
Will memejamkan matanya sejenak, menyandarkan tubuh tinggi tegapnya ke dinding. Berusaha berpikir kembali tentang tujuannya datang kesini. Menemukan dan membawa kembali Alexa adalah tujuan utamanya datang meski dirinya juga tak memungkiri jika jiwanya merasa terpanggil untuk tetap membantu di negara ini.
Kembali dirinya menoleh, ke tempat dimana Alexa berada. Gadis itu masih disana, menatap langit yang nampak gelap dengan sesekali terdengar suara letusan senjata tajam nun jauh disana.
"Sebaiknya kau istirahat, jangan pikirkan apapun."
Arya datang entah dari mana, pemuda tersebut sepertinya habis menelfon seseorang.
"Dirimu sendiri belum istirahat."
"Aku habis menelfon nya. Kita tak tahu bagaimana nasib kita kedepannya. Karena itu aku berusaha untuk menikmati waktu yang ada. Mumpung disini masih bisa melakukan komunikasi, aku akan memanfaatkan semuanya. Paling tidak, saat aku pergi nanti sudah tak ada lagi penyesalan. Aku juga bisa membawa kenangan bersamanya dengan tenang."
"Kenapa kau berpikir begitu? apa kau tak ingin pulang?"
"Seperti yang katakan tadi. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Aku ingin kembali bertemu dengannya, tapi aku juga tak pernah menyesali kepergianku ini. Ini adalah perasaan yang aku cari selama ini. Perasaan bangga pada diri sendiri karena bisa mewujudkan apa yang aku inginkan. Aku ingin hidupku berguna bagi orang lain."
"Jika kau merindukannya, telfon dia. Jangan sampai kau menyesalinya nanti." Arya kembali bangkit dan berjalan masuk ke dalam salah satu ruang yang dipakai untuk sekedar beristirahat bagi mereka.
*
*
__ADS_1
*
Tepat jam 12 malam terdengar derap langkah beberapa orang menyusuri lorong rumah sakit. Penampilan rumah sakit itu sendiri sudah terlihat mencekam. Ada beberapa bagian bangunan yang telah roboh terkena serangan. Tak terhitung lagi banyaknya korban yang terdapat di pemakanan massal yang dilakukan setiap harinya di sekitar rumah sakit.
Karena telah dinyatakan sebagai salah satu tempat yang tak lagi aman. Maka tim evakuasi bergerak cepat untuk memindahkan mereka ke camp pengungsian yang lain.
Hanya tersisa ratusan orang saja yang masih bertahan disana. Evakuasi dilakukan sejak sore hari hingga saat ini.
"Dokter jhon?"
Williams menoleh mendengar namanya disebut. Nampak seorang pemuda yang lebih muda darinya berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
"Ya, saya." Meski ragu, Will tetap menjawabnya.
*
*
*
Pesawat tempur yang mereka tumpangi terbang rendah. Sepertinya sebentar lagi mereka akan mendarat di suatu tempat, entah mereka tak tahu akan dievakuasi kemana setelah ini. Berbeda dengan yang lainnya.
__ADS_1
Sempat merasa aneh namun tak ada yang berani bertanya. Para pengungsi lainnya kebanyakan melalui jalan darat atau paling tidak menggunakan helikopter. Namun kloter terakhir yang kemungkinan besar hanya tinggal 50 orang tersebut malah diangkut menggunakan pesawat tempur.
Williams yang berada di antara para tentara tak habis pikir dengan apa yang dilakukan sahabatnya tersebut. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Beberapa saat lalu terjadi perdebatan antara pemuda dengan pakaian khusus yang tak lain adalah Jeffry dengan Williams.
Awalnya Will menolak untuk dievakuasi mengingat dirinya belum bisa membawa Alexa untuk pulang bersamanya. Akan tetapi setelah melihat gadis tersebut berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Jeff barulah dokter tampan tersebut mengikutinya.
"Ckck, dia terlalu berlebihan." Gumamnya yang hanya disambut kekehan pelan oleh Jeff yang duduk didekatnya.
"Kau tahu bagaimana dia kan?"
"Tentu aku tahu. Tapi aku tak menyangkah dia akan segila ini sampai menghubungimu dan memintamu hanya untuk menjemputku."
Jeffry adalah keponakan dari Andrew, ayah angkat Bram yang kebetulan adalah ayah kandung dari Nara. Yang artinya lelaki tersebut adalah ayah tiri dari Tiara istri Bram. Dia dan Mark merupakan anggota khusus tim bayangan dari perdamaian dunia.
"Bukankah kita memang kelompok orang gila." Jeffry tergelak dengan ucapannya sendiri.
Tentu dirinya sangat tahu siapa Bram sebenarnya. Meski lelaki tersebut tak lagi aktif namun pengaruhnya masih sangat besar.
Sementara itu di sisi lain nampak Alexa dan Arya saling menatap seolah bertanya mereka sebenarnya akan di bawa kemana.
__ADS_1
Mendadak perasaan Alexa kalut, dirinya belum sempat menghubungi keluarganya maupun Williams.
"Apa mereka akan menculik kami dan menjadikan kami tawanan nantinya?" lirihnya sambil bergidik ngeri.