I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 160


__ADS_3

Tuan Alisky mengusap wajahnya kasar. Dirinya benar-benar tak pernah berniat untuk membuat sang menantu menangis seperti saat ini. Perkataan yang merupakan candaan dengan sang istri semata ternyata di dengar oleh Cindi. Rasa bersalah kembali menyergap dirinya.


"Ayah kenapa murung?" Deandra mendekat, mengelus pelan pundak sang suami yang tiba-tiba terdiam di samping kolam ikan.


"Tidak apa apa, ma. Hanya saja, ayah merasa tak berguna jadi orang tua. Ayah tidak bisa memahami dan peka terhadap apa yang dipikirkan oleh anak-anak ayah sendiri. Ayah merasa gagal jadi orang tua."


Deandra tersenyum, wanita lembut dengan jiwa keibuan tersebut duduk disebelah sang suami.


"Ayah tidak gagal kok. Buktinya anak anak menjadi sukses berkat didikan yang ayah berikan. Hanya saja, jaman yang memang sudah berubah ini membuat kita yang sudah tua sedikit ketinggalan jaman. Kita belum bisa mengimbangi apa yang ada dalam pikiran anak anak muda jaman sekarang. Tentu mereka mempunyai pandangan lain yang mungkin sedikit berbeda dengan apa yang kita pikirkan."


"Mungkin mama benar. Dan tak seharusnya ayah memaksakan kehendak pada mereka yang justru dapat menyakiti perasaan mereka."


"Tugas kita sekarang hanya melihat dan memberi nasehat jika anak anak kita mungkin membutuhkan pendapat dan masukan dari kita nantinya. Sudah!! ayah jangan murung lagi. Baru saja Alis memberi kabar jika rombongan mereka telah berangkat dari kediaman Oma Feli. Jadi, sekarang lebih baik ayah segera bersiap."

__ADS_1


Senyum tuan Alisky kembali tersenyum seraya menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke dalam kamar mereka, bersiap untuk menyambut kedatangan Oma Feli dan juga Williams.


*


*


*


"Ta, na?"


"Kita mau ke rumah tante Lexa. Prince senang tidak?"


"Nang." Bocah tampan yang mewarisi wajah sang papa tersebut bertepuk tangan riang membuat semua orang yang berada dalam mobil yang sama dengannya tersenyum.

__ADS_1


Sementara di mobil lain, si sulung juga melakukan hal yang sama. Bedanya, princess sering menanyakan kapan mereka sampai. Sepertinya, putri cantik Bram tersebut sedang di landa kegalauan.


Dia yang memaksa untuk ikut dengan mobil yang di tumpangi Williams karena takut di tinggal terpaksa harus berpisah dengan sang adik dan ke dua orang tuanya.


"Sebentar lagi juga sampai, princess kenapa? bosan ya?" Goda Edwin yang duduk di balik kemudi.


"Ndak, ih. Kan plincess sama Om tampan jadi ndak bosan." Centilnya membuat semua orang tergelak termasuk Williams sendiri yang saat ini sedang memangku bocah cantik dengan bandana kuning serasi dengan baju yang dipakainya.


"Jadi, papa Bram nggak tampan gitu?"


"Tampan. Cemua tampan tapi om dokter paling tampan karena milik Plincess seorang. Kalau papa udah punya mama tuh." Celotehnya lucu.


"Kan om dokter punya tante Lexa sebentar lagi, gimana tuh?" Lagi Edwin menyeletuk.

__ADS_1


"Tante kan cuma pinjam sebental. Nanti juga dikembalikan, kata mama kalau pinjem balang itu halus dikembalikan pada yang punya. Belalti tante nanti kembalikan om doktel sama plincess, ya." Camelia berujar sambil mengangguk anggukan kepalanya membuat semua orang kembali tergelak dengan tingkahnya yang menggemaskan itu.


Alisya yang gemas menciumi pipi bulat Camelia bertubi-tubi hingga membuat bocah cantik tersebut memberengut sebal dan menyembunyikan wajahnya di dada Williams. Tempat teraman untuknya bersembunyi.


__ADS_2