersamanya. Benarkah ini yang namanya cinta?" Williams memejamkan matanya. Meresapi segala rasa yang ada dalam hati, jiwa dan benaknya.
"Nyaman" satu rasa yang muncul dan membuatnya tersenyum***.