
Menjelang sore keduanya berniat untuk mampir ke kediaman Bram. Alexa sangat merindukan dia bocah kecil yang menggemaskan.
"Mereka sangat menggemaskan ya Hon. Rasanya pengen gigit itu pipi bulat mereka." Celotehnya dengan riang.
Will mengusap pelan pucuk kepala gadis yang sedang menampilkan senyum cerianya.
Didepan gerbang sebuah rumah mewah, Will membunyikan klaksonnya sebanyak 2 kali sebelum melongokkan kepalanya keluar jendela mobil. Seorang security segera membuka gerbang besar tersebut ketika mengetahui siapa yang datang, sambil membungkuk hormat.
Williams tersenyum dan melambaikan tangan sebagai ucapan terimakasih nya. Tak ada yang berubah, namun bangunan tersebut nampak semakin megah menurut Alexa.
Ditambah lagi suasana yang sangat kekeluargaan juga lingkungan yang asri sangat mendukung kediaman tersebut mendapat julukan kediaman ideal. Tak ada perbedaan antara penghuni rumah tersebut, mereka menyamaratakan semua orang meski pada kenyataannya tetaplah tak sama.
Bram dan Tiara memperlakukan para penghuni disana layaknya keluarga sendiri. Rata-rata mereka yang tinggal disana adalah orang-orang yang dulunya mendapat bantuan dari Bram atau orang-orangnya.
__ADS_1
"Rumah ini selalu nyaman ya, Hon. Membuat orang yang datang kesini selalu betah. Aku ingin rumah yang hangat seperti ini nanti." Alisya menatap Will dalam.
Mempunyai keluarga yang bahagia dan harmonis adalah impiannya sejak kecil. Dia yang kala itu tak mengerti banyak hal perlahan memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Terutama dengan kisah kehidupan sang bibi yang memilih hidup sendiri hingga saat ini.
Wanita paruh baya tersebut nampak kuat dan tegar. Meski begitu, baik Alisya maupun keluarganya yang lain sangat mengetahui bagaimana rapuhnya menjadi sang bibi. Penghianatan yang terjadi di depan matanya sendiri kala itu cukup membuatnya membenci kehidupan. Namun anehnya, justru dialah yang kekeh meminta sang adik menikahi Deandra yang kala itu bekerja sebagai baby sister untuk Alisya bayi.
"Sayang, kenapa melamun, ehm?" Will mengusap pipi Alisya lembut. Membuat yang empunya pipi menoleh.
"Tidak ada, Ayo kita masuk Hon. Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan kedua bocah menggemaskan itu."
Keduanya berjalan masuk dengan Alisya yang bergelanyut manja di lengan Williams. Senyum yang terukir di bibir keduanya menandakan kabahagiaan yang terrpancar dalam hati mereka. Membuat Bram yang kala itu berdiri di balkon kamarnya dilantai 2 tersenyum tipis menyaksikan kebahagiaan sahabat baiknya.
*
__ADS_1
*
*
"Si@lan, gara-gara cewek itu datang semua rencanaku tak bisa berjalan mulus. Harusnya Will sudah bisa ku dekati saat ini, tapi dia merusak semuanya. Jangankan bertemu, bahkan menghubunginya pun sangat susah. Sial sial!!" Clara mengumpat kesal. Wanita dengan perut buncitnya tersebut sejak pagi berusaha menghubungi Williams namun hingga sore hari. Dokter tampan tersebut tak mengangkat panggilannya, jangankan menelponnya kembali. Pesan basa basi pun tak masuk kedalam ponselnya hingga membuat Clara uring-uringan.
"Aku harus cari cara agar gadis si@lan itu bisa menjauh dari Williams. Aku harus segera menyingkirkannya!! Will hanya boleh jadi milikku dan berada dalam genggamanku."
Clara melangkah menyambar ponselnya dan menghubungi Aryo. Untuk melancarkan aksi mereka selanjutnya.
Sementara itu diruangan Albert. Lelaki yang selalu nampak tenang dan kalem tersebut membulatkan matanya melihat apa yang ditunjukkan oleh Doni padanya.
Doni yang duduk bersebelahan dengannya hanya tersenyum tipis. Tugas anak buahnya sangat memuaskan hingga tak membuat seorang Clara curiga. Tanpa wanita itu sadari, dalam kamarnya tersimpan beberapa kamera tersembunyi lengkap dengan perekam suaranya. Segala sesuatu yang wanita itu lakukan tentu terekam jelas disana, termasuk ketika wanita dengan perut buncitnya itu tak sengaja berganti pakaian bukan ditempatnya. Karena bagaimanapun, Doni melarang keras memasang kamera di toilet dan kamar tidur Clara. Hanya ada perekam suara yang terpasang disana sebagai antisipasi jika Clara melakukan kontak dengan komplotannya di dalam kamar.
__ADS_1