
Akshan melajukan mobilnya dengan perasaan yang tak karuan. Hatinya benar-benar gelisah apalagi membaca pesan yang tertulis di ponsel Cindi. Dalam pesannya, mama Cindi mengatakan bahwa saat ini dirinya dan sang suami mungkin sedang dalam perjalanan ke luar kota. Mereka terpaksa pergi mendadak karena baru mendapatkan telfon penting tentang perusahaan mereka di sana. Mama Cindi juga menyarankan agar anak gadisnya tersebut menginap dulu di rumah Alisya mengingat dirumahnya tak ada siapapun.
Akshan kembali memfokuskan pikirannya. Matanya sibuk melihat sekeliling guna mencari sosok gadis yang membuatnya takut saat ini. Akshan takut, dia sangat takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Dia yang tahu apa alasan gadis itu menangis hanya bisa menduga-duga. Setelah tadi Cindi mengatakan bahwa dirinya tak akan lagi mengganggu Akshan harusnya lelaki itu merasa senang karena tak perlu lagi tersiksa dengan perasannya. Namun ternyata yang dia alami malah sebaliknya, Akshan merasakan kehilangan dan sakit dalam hatinya.
Di sebuah lampu merah mobil berhenti. Aksan kembali mengedarkan pandangannya. Disaat itulah matanya menangkap sosok yang sedang dicarinya. Sosok itu sedang terduduk di sebuah bangku yang terdapat di sebuah taman dengan memandang kesegala arah.
Akshan ingin segera melompat namun sayang. Posisinya saat ini sedang tak memungkinkan baginya melakukan itu. Butuh satu putaran lagi dirinya baru bisa sampai di tempat itu. Dengan tergesa Akshan menginjak pedal gasnya begitu lampu hijau telah menyala.
"Tolong tetaplah disana sampai aku datang." Gumannya pelan sambil memutar setirnya.
__ADS_1
Namun situasi benar-benar tak mendukung untuk Akshan saat ini. Karena lagi dan lagi dirinya harus terjebak oleh lampu merah yang kembali menyala. Masih sekitar 300 meter lagi jaraknya dengan taman tadi. Namun di lampu merah terakhir ini Akshan tak lagi bisa melihat ke arah taman karena sudah terhalang oleh bangunan yang berdiri kokoh disisi sisi jalan.
"Ayolah." Sentak Akshan gusar.
Lampu terkesan lambat berganti. Dirinya hanya takut Cindi berubah pikiran dan kembali bergerak yang pasti membuatnya akan kembali kehilangan jejak.
"Tunggu aku, ku mohon." Gumamnya sambil melajukan mobilnya sedikit cepat tak peduli dengan suara klakson pengemudi lain yang memprotes tindakannya. Akshan mengacuhkannya dan terus menginjak gasnya agar cepat sampai.
Namun hatinya harus kembali teriris ketika tatapan matanya tak lagi menangkap keberadaan gadis itu. Akshan berhenti, dengan nafas yang masih memburu dirinya mengedarkan pandangan dan mencoba untuk menormalkan kembali nafasnya.
__ADS_1
"Astaga, kau dimana?" Gumamnya frustasi.
Matanya memerah dan perasaan takut kembali menyerapnya. Akshan tak mampu lagi berpikir, air matanya menetes begitu saja dengan rasa yang begitu menyesakkan dadanya.
Di balik matanya yang berembun dan sedikit basah. Pandangannya tertuju pada sosok yang tengah berjalan tak jauh dari tempatnya. Sosok mungil yang membuatnya begitu frustasi malam ini. Sosok yang selalu datang mengaduk aduk hatinya. Membuatnya bahagia namun juga terluka pada waktu yang sama. Membuat hatinya berharap namun juga meragukannya.
Akshan tahu bahwa dirinya telah kalah. Dirinya tak bisa menolak ataupun melawan perasaannya. Dia benar-benar telah jatuh cinta pada gadis itu. Gadis periang yang banyak bicara, gadis yang sering mengganggunya namun sekaligus membuatnya merindu sepanjang waktu. Gadis belia yang merupakan sahabat dadi adiknya sendiri.
Akshan tak ingin kehilangan. Lelaki dengan sorot mata tajam tersebut segera beranjak. Nafas yang tadinya terengah-engah mendadak pulih seperti sediakala. Akshan melangkah lebar dan segera menarik lengan gadis itu untuk didekapnya dengan erat. Dia berjanji setelah ini tak akan dilepaskannya gadis itu apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Ahhhh." Teriak Cindi ketika lengannya ditarik dan didekap secara tiba-tiba.
Dia yang tak sigap tentu saja segera terjatuh pada dekapan dibelakangnya tersebut. Namun sedetik kemudian gadis itu tersadar dan mulai berusaha memberontak. Namun gerakannya langsung terhenti ketika mencium bau parfum yang sangat dikenalnya. Gadis itu terdiam dan menjadi kaku apalagi merasakan deru nafas hangat yang menyentuh tengkuknya.