I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 30


__ADS_3

Pemandangan pantai di senja yang mulai terbenam memanjakan mata Alexa. Kedua matanya terasa panas dan mengembun. Sekuat tenaga ditahannya air mata yang seakan ingin keluar dan menyuarakan isi hatinya.


Kerinduannya kepada keluarganya sudah sangat besar. Namun dirinya belum ingin menunjukkan dirinya. Ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu meraih mimpi dan cita citanya. Bukan berniat menentang keinginan sang ayah, namun Alisya benar-benar ingin membuktikan bahwa dirinya memang mempunyai kemampuan itu.


Menjadi dokter juga akan di kejarnya. Namun nanti setelah dirinya berhasil meraih apa yang telah menjadi mimpinya sejak lama.


"Kau melamun Lexa?" Monica datang menghampiri gadis yang sedang duduk diatas sebuah batu di tepi pantai sanur. Pagelaran busana masih dilakukan dua hari mendatang. Mereka menggunakan waktu sebaik mungkin untuk berjalan jalan menikmati waktu yang tersisa.


"Hanya mengagumi keindahan ini, kak. Rasanya damai sekali bila memandang lautan lepas."


Monica tergelak. Wanita itu ikut duduk diatas bebatuan dan menatap ke tengah laut. Terbayang kenangan beberapa tahun lalu dimana dirinya dan sang tunangan sedang menikmati liburan berdua.

__ADS_1


Matanya memanas kala kejadian naas tersebut kembali berkelebat dalam ingatannya. Gulungan ombak yang datang menggulung membuatnya tersentak dan seketika mengubah kehidupannya. Monica mengusap wajahnya kasar.


"Terkadang, keindahan dan ketenangannya mengantarkan malapetaka yang tak terduga. Bahkan sakitnya tak pernah terelakkan."


Alexa menolehkan wajahnya menatap Monica yang masih menatap lepas ke tengah lautan sana. Meski dari samping Alexa dapat melihat ada kesedihan disana. Alexa menggenggam jemari Monica memberi kekuatan. Mereka memang semakin dekat beberapa waktu lalu. Alexa yang memang muda bergaul cepat memiliki banyak teman, namun bersama Monica yang lebih tua darinya Alexa merasakan kenyamanan. Menganggap Monica adalah kakaknya.


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hembusan angin dan pergerakan langit yang menampilkan pemandangan sunset membawa mereka berdua semakin larut dalam pikiran yang entah sampai kapan akan berakhir.


Williams tiba dikamar hotel yang akan menjadi tempatnya beristirahat selama beberapa hari di Bali. Setelah meletakkan kopernya Williams memilih untuk segera membersihkan dirinya. Perjalanan tak begitu panjang namun cukup membuat badannya lengket.


Tak memerlukan waktu lama. Dokter tampan dengan kacamata yang membingkai mata birunya tersebut sudah rapih dengan kaos warna putih dan celana hitam yang membalut tubuhnya. Nampak gagah dengan bau parfum yang menyegarkan indra penciumannya.

__ADS_1


Williams melangkah menuju restoran yang juga juga terdapat di hotel tersebut. Masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai dasar dimana restoran nya berada.


Pergi sendiri sudah sering dirinya lakukan. Namun untuk berada di Bali sendiri baru kali ini Williams alami. Biasanya bila berkunjung ke pulau dewata ini Williams bersama Bram, suta atau bahkan beberapa anak buah Bram seperti Sam dan Doni. Namun kali ini dirinya benar-benar sendiri karena mereka semua mempunyai kesibukan masing-masing.


Duduk di bangku yang berada di pojok ruangan dengan makanan yang terhidang dihadapannya membuat Williams menikmati makan malamnya dengan tenang. Dokter tampan yang masih betah sendiri diumurnya yang hampir menginjak 30 tahun dia bulan kedepan tersebut nampak tak peduli dengan sekitarnya. Perlahan tapi pasti makana yang terhidang tandas dan berpindah ke dalam perutnya yang nampak rata.


Sebagai seorang dokter tentu saja Williams sangat menjaga kesehatannya. Banyak mimpinya yang belum terwujud dan dirinya akan selalu menjaga diri. Ponsel berdering dengan menampilkan nama sang sahabat tertera disana membuat senyum terbit di bibir tipisnya.


Sudah bisa dipastikan bahwa telpon tersebut adalah sang princes yang merengek pada papanya agar mau menghubunginya. Dan benar saja, saat panggilan telah bersambung nampak di sana wajah bocah menggemaskan dengan senyum lebar di bibir mungilnya.


Keduanya bercerita namun lebih ke Williams yang menjadi pendengar balita cantik tersebut berceloteh segala hal yang dilakukannya hari ini. Nampak di belakang Camelia duduk Bram dan Tiara yang hanya bisa tersenyum melihat tingkah putri mereka. Williams tak pernah bosan ataupun marah. Kehadiran dan gangguan dari Camelia merupakan hiburan tersendiri baginya. Dan Williams selalu senang akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2