I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 164


__ADS_3

Keadaan di kediaman keluarga Smith tak jauh beda. Keluarga kecil yang sedang berbahagia tersebut nampak sibuk dengan segala persiapan meski tak banyak yang harus mereka lakukan mengingat semua hal telah diambil alih oleh pihak Williams selalu mempelai laki-laki.


Kesibukan pagi itu bertambah ricuh karena teriakan Deandra yang berasal dari lantai dua rumahnya. Wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda itu semakin panik setelah berulang kali menepuk menantu pertamanya pelan.


Dia yang pada awalnya berniat untuk mengajak sang menantu menghias ruang tengah mendadak histeris ketika kakinya baru menapak di ujung tangga. Tubuh Cindi sudah tergeletak di sana entah sejak kapan.


Suara Deandra membuat semua orang yang berada di lantai bawah segera berhambur ke atas dimana sang nyonya kini bersimpuh sambil memeluk erat kepala Cindi yang masih belum sadarkan diri. Akshan yang melihat tubuh sang istri tergolek segera mendekat dan mencoba menyadarkan nya. Namun hingga beberapa menit berlalu, Cindi tak merespon sedikitpun hingga membuat mereka semakin panik.


"Kak, mobil nya tak perlu dimasukan. Tunggu disana." Teriak Alina pada Akmal yang baru saja masuk sehabis dari toko bunga.


"Ada apa?" tanyanya bingung.


"Ayo keluarin bunganya cepat!!" Tak menghiraukan pertanyaan sang kakak. Gadis belia tersebut segera meminta beberapa orang untuk membantunya mengeluarkan bunga bunga dari dalam mobil.


Sementara Akshan menuruni tangga dengan cepat sambil menggendong sang istri diikuti oleh Deandra di belakangnya.

__ADS_1


"Buka pintunya!!" Teriak lelaki dengan jambang di rahangnya tersebut sedikit keras.


Dengan sigap, Akmal segera membuka pintu dan duduk di balik kemudi. Meski tak tahu apa yang terjadi, namun Akmal tak akan membiarkan sang kakak yang nampak kacau tersebut menyetir sendiri. Alina dan Deandra pun segera ikut masuk.


Mobil melaju sedikit kencang. Tak ada yang bersuara, mereka hanya berharap tak terjadi apa apa kepada Cindi. Sementara Akshan memeluk erat tubuh lemas sang istri sembari menciuminya lembut. Dengan lirih di panggilnya nama sang istri berulang kali.


"Sayang, sadarlah!! jangan membuatku takut begini." Lirih lelaki tersebut.


*


*


*


Alisya segera berbalik dan kembali menaiki mobilnya menuju rumah sakit. Diraihnya ponsel dalam tasnya dan menghubungi Will.

__ADS_1


"Hallo, sayang."


"Hon, bisa ke rumah sakit segera. Kami semua sedang ke sana. Maksudku, aku sedang dalam perjalanan ke sana. Sedang yang lain mungkin sudah disana."


"Ada apa? baik baik aku akan segera ke sana. Kamu yang tenang ya, tetap fokus dan berhati-hati sayang. Aku segera datang."


Alisya mengangguk meski dirinya sadar jika sang kekasih tak akan bisa melihatnya. Hatinya berdebar dengan kencang. Pagi tadi sebelum dirinya pergi ke resto bersama sang ayah, kakak iparnya tersebut memang terlihat sedikit pucat. Namun wanita yang merupakan sahabat karibnya tersebut hanya mengatakan jika dia kurang beristirahat. Candi juga mengeluh pusing dan memilih untuk kembali tidur saja.


"Astaga kenapa macet juga, tak tahukah jika aku sedang terburu-buru." Kesalnya.


Sementara itu dirumah sakit, semua orang duduk dengan gelisah di kursi tunggu. Hanya Akshan yang diijinkan untuk masuk menemani sang istri.


"Ma, sudah memberi kabar pada ayah?"


Deandra menggeleng, wanita itu masih terlihat syok. Akmal yang paham pun akhirnya mengangguk dan memilih sedikit menjauh untuk bisa menghubungi sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2