
Bahagia? tentu!!
Rasa itu membuncah dalam hati keduanya. Beruntung Will masih bisa mengendalikan dirinya. Hidup di negara yang menganut adat ketimuran membuat Williams sedikit mengerti dengan etika dan adap orang-orang yang tinggal disekelilingnya. Bukan ingin melupakan jati diri dia sebenarnya, namun lebih ke rasa menghormati sesama.
Tak ingin berbuat semakin jauh dia menyudahi ciumannya dan beralih mendekap erat tubuh Alisya seolah hendak meluapkan perasaan legah dalam hatinya. Gadis itu tak lagi pergi meninggalkannya. Terbukti, dia masih berdiri dan dapat dia rengkuh.
"Maaf, maafkan aku sayang. Aku terlampau bahagia melihatmu masih berada di sini. Maafkan aku hingga membuatmu terkejut." Will berujar lirih.
Alisya yang masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Williams mengernyitkan dahi, bingung. Dia benar-benar tak mengerti arah pembicaraan Will.
Bahagia untuk apa? bukannya dokter tampan itu sedang bersedih karena operasi yang dilakukannya kepada seorang pasien telah gagal? lalu bahagia karena apa? ci uman mereka kah?
Pipi Alisya kembali merona, gadis itu tak tahu lagi harus melakukan apa sekarang. Malu, hanya itu yang dia rasakan saat ini.
__ADS_1
Williams mengurai pelukannya, lelaki tersebut mengusap lembut pipi Alisya yang masih merona dengan mata gadis tersebut yang terpejam.
"Aku tadi membeli banyak camilan untukmu. Ada es krim juga." Williams bergerak menuju meja makan dimana 2 kantong belanjaan yang tadi dibawanya dia taruh.
Beruntung sekali saat dirinya hendak melangkah menuju kamar tadi dirinya masih menyempatkan diri untuk menyimpan es krim yang dibelinya dalam kulkas. Jika tidak, bisa dipastikan makanan manis dan lembut tersebut sudah meleleh sejak tadi.
Williams tahu gadisnya sedang malu atau mungkin sedang menahan kesal padanya karena telah berani menci umnya tanpa ijin. Oleh karenanya Will membuat pengalihan sebelum benar-benar meminta maaf atas kelancanganya. Tanpa dirinya sadari jika pikiran Alisya jauh lebih melenceng dari dugaannya.
Bagaimana tidak, Clara menginginkan sesuatu dengan berdali ngidam hanya untuk mewujudkan keinginannya. Meski orang hamil pada umumnya mengalami yang namanya ngidam, namun sedikit dari mereka yang mengalami hal tersebut dikala kandungannya sudah masuk waktu nya melahirkan. Hanya saja mereka enggan menimpali karena yakin wanita itu akan punya seribu cara untuk berkilah.
Seperti saat ini dirinya sedang meronta ronta karena menginginkan sebuah syal yang dikenakan oleh seorang wanita yang datang menjenguk sang nenek yang menetap di panti.
Sontak hal tersebut membuat heboh seluruh penghuni panti yang kebetulan sedang berkumpul dan saling bercengkrama. Istri Usman yang mengetahui hal tersebut segera bertindak dengan memanggil Albert untuk segera datang.
__ADS_1
Clara yang ngotot dengan acara ngidamnya terus memaksa untuk memiliki benda tersebut. Padahal incarannya tentu bukan syal yang sebenarnya, akan tetapi sebuah bros indah berbentuk bunga yang menempel disana.
"Ada apa?" Albert berjalan cepat dan mulai memisahkan kericuhan.
Penghuni yang kebanyakan pada orang tua tentu saling bersautan untuk berbicara membuat lelaki tersebut harus memijat pelipisnya pelan. Hingga butuh 30 menit untuknya bisa menenangkan mereka semua. Namun tentu tidak dengan Clara yang kembali merasa diatas angin setelah mengatakan bahwa dirinya akan melaporkan semuanya pada Williams. Karena baginya, Will telah menjamin apapun yang dirinya lakukan di panti ini.
*
*
*
"Huuft, Will wanita macam apa yang bawa kemari, sungguh aku tak sanggup lagi mengurusnya." Albert merogoh saku celananya dan mengirim pesan pada sang sahabat. Sudah cukup rasanya dirinya bersabar namun semakin hari Clara semakin menjadi. Jika dibiarkan maka nama baik panti akan tercemar, terlebih nama baik Williams yang akan menjadi taruhannya.
__ADS_1