
Dua hari waktu yang Williams habiskan demi menyelesaikan segala urusannya sebelum pergi menemui Oma Feli. Berawal dari kunjungannya ke makam ke dua orang tuanya. Will lalu mendatangi daerah tempat tinggalnya dahulu. Mencoba mengingat kenangan masa kecilnya yang tak banyak mengisahkan hal hal yang manis untuknya.
Will mencari sang sahabat dan juga tetangganya yang dulu pernah dirinya merusakkan sepeda putranya. Bukannya Will tak pernah mengingat tentang janji sang ayah yang akan mengganti sepeda tersebut sebelum kejadian naas itu terjadi. Namun setiap kali Will kembali dengan pengawasan Oma maka dirinya tak akan bebas melakukan apa yang dia inginkan.
Williams ingin menunaikan janji sang ayah meski ini kesannya sudah terlambat. Namun tak apa dari pada dirinya masih merasa tak nyaman karena merasa berhutang.
Williams menyusuri semua tempat yang ternyata sudah mengalami banyak perubahan tersebut. Bahkan taman kecil yang dahulu menjadi tempat dirinya dan teman temannya bermain telah di sulap menjadi sebuah cafe dengan banyaknya tanaman bunga di sekitarnya.
Williams tersenyum melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain kejar kejaran di sepanjang jalan setelah yang dilaluinya. Teringat bagaimana serunya kala waktu itu dia tertawa dan berlari ke sana kemari dengan para sahabatnya. Tiba-tiba rasa rindu itu menyegap hatinya. Namun Will tetap melangkah menuju tempat yang memang sedang dicarinya.
Seorang wanita tua yang nampak sudah memutih di semua rambutnya. Dengan kulit yang sudah terdapat banyak kerutan karena termakan usia. Di depan sebuah rumah dua lantai dengan chat berwarna biru. Wanita tua tersebut duduk menikmati hembusan angin yang membuatnya merasa sangat bahagia. Hal itu terlihat dari senyum yang tercetak di bibirnya.
"Nyonya Carlotta." Williams menyapa penuh kesopanan. Pemuda yang sudah tak laki bisa dikatakan muda tersebut mendekat seraya menempatkan dirinya di hadapan wanita yang di panggilnya Carlotta tersebut.
__ADS_1
Williams tersenyum, menundukkan wajahnya kemudian berjongkok. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita yang merupakan ibu dari sahabatnya tersebut ketika memarahinya dan juga ketika mencaci ibu. Namun bukan itu yang Will inginkan kali ini.
"Nyonya masih ingat saya? ini Will nyonya teman kecil Albert." Williams bersuara lagi dan tersenyum. Namun wanita dihadapannya hanya menatap tanpa suara.
"Ma."
Sebuah suara terdengar dari dalam rumah. Will menoleh ketika suara langkah kaki mulai terdengar.
"Ma. Masuk yuk hari sudah... eh ada tamu." Seorang lelaki seumuran dengan Will tersenyum ke arah Williams.
Williams yang menyaksikan semua itu menjadi terenyuh. Dia berkhayal seandainya sang mama masih hidup maka mungkin dirinya pun akan melakukan hal demikian. Will segera menepis segala khayalannya.
"Perkenalkan saya anak dari nyonya Carlotta. Maaf sebelumnya, karena mama tidak lagi bisa bicara mungkin beliau telah menyinggung anda tadi."
__ADS_1
Williams kembali menatap wajah nyonya Carlotta. Wanita yang gemar berkata-kata pedas tersebut juga tengah menatapnya dengan dahi yang berkerut. Takdir terkadang memang kejam, dan Will tak lagi merasa iri untuk itu.
"Al, kau melupakanku?" Williams beralih menatap Albert.
"Anda mengenalku?" Albert bertanya dengan bingung.
"Tentu. Dulu kita adalah sahabat, tapi mungkin kau telah melupakan semuanya dengan banyaknya kejadian yang telah terjadi." Will tersenyum kepada sang sahabat yang menatapnya lekat.
*
*
*
__ADS_1
To be continue