
Akshan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sambil memutar setir pandangannya menengok kiri dan kanan. Hatinya cemas sekaligus gelisah. Berulang kali menarik nafas panjang untuk menormalkan detak jantungnya yang menggila.
Bukan hanya alasan gadis itu ternyata tak membawa mobil. Namun ponsel yang tertinggal ditambah dengan ucapan mamanya yang mengatakan bahwa kedua mata Cindi merah seperti habis menangis.
Diusap wajahnya dengan kasar. Entah mengapa gadis itu selalu bisa menghancurkan pertahanannya selama ini. Sekuat tenaga Akshan berusaha untuk mengubur perasaannya namun dengan mudahnya gadis itu kembali merobohkan dinding yang sengaja dia bangun dengan susah payah itu.
Akshan kembali mengedarkan pandangannya, menyusuri jalan yang mulai terlihat sepi karena jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Hatinya semakin lama semakin gelisah, takut sesuatu terjadi kepada gadis itu.
Suara ponsel terdengar dari balik jaket yang dipakainya. Akshan memelankan laju mobilnya dan mengambil ponsel milik Cindi yang kembali berdering. Namun nyalinya menciut saat melihat nama yang tertera disana. "Mommy"
"Dia dimana?" Akshan menyimpan ponsel tersebut di dasbor mobil dan mengabaikan bunyinya. Pikirannya semakin kalut saat ini, dengan membaca pesan sekilas yang terlihat dari layar ponsel yang masih menyala itu dapat dipastikan bahwa Cindi belum kembali ke rumahnya hingga saat ini.
__ADS_1
*
*
*
Di sebuah taman tak jauh deri persimpangan yang hanya berjarak kurang lebih 800 meter lagi dari rumahnya Cindi menghentikan langkahnya. Sudah hampir satu jam lamanya dirinya berjalan dari rumah keluarga Alisky. Jarak rumah mereka tak begitu jauh sebenarnya, namun jalan yang dilalui harus berputar arah terlebih dahulu jika menggunakan kendaraaan membuat perjalanan yang harusnya hanya ditempuh dengan waktu 20 menit saja bisa mencapai satu jam setengah.
Tempat tersebut masih terlihat ramai dengan pengunjung yang berlalu lalang membuat Cindi tak merasa khawatir. Meski hatinya semakin miris melihat banyaknya pasangan yang melintas disekitarnya.
Banyak hal yang bersarang di benaknya dan itu membuat Cindi mencibir dirinya sendiri. Jatuh cinta seringkali membuatnya sakit hati dengan penghianatan membuat Cindi bertekat untuk tak lagi mengenal Cinta. Namun pertemuannya dengan Akshan kembali membuat hatinya bergetar.
__ADS_1
Dengan penuh percaya diri Cindi ingin memperjuangkan cintanya kali ini. Namun ternyata dirinya harus kembali menelan pil pahit. Kenyataan bahwa lelaki tersebut telah memiliki kekasih membuatnya harus kembali menelan rasa kecewa.
Air matanya kembali menetes. Cindi menghapusnya dengan punggung tangannya. Menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan kemudian mencoba tersenyum untuk menguatkan dirinya sendiri.
Menjadi anak tunggal dalam keluarga yang super sibuk membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Teman terdekat dan satu satunya yang dimiliki hanya Alisya. Tak ada yang tahu bagaimana rapuhnya gadis itu selain Alisya.
Cindi berdiri dan kembali melangkahkan kakinya. Gedung tinggi yang berada tak jauh dari rumahnya telah nampak di depan sana. Dengan mencoba tersenyum untuk menyembunyikan rasa hatinya gadis itu berjalan.
Baru beberapa langkah gadis itu berjalan kini langkahnya kembali terhenti karena cekalan pada lengannya. Belum hilang rasa terkejutnya Cindi kembali dibuat lebih terkejut dengan tarikan yang membawa tubuhnya limbung kebelakang. Keseimbangan tubuhnya tak mampu menahan gerakan yang begitu cepat dan tanpa persiapan.
"Aaahhh."
__ADS_1